PTM Sudah Berjalan, Ini Protokol Kesehatan yang Harus Diperhatikan

PTM sudah berlangsung, perhatikan protokol kesehatan yang harus dilakukan di sekolah

15 Oktober 2021

PTM Sudah Berjalan, Ini Protokol Kesehatan Harus Diperhatikan
Unsplash/Ed Us

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM) sudah mulai dilakukan dari tanggal 30 Agustus 2021. Untuk beberapa pihak, kebijakan ini tentu saja menjadi tantangan, terutama bagi orangtua dan juga guru, mengingat virus Covid-19 masih terus berkembang di Indonesia.

Dalam rangka mengedukasi pihak-pihak mana saja yang ikut bertanggung jawab dalam menjalankan protokol kesehatan serta apa saja yang dilakukan selama dilaksanakannya PTM, Indonesia Hygiene mengadakan forum ke-8 secara daring pada tanggal 13 Oktober 2021 dengan tema “Sekolah dan Anak Taat Protokol Kesehatan: Kunci Keamanan Pembelajaran Tatap Muka”

Webinar yang dihadiri para guru di beberapa wilayah Indonesia serta para pembicara yang luar biasa ini dengan lengkap menjelaskan alasan PTM dilakukan hingga pentingnya edukasi para orangtua untuk mengenalkan pada anak bahayanya virus Covid-19, dan bagaimana peran guru serta sekolah dalam menjalankan protokol kesehatan selama kegiatan di sekolah 

Berikut Popmama.com jabarkan apa saja standar protokol kesehatan yang harus diperhatikan selama PTM berlangsung. 

Editors' Picks

1. Adanya satuan tugas (Satgas) Covid-19 di sekolah

1. Ada satuan tugas (Satgas) Covid-19 sekolah
Unsplash/Jakayla Toney

Bayu Satria Wiratama PhD, Pakar Epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada selaku pembicara pada Indonesia Hygiene Forum ke-8 menyampaikan bahwa sejak awal tahun 2021 sudah mulai muncul adanya klaster Covid-19 di sekolah, namun belum ada penyelidikan secara detail mengenai penyebab terjadinya klaster penularan.

Untuk itu diperlukan adanya Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 yang bisa membantu untuk keamanan lingkungan sekolah selama PTM. Adapun tugas dari Satgas sebagai berikut:

  • Membuat protokol tatalaksana jika ada kasus.
  • Membangun jejaring komunikasi dengan Puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat.
  • Menyiapkan ruangan UKS khusus infeksi. Ruangan ini berbeda dari ruangan UKS biasanya, supaya anak yang terinfeksi tidak berada di dalam ruangan yang sama dengan anak lainnya.
  • Melatih dan membentuk tim skrinning di sekolah.
  • Memantau kondisi harian setiap warga sekolah.

2. Kebersihan fasilitas kesehatan yang harus diperhatikan

2. Kebersihan fasilitas kesehatan harus diperhatikan
Pexels/Agung Pandit Wiguna

Selama PTM berlangsung, edukasi dari orangtua untuk anak mengenai protokol kesehatan juga penting. Di samping itu, peran guru di sekolah selain memantau para murid selama proses kegiatan belajar-mengajar, tampaknya juga harus bekerjasama dengan pihak sekolah dalam menjaga kebersihan fasilitas yang sering digunakan oleh para murid.

Tidak hanya itu sekolah harus secara sadar menyediakan keperluan yang diperlukan oleh para murid untuk menjamin kesehatan selama proses belajar dan kegiatan lainnya. 

Salah satu pembicara pada Hygiene Forum ke-8 yaitu Kannan Nadar selaku Chief of Water, Sanitation & Hygiene (WASH) UNICEF Indonesia menyampaikan, ada hal-hal yang sebaiknya sudah disediakan atau sudah dilakukan sebelum PTM berlangsung. Beberapa yang harus diperhatikan pihak sekolah, yaitu sebagai berikut:

  • Meningkatkan kebersihan toilet. Menyediakan sabun cuci tangan dan air yang mengalir di dalam toilet.
  • Kesiapan menerapkan wajib pakai masker untuk semua yang berada di sekolah.
  • Pihak sekolah harus memiliki thermo-gun untuk skrinning ataupun keperluan lainnya 
  • Adanya persetujuan dari kedua belah pihak, yaitu orangtua dan pihak sekolah agar ada transparansi mengenai keadaan sekolah. 

3. Akses informasi PTM seluas-luasnya

3. Akses informasi PTM seluas-luasnya
Unsplash/Visual Karsa

Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd selaku Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek RI menyampaikan dalam presentasinya bahwa pelaksanaan PTM dilakukan karena Indonesia mengalami 0,04 - 0,47 persen ketertinggalan dalam pencapaian belajar.

hanya itu, analisa dari Bank Dunia menyebutkan bahkan Indonesia mengalami 0,8 - 1,3 persen learning loss akibat putus sekolah karena adanya cyber bullying selama belajar jarak jauh. 

Terjadi kesenjangan antara murid di kota dan di desa dalam mengakses internet. Hal ini nyata adanya, sehingga Sri Wahyuni menambahkan perlunya dukungan semua pihak untuk dapat mengakses informasi PTM seluas-luasnya agar dapat menjaga keamanan selama PTM berlangsung. 

Nantinya para murid tetap bisa belajar dengan aman karena dilindungi di dalam sekolah maupun luar sekolah. 

Demikian protokol kesehatan yang harus dijalankan saat PTM berlangsung oleh pihak sekolah, anak, orangtua maupun masyarakat yang terlibat. Sama-sama menjaga demi meningkatkan kegiatan belajar mengajar supaya tidak terjadi ketinggalan dengan angka yang tinggi. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.