- Notifikasi yang tidak ada habisnya: grup keluarga, kerja, teman, sekolah anak.
- Multitasking berlebihan: berpindah aplikasi dari chat, email, browser, hingga media sosial.
- Konsumsi konten tanpa jeda: scrolling panjang, menonton video, membaca berita.
- Tuntutan aktivitas online: sekolah anak, pekerjaan hybrid, hingga kebutuhan mengurus rumah.
Digital Overload: Tantangan Baru di Era Serba Online

- Digital overload adalah kondisi otak menerima informasi digital lebih banyak daripada yang bisa diproses, disebabkan oleh notifikasi tak henti-hentinya, multitasking berlebihan, konsumsi konten tanpa jeda, dan tuntutan aktivitas online.
- Tanda-tanda digital overload termasuk pikiran penuh dan cepat kewalahan, sulit fokus, mood tidak stabil, mata dan bahu cepat pegal, susah tidur meski badan lelah, serta produktivitas menurun.
- Dampak digital overload meliputi penurunan kesehatan mental Mama, kualitas interaksi dengan anak menurun, hubungan dengan pasangan ikut terdampak, tidur buruk dan tubuh terasa tidak segar, produktivitas menurun, serta anak ikut meniru ke
Di era serba digital seperti sekarang, hampir semua aktivitas Mama bersinggungan dengan layar. Dari bangun tidur hingga kembali ke kasur, banyak hal yang harus diurus melalui gadget seperti pesan keluarga, grup sekolah anak, pekerjaan, berita, hingga media sosial.
Tanpa disadari, semua ini bisa menumpuk menjadi digital overload, kondisi ketika otak dipenuhi terlalu banyak informasi hingga sulit memproses semuanya dengan tenang.
Banyak Mama mungkin mengira rasa pusing, cepat lelah, sulit fokus, atau emosi yang mudah naik turun hanya karena stres harian. Padahal, kebiasaan digital yang terus aktif bisa menjadi penyebab utamanya.
Tantangan baru ini membuat Mama perlu lebih sadar tentang bagaimana teknologi mempengaruhi kesehatan mental dan keseimbangan keluarga di rumah.
Untuk mengetahui lebih dalam, Popmama.com akan menjelaskan tentang digital overload yang menjadi tantangan baru di era serba online. Yuk simak penjelasan berikut ini.
Apa itu Digital Overload?

Digital overload adalah kondisi ketika otak menerima informasi digital lebih banyak daripada yang bisa diproses. Kondisi ini muncul karena:
Otak manusia memiliki kapasitas untuk memproses informasi dalam jumlah tertentu. Ketika informasinya menumpuk terus-menerus, otak bekerja lebih keras hingga mudah lelah.
Tanda-tanda Digital Overload yang sering Mama alami:
- Pikiran terasa penuh dan cepat kewalahan
- Sulit fokus meski tugas sederhana
- Mood tidak stabil
- Mata dan bahu cepat pegal
- Ingin membuka ponsel terus-menerus
- Susah tidur meski badan lelah
- Merasa “sibuk seharian” tapi pekerjaan tidak selesai
Kondisi ini sering terjadi tanpa Mama sadari karena banyaknya aktivitas digital dianggap hal biasa.
Dampak Digital Overload untuk Keluarga

Digital overload tidak hanya mempengaruhi Mama secara pribadi, tetapi juga memberi dampak pada pola asuh, hubungan keluarga, dan suasana rumah. Berikut dampak dari digital overload:
- Kesehatan mental Mama menurun
Paparan digital berlebihan memicu stres kronis. Banjir informasi membuat Mama lebih mudah cemas, sensitif, atau merasa tidak sanggup menangani hal kecil.
- Kualitas interaksi dengan anak menurun
Ketika pikiran penuh, Mama sulit memberikan perhatian penuh pada anak. Saat anak bercerita, Mama mungkin terpikir notifikasi yang belum dibuka atau tugas yang harus dikerjakan.
- Hubungan dengan pasangan ikut terdampak
Sibuk di layar membuat komunikasi langsung berkurang. Waktu yang seharusnya untuk berbicara dan saling mendengarkan sering bergeser menjadi waktu untuk mengecek ponsel.
- Tidur buruk dan tubuh terasa tidak segar
Cahaya layar membuat otak sulit beristirahat. Akibatnya, Mama tidur larut, terbangun dengan rasa lelah, dan sulit memulai hari dengan fokus.
- Produktivitas menurun
Meski terasa sibuk, Mama justru sulit menyelesaikan pekerjaan. Multitasking digital membuat otak terus berpindah, sehingga energi cepat habis.
- Anak ikut meniru kebiasaan digital Mama
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika Mama sering memegang ponsel atau terlihat lelah karena aktivitas digital, anak bisa menganggap itu sebagai hal yang normal.
Dampaknya bukan hanya pada Mama, tetapi juga pada ritme keseharian seluruh keluarga. Maka dari itu, pentingnya pengelolaan waktu untuk Mama.
Cara Mengatasi Digital Overload

Berita baiknya, digital overload bisa diatasi dengan langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, sebagai berikut:
- Tetapkan batasan waktu digital
Contohnya:
- Tidak membuka ponsel 1 jam setelah bangun tidur
- Tidak membawa gadget ke tempat tidur
- Menerapkan “jam bebas layar” saat makan atau bermain bersama anak
Kebiasaan kecil ini membantu Mama memberi ruang pada otak untuk beristirahat.
- Atur ulang notifikasi
Matikan notifikasi aplikasi yang tidak penting. Notifikasi adalah pemicu terbesar stres mikro yang menumpuk sepanjang hari.
- Batasi konsumsi media sosial
Mama bisa pakai timer atau batas waktu harian. Ini membantu mengurangi kebiasaan doomscrolling yang sering membuat Mama tidak sadar waktu berjalan.
- Selingi aktivitas offline
Ajak anak menggambar, main peran, berkebun, masak, atau sekadar bersantai tanpa layar. Aktivitas ini membantu otak kembali ke ritme normal.
- Terapkan teknik “single-tasking”
Daripada membuka banyak aplikasi sekaligus, fokuslah pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Ini membuat pekerjaan selesai lebih cepat dan lebih efisien.
- Rutin meregangkan tubuh
Setiap 20–30 menit, lakukan gerakan ringan untuk mata, leher, dan bahu. Ini membantu mengurangi ketegangan akibat layar.
- Buat lingkungan rumah lebih mendukung
Letakkan ponsel di tempat tertentu saat sedang bersama keluarga. Dengan begitu, Mama tidak tergoda untuk mengecek layar terus-menerus.
- Bangun rutinitas istirahat digital
Misalnya:
- “Digital sunset” pukul 20.00
- Journaling sebelum tidur
- Membaca buku fisik
- Minum teh hangat tanpa sambil scroll
Rutinitas sederhana ini membantu tubuh pulih.
Digital overload adalah tantangan besar bagi Mama di era serba online. Namun, dengan kesadaran dan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, Mama bisa kembali menemukan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Mengurangi paparan layar bukan berarti menjauh dari teknologi, tetapi mengatur agar teknologi bekerja untuk Mama, bukan sebaliknya.
Saat Mama lebih tenang, fokus, dan hadir sepenuhnya, keluarga pun ikut merasakan dampak positifnya. Karena kesehatan mental Mama adalah fondasi dari harmonisnya rumah.
Sekarang Mama sudah tahu nih tentang digital overload yang menjadi tantangan baru di era serba online. Mulai sekarang, yuk coba untuk mengatur waktu saat online, agar semua pekerjaan di rumah maupun di kantor lebih terstruktur.



















