6 Gejala Herpes Labialis yang Wajib Dikenali, Jangan Sampai Keliru!

- Sensasi kesemutan, terbakar, atau gatal (fase prodromal)
- Kemerahan dan pembengkakan ringan pada bibir
- Muncul lepuhan kecil berisi cairan (blister)
Herpes labialis adalah kondisi infeksi pada bibir yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Kondisi ini sering muncul secara bertahap dan memiliki ciri-ciri yang khas.
Banyak Mama yang mengira luka herpes sebagai sariawan, padahal keduanya sangat berbeda dari pola kemunculan hingga proses penyembuhannya.
Menurut Cleveland Clinic, herpes labialis bisa bangkit sewaktu-waktu karena virusnya “tidur” di saraf wajah dan aktif kembali ketika daya tahan tubuh Mama menurun.
Supaya Mama bisa lebih sigap dan paham apa yang terjadi pada tubuh, berikut Popmama.com akan menjelaskan tentang 6 gejala herpes labialis yang wajib Mama kenali. Yuk simak penjelasannya dibawah ini.
1. Sensasi kesemutan, terbakar, atau gatal (fase prodromal)

Fase paling awal kemunculan herpes labialis sering disebut sebagai fase prodromal. Menurut Cleveland Clinic, gejala ini biasanya berupa sensasi kesemutan, panas seperti terbakar, atau gatal di area bibir.
Sensasi ini muncul 24–48 jam sebelum blister terlihat, sehingga banyak Mama yang justru melewatkannya. Dilansir dari MedlinePlus, reaksi ini terjadi karena virus mulai aktif di saraf kulit sehingga memicu rasa tidak nyaman meski belum ada luka.
Tidak sedikit yang merasakan sensasi ini menjalar ke hidung atau dagu. Dilansir dari Medicine, beberapa orang bahkan menggambarkannya seperti “denyutan panas” yang datang dan pergi.
Sensasi prodromal inilah tanda paling awal yang bisa membantu Mama membedakan herpes dari sariawan. Jika Mama bisa mengenali fase ini, langkah perawatan dengan salep atau obat antivirus biasanya menjadi jauh lebih efektif.
2. Kemerahan dan pembengkakan ringan pada bibir

Setelah fase sensasi awal, gejala berikutnya biasanya berupa kemerahan di area yang akan menjadi titik munculnya lepuhan. Menurut MedlinePlus, kondisi ini merupakan respon peradangan alami tubuh saat virus mulai aktif.
Kemerahan ini sering diikuti pembengkakan ringan yang membuat bibir terasa lebih sensitif. Dilansir dari Cleveland Clinic, area tersebut bisa terasa mengencang dan sedikit nyeri saat Mama menggerakkan bibir.
Pada beberapa kasus, pembengkakan semakin terasa menjelang munculnya blister. Dilansir dari Medicine, tanda ini sebenarnya sangat khas, namun sering disangka alergi atau iritasi bibir biasa.
Perbedaannya, kemerahan pada herpes biasanya hanya di satu titik tertentu, bukan menyebar. Tahap ini bisa berlangsung singkat, tetapi cukup penting sebagai tanda bahwa outbreak akan segera muncul.
3. Muncul lepuhan kecil berisi cairan (blister)

Inilah gejala khas herpes labialis yang paling mudah dikenali. Menurut Cleveland Clinic, blister berwarna bening atau kekuningan biasanya muncul berkelompok di tepi bibir atau area sekitar mulut.
Blister ini terasa perih dan lebih sensitif terhadap gesekan atau sentuhan. Dilansir dari Medicine, cairan di dalam blister merupakan cairan yang penuh dengan partikel virus, sehingga sangat mudah menular.
Pada tahap ini, Mama mungkin merasa bibir sulit digerakkan atau terasa kaku. Menurut MedlinePlus, blister sering kali meningkat jumlahnya dalam satu atau dua hari sebelum akhirnya pecah.
Rasa sakit pada fase ini lebih intens dibanding fase awal. Jika tidak hati-hati, blister bisa pecah lebih cepat dan menyebabkan iritasi tambahan.
4. Lepuhan pecah → luka terbuka → mengering → keropeng

Beberapa hari setelah muncul, blister akan pecah secara alami. Dilansir dari Cleveland Clinic, cairan yang keluar bisa membuat kulit di sekitar luka terasa semakin perih. Luka terbuka ini kemudian akan mulai mengering perlahan.
Dilansir dari Medicine, kulit yang mengering akan berubah menjadi keropeng kecoklatan yang merupakan bagian dari proses penyembuhan. Keropeng biasanya terasa mengencang, gatal, atau perih saat bibir digerakkan.
Menurut MedlinePlus, fase keropeng bisa berlangsung 7–10 hari tergantung kondisi tubuh Mama. Pada beberapa orang, keropeng mudah pecah saat sedang makan atau berbicara, sehingga menyebabkan perdarahan kecil.
Meski mengganggu, fase ini adalah tanda bahwa kulit sedang dalam proses regenerasi. Namun, jika dirasa sangat mengganggu, sebaiknya lakukan perawatan ringan.
5. Pembengkakan kelenjar dan demam atau gejala mirip flu

Tak sedikit Mama yang kaget ketika herpes bibir ikut memicu gejala seluruh tubuh. Menurut Cleveland Clinic, hal ini umum terjadi terutama pada infeksi pertama.
Mama bisa mengalami demam, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar rahang. Dilansir dari NCBI Bookshelf, ini adalah respon imun tubuh yang sedang melawan virus.
Kelenjar yang bengkak biasanya terasa lunak atau nyeri saat disentuh. Menurut MedlinePlus, gejala sistemik lebih mungkin terjadi pada mereka yang baru pertama kali terinfeksi HSV-1.
Kondisi ini biasanya mereda setelah blister mulai mengering. Jika demam sangat tinggi atau berlangsung lama, Mama sebaiknya berkonsultasi ke tenaga kesehatan.
6. Kambuh berulang di lokasi yang sama

Herpes labialis terkenal sebagai penyakit yang mudah kambuh. Menurut MedlinePlus, setelah outbreak sembuh, virus tidak hilang melainkan tetap berada di saraf wajah.
Saat tubuh Mama lelah, stres, menstruasi, atau terpapar sinar matahari berlebihan, virus bisa aktif kembali. Dilansir dari Cleveland Clinic, episode kambuh biasanya lebih ringan dibanding infeksi pertama, tetapi tetap mengganggu aktivitas.
Gejalanya akan mengikuti pola yang sama: kesemutan → kemerahan → blister → keropeng. Menurut Medicine, beberapa orang bisa mengalami 2–6 episode dalam setahun.
Pola kekambuhan yang selalu muncul di titik yang sama merupakan ciri klinis khas herpes labialis. Dengan mengenali pemicu pribadi Mama, frekuensi kambuh bisa lebih mudah dikendalikan.
Herpes labialis memiliki pola gejala yang khas dan berkembang melalui beberapa fase. Maka dari itu, penting bagi kita untuk tetap merawat tubuh, terutama bagian bibir.
Dengan mengenali 6 gejala herpes labialis yang wajib Mama kenali, Mama bisa mengambil langkah perawatan yang lebih cepat dan mencegah penularan ke orang lain, termasuk anak.


















