10 Pasar Tradisional Tertua di Indonesia dan Sejarahnya

- Sepuluh pasar tradisional tertua di Indonesia masih beroperasi sebagai ruang ekonomi sekaligus saksi sejarah, dengan jejak dari abad ke-14 hingga masa kolonial dan awal kemerdekaan.
- Pasar Muara Kuin, Beringharjo, Jatinegara, Tanah Abang, Peunayong, Gede, Johar, Klewer, Sukawati, dan Tomohon punya karakter perdagangan khas, dari perahu, tekstil, batik, hingga kerajinan.
- Sejumlah pasar mengalami kebakaran, tsunami, relokasi, atau pembangunan ulang, lalu direvitalisasi agar tetap melayani masyarakat sambil mempertahankan peran sejarah, budaya, dan aktivitas jual beli.
Pasar tradisional bukan hanya menjadi tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan sebuah daerah.
Di balik ramainya aktivitas jual beli, beberapa pasar di Indonesia telah berdiri sejak puluhan hingga ratusan tahun lalu dan menjadi saksi perubahan zaman.
Menariknya, sejumlah pasar tradisional tertua di Indonesia masih terus beroperasi hingga sekarang. Ada yang dikenal sebagai pusat batik, pusat tekstil, hingga pasar unik yang memiliki aktivitas perdagangan di atas sungai.
Berikut Popmama.com telah merangkum 10 pasar tradisional tertua di Indonesia yang menarik untuk diketahui.
Table of Content
1. Pasar Terapung Muara Kuin, Banjarmasin

wikipedia.org Pasar Terapung Muara Kuin yang berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diperkirakan telah ada sejak abad ke-14. Keberadaannya bahkan diyakini sudah berlangsung jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar pada tahun 1595.
Pasar ini tumbuh secara alami di kawasan pertemuan beberapa anak sungai yang sejak dahulu menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat. Dari waktu ke waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi titik perdagangan yang strategis.
Keunikan utama Pasar Terapung Muara Kuin terletak pada aktivitas jual belinya yang dilakukan di atas perahu tradisional bernama jukung. Para pedagang tidak hanya berasal dari wilayah Kuin, tetapi juga datang dari daerah sekitar, seperti Tamban dan Alalak.
2. Pasar Beringharjo, Yogyakarta

wikipedia.org Pasar Beringharjo menjadi salah satu pasar bersejarah yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta. Pasar ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tidak lama setelah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1758.
Sebelum berubah menjadi kawasan perdagangan, lokasi tersebut awalnya merupakan area hutan yang dipenuhi pohon beringin. Seiring berkembangnya aktivitas masyarakat, kawasan ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan transaksi dan perlahan tumbuh menjadi pusat ekonomi.
Nama Beringharjo sendiri baru resmi diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 24 Maret 1925. Kata ‘bering’ merujuk pada pohon beringin yang melambangkan kebesaran dan pengayoman, sedangkan ‘harjo’ memiliki arti kesejahteraan. Makna tersebut mencerminkan harapan agar pasar dapat membawa kemakmuran bagi masyarakat.
3. Pasar Jatinegara, Jakarta Timur

wikipedia.org Bagi masyarakat Jakarta, Pasar Jatinegara mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, pasar yang kini menjadi salah satu pusat perdagangan di Jakarta Timur ini dulunya dikenal dengan nama Pasar Mester atau Meester Passer.
Kawasan tersebut mulai berkembang sejak sekitar tahun 1770-an. Nama Meester Passer berkaitan dengan Cornelis Senen, seorang guru agama yang memiliki gelar Meester atau Tuan Guru dan pernah memiliki tanah di kawasan tersebut.
Ketika masa pendudukan Jepang berlangsung, sejumlah nama yang dianggap memiliki nuansa kolonial mulai dihapus. Sejak saat itulah, Meester Passer kemudian dikenal dengan nama Pasar Jatinegara dan tetap digunakan hingga sekarang.
Daya tarik Jatinegara kini semakin beragam dengan adanya Pasar Loak Jembatan Item di sekitar kawasan tersebut. Setelah berjalan ke arah selatan dari pusat pasar, pengunjung dapat menemukan berbagai barang lawas dan vintage, seperti kamera analog, jam tangan jadul, hingga kaset pita.
Keberadaan pasar loak ini membuat kawasan Jatinegara tetap relevan dan menarik bagi generasi yang lebih muda.
4. Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat

wikipedia.org Pasar Tanah Abang menjadi salah satu pasar tertua yang hingga kini masih menjadi pusat perdagangan penting di Indonesia. Pasar yang berada di Jakarta Pusat ini didirikan pada 30 Agustus 1735 oleh Yustinus Vinck, seorang pejabat Belanda.
Pada masa awal berdirinya, pasar ini dikenal sebagai Pasar Sabtu karena kegiatan perdagangan hanya dilakukan setiap hari Sabtu. Barang yang diperjualbelikan pun sebagian besar berupa tekstil dan kebutuhan kelontong.
Bentuk pasarnya juga masih sangat sederhana dengan bangunan berupa gubuk bambu beratapkan rumbia. Perkembangannya terus berlanjut hingga pemerintah Batavia membangun pasar permanen pada tahun 1926.
Pasar Tanah Abang kemudian mengalami renovasi besar pada 1973 dan berkembang menjadi kawasan perdagangan dengan empat blok bertingkat. Kini, Tanah Abang dikenal sebagai salah satu pusat grosir tekstil dan pakaian terbesar yang ramai didatangi pembeli dari berbagai daerah.
5. Pasar Peunayong, Banda Aceh

wikipedia.org Pasar Peunayong memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan di Aceh. Sejak kedatangan pedagang Tionghoa pada abad ke-17, kawasan Peunayong mulai berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi.
Tidak hanya pedagang Tionghoa, para pendatang dari Persia dan India juga menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat untuk tinggal sekaligus berdagang. Nama Peunayong dipercaya berasal dari istilah ‘Peu Payong’ yang berarti melindungi.
Pasar Peunayong sempat mengalami kerusakan parah akibat tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Namun, kawasan ini kemudian direkonstruksi pada awal 2005 dengan bantuan berbagai organisasi kemanusiaan.
Pasar tersebut dibangun kembali menjadi tiga gedung bertingkat dan kembali menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.
6. Pasar Gede Hardjonagoro, Solo

wikipedia.org Pasar Gede atau Pasar Gede Hardjonagoro merupakan salah satu pasar bersejarah yang menjadi ikon Kota Solo, Jawa Tengah. Bangunan pasar ini mulai dikerjakan pada 1927 dan proses pembangunannya berlangsung hingga 1930, pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X.
Sejak pertama kali beroperasi, Pasar Gede telah menjadi tempat masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tidak hanya berfungsi sebagai lokasi jual beli, pasar ini juga menjadi titik pertemuan bagi pedagang lokal dan pengunjung dari berbagai daerah. Hingga kini, Pasar Gede tetap menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi yang penting di Solo.
7. Pasar Johar, Semarang

wikipedia.org Pasar Johar merupakan salah satu pasar bersejarah yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Aktivitas perdagangan di kawasan ini diperkirakan telah berlangsung sejak sekitar tahun 1860.
Pada masa awalnya, para pedagang berjualan di depan penjara yang berada di sisi timur alun-alun Semarang. Kawasan tersebut ramai dikunjungi pembeli, termasuk keluarga para tahanan yang datang untuk menunggu.
Salah satu daya tarik Pasar Johar terletak pada desain arsitekturnya. Bangunan pasar memiliki bentuk atap menyerupai cendawan yang memungkinkan cahaya matahari masuk sekaligus membantu sirkulasi udara.
Berkat desain tersebut, Pasar Johar pernah dikenal sebagai salah satu pasar dengan arsitektur yang indah di Asia Tenggara pada masanya. Setelah mengalami kebakaran besar pada tahun 2015, Pasar Johar menjalani proses revitalisasi dan kembali dibuka pada Januari 2022.
Proses pembaruan tersebut tetap mempertahankan unsur budaya lokal dan karakter arsitektur klasiknya. Kini, pengunjung dapat menemukan berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan segar hingga barang sehari-hari dengan harga yang masih bisa ditawar.
8. Pasar Klewer, Solo

wikipedia.org Selain Pasar Gede, Solo juga memiliki Pasar Klewer yang telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan batik. Pasar ini menawarkan beragam kain dan pakaian batik dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Pekalongan, hingga Surabaya.
Tidak heran jika Pasar Klewer menjadi salah satu tujuan favorit bagi pencinta batik. Pasar Klewer mulai berkembang pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 hingga 1945.
Pada 1970, Pasar Klewer resmi dibangun menjadi bangunan permanen bertingkat. Pasar ini sempat mengalami kebakaran hebat pada 2014 yang menyebabkan kerusakan cukup besar.
Setelah itu, pemerintah melakukan pembangunan kembali agar pasar dapat kembali beroperasi dengan fasilitas yang lebih modern dan nyaman.
9. Pasar Seni Sukawati, Bali

wikipedia.org Pasar Seni Sukawati merupakan salah satu pusat kerajinan yang terkenal di Bali. Pasar ini berawal dari inisiatif para pedagang patung yang sebelumnya berjualan secara berpindah-pindah di kawasan Denpasar.
Karena sering ditertibkan oleh petugas, para pedagang kemudian berupaya mencari lokasi yang lebih tetap untuk menjalankan usaha mereka.
Pada pertengahan 1983, Pemerintah Daerah Gianyar mulai melakukan pembebasan tanah di Blok B sekaligus membangun gedung untuk Pasar Seni Sukawati. Pasar ini kemudian resmi dibuka pada 25 Mei 1985 oleh Gubernur Bali saat itu, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra.
Popularitas pasar yang terus meningkat membuat kapasitasnya perlu diperluas. Pada awal 1990, Pemerintah Kabupaten Gianyar membangun dua blok tambahan, yaitu Blok A dan Blok C.
Kedua blok tersebut mulai beroperasi pada 1991, sehingga Pasar Seni Sukawati dapat menampung lebih banyak pedagang dan pengunjung.
10. Pasar Tomohon, Sulawesi Utara

wikipedia.org Pasar Tomohon di Sulawesi Utara juga memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Pasar ini telah ada sejak masa kolonial Belanda. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada 1852 masyarakat Minahasa telah menjual berbagai produk lokal di kawasan tersebut.
Berbagai hasil bumi dari daerah sekitar dibawa ke pasar untuk diperjualbelikan, sehingga kawasan ini menjadi salah satu titik pertemuan antara pedagang dan pembeli.
Untuk meningkatkan fasilitas dan memberikan kenyamanan yang lebih baik, pasar ini direlokasi dan dibangun kembali pada 2003. Hingga sekarang, Pasar Tomohon dikenal dengan keberagaman barang yang dijual, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga berbagai jenis rempah-rempah khas daerah.
Selain hasil pertanian, Pasar Tomohon juga dikenal karena menjual sejumlah jenis daging hewan yang tidak biasa ditemukan di banyak pasar lain. Di antaranya terdapat daging anjing, tikus hutan, ular piton, kelelawar, dan babi.
Keberagaman tersebut menjadikan Pasar Tomohon sebagai salah satu pasar tradisional yang memiliki karakteristik khas.
Demikian pasar tradisional tertua di Indonesia. Apakah kamu pernah berkunjung ke salah satu dari daftar di atas?





















