8 Penyebab Hernia Inguinalis pada Perempuan dan Faktor Resiko Utamanya

- Struktur kanal inguinal perempuan lebih sempit, menciptakan titik lemah alami pada dinding perut bagian bawah.
- Hormon seperti estrogen dan progesteron mempengaruhi kekuatan jaringan ikat, meningkatkan resiko terjadinya hernia.
- Kehamilan, persalinan, dan aktivitas harian dapat menyebabkan peregangan dinding perut dan tekanan berulang yang memicu terbentuknya hernia.
Hernia inguinalis pada perempuan sering kali tidak disadari sejak awal karena gejalanya cenderung samar dan tidak selalu berupa benjolan yang jelas. Banyak perempuan menganggap keluhan di pangkal paha sebagai nyeri otot atau kelelahan biasa.
Padahal, secara medis, hernia inguinalis tetap dapat terjadi meskipun resikonya lebih rendah dibanding laki-laki. Kondisi ini berkaitan erat dengan struktur anatomi dan perubahan fisiologis tubuh perempuan.
Berbeda dengan anggapan umum, penyebab hernia inguinalis pada perempuan tidak selalu dipicu oleh aktivitas berat. Faktor seperti hormon, kehamilan, dan tekanan biologis berulang memiliki peran penting dalam proses terjadinya hernia.
Hernia sering berkembang perlahan tanpa disadari hingga akhirnya menimbulkan keluhan. Berikut Popmama.com akan memberikan pembahasan tentang 8 penyebab Hernia Inguinalis pada perempuan. Yuk simak pembahasannya dibawah ini.
1. Struktur kanal inguinal perempuan

Secara anatomi, kanal inguinal pada perempuan memang lebih sempit dibanding laki-laki. Namun, kanal ini tetap menjadi jalur alami bagi ligamentum teres uteri yang menghubungkan rahim ke pangkal paha.
Jalur ini menciptakan titik lemah alami pada dinding perut bagian bawah. Ketika tekanan meningkat, jaringan dapat terdorong melalui celah tersebut. Meskipun sempit, kelemahan pada kanal inguinal tidak selalu terlihat dari luar.
Inilah alasan hernia inguinalis pada perempuan sering tidak menimbulkan benjolan yang mencolok. Tekanan ringan yang terjadi terus-menerus dapat memperbesar celah secara perlahan. Akhirnya, hernia terbentuk tanpa gejala awal yang jelas.
2. Pengaruh hormon terhadap jaringan ikat

Hormon estrogen dan progesteron mempengaruhi kekuatan serta elastisitas jaringan ikat. Pada fase tertentu, seperti kehamilan atau pasca persalinan, jaringan menjadi lebih lentur dan kurang kuat menopang tekanan.
Kondisi ini membuat dinding perut lebih mudah meregang. Area pangkal paha menjadi salah satu titik yang paling rentan. Ketika jaringan ikat melemah, tekanan normal dari aktivitas sehari-hari bisa memicu terbentuknya hernia.
Perubahan hormon tidak menyebabkan hernia secara langsung, tetapi memperbesar resiko terjadinya. Kombinasi hormon dan tekanan mekanis mempercepat proses pelemahan dinding perut. Inilah alasan hernia dapat muncul tanpa aktivitas berat.
3. Peregangan dinding perut selama kehamilan

Kehamilan menyebabkan dinding perut mengalami peregangan bertahap untuk menyesuaikan pertumbuhan janin. Peregangan ini tidak selalu kembali sepenuhnya setelah persalinan.
Pada beberapa perempuan, terdapat area otot yang tetap melemah. Area inilah yang kemudian menjadi titik rawan hernia. Tekanan intra abdomen meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.
Tekanan ini bekerja terus-menerus pada dinding perut bagian bawah. Jika jaringan tidak pulih sempurna, celah kecil dapat terbentuk. Dalam kondisi tersebut, hernia inguinalis dapat muncul perlahan.
4. Tekanan mengejan saat persalinan

Proses mengejan saat persalinan memberikan tekanan yang sangat besar pada perut dan panggul. Tekanan ini terjadi berulang dalam waktu singkat namun intens. Dinding perut bagian bawah menerima beban maksimal selama proses ini.
Jika jaringan tidak cukup kuat, celah dapat terbuka. Mengejan tidak selalu langsung menyebabkan hernia, tetapi dapat memperparah kelemahan yang sudah ada. Pada perempuan dengan jaringan ikat yang kurang kuat, resiko meningkat.
Tekanan ekstrem ini dapat mempercepat pembentukan hernia. Akibatnya, hernia bisa muncul setelah masa nifas.
5. Distribusi tekanan perut yang tidak merata

Pada perempuan, tekanan intra abdomen sering terfokus pada bagian bawah perut dan panggul. Kondisi ini dapat terjadi setelah kehamilan atau perubahan berat badan. Tekanan yang tidak merata membuat satu area bekerja lebih berat dibanding area lain.
Pangkal paha menjadi salah satu titik yang menerima tekanan tersebut. Tekanan yang terus-menerus di satu titik menyebabkan jaringan melemah lebih cepat. Jika dinding perut tidak mampu menahan tekanan, jaringan terdorong keluar.
Proses ini berlangsung perlahan dan sering tidak disadari. Akhirnya, hernia inguinalis terbentuk.
6. Jaringan parut pasca operasi

Operasi di area perut atau panggul dapat meninggalkan jaringan parut. Jaringan parut tidak memiliki elastisitas seperti jaringan normal. Akibatnya, area di sekitarnya menjadi titik lemah baru.
Tekanan perut akan mencari jalur yang paling mudah ditembus. Jika tekanan diarahkan ke kanal inguinal, hernia dapat terbentuk. Hal ini dapat terjadi lama setelah operasi dilakukan.
Perempuan sering tidak mengaitkan keluhan pangkal paha dengan operasi sebelumnya. Padahal, hubungan keduanya cukup signifikan secara medis.
7. Tekanan ringan tapi berulang dari aktivitas harian

Aktivitas seperti mengangkat anak, membawa belanjaan, atau berdiri lama sering dianggap aman. Namun, aktivitas ini menciptakan tekanan ringan yang berulang pada dinding perut.
Tekanan tersebut bekerja secara perlahan dan terus-menerus. Dampaknya sering tidak terasa dalam jangka pendek. Jika jaringan sudah melemah, tekanan kecil pun bisa memicu hernia.
Inilah yang membuat hernia pada perempuan sering muncul tanpa aktivitas berat. Prosesnya berlangsung bertahap. Gejala baru terasa ketika hernia mulai membesar.
8. Deteksi yang terlambat akibat gejala samar

Hernia inguinalis pada perempuan sering tidak menimbulkan benjolan yang jelas. Keluhan yang muncul biasanya berupa rasa tidak nyaman atau nyeri ringan. Gejala ini mudah disalahartikan sebagai masalah otot atau sendi. Akibatnya, hernia tidak terdeteksi sejak awal.
Keterlambatan deteksi membuat tekanan terus bekerja pada jaringan yang melemah. Hernia pun berkembang lebih lanjut tanpa penanganan. Saat akhirnya terdiagnosis, ukuran hernia bisa sudah membesar. Kondisi ini meningkatkan resiko komplikasi dan kebutuhan tindakan medis.
Penyebab hernia inguinalis pada perempuan berkaitan dengan kombinasi antara faktor anatomi, hormon, dan tekanan yang terjadi berulang. Proses terbentuknya hernia tidak selalu tiba-tiba, melainkan berlangsung perlahan dan sering tanpa gejala khas.
Inilah yang membuat kondisi ini kerap terlewatkan. Pemahaman mekanisme penyebabnya membantu meningkatkan kewaspadaan. Dengan mengenali penyebab secara medis, perempuan dapat lebih peka terhadap perubahan di area pangkal paha.
Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih aman dan terencana. Hernia yang dikenali lebih awal cenderung lebih mudah ditangani. Kesadaran ini berperan penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Nah, sekarang Mama sudah tahu nih 8 penyebab Hernia Inguinalis pada perempuan dan faktor resiko utamanya. Kedepannya, yuk mulai mencurigai tanda-tanda di tubuh jika ada sesuatu yang membuat tidak nyaman.











-meTlTPzVVG9xLSxmw7b64R2Y9YdDnnIU.jpg)






