Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Stroke: Penyebab, Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan (2).png
Freepik/pressfoto

Intinya sih...

  • Stroke dapat terjadi akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, menyebabkan kerusakan sel-sel otak dan kelumpuhan.

  • Faktor risiko stroke meliputi gaya hidup tidak sehat, kondisi medis tertentu, usia lanjut, ras tertentu, dan gender.

  • Gejala stroke meliputi kelemahan atau mati rasa di tubuh, kesulitan berbicara atau memahami ucapan, pusing tiba-tiba, dan lainnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Stroke merupakan kondisi di mana aliran darah menuju otak terganggu. Stroke bisa terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) atau akibat pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Kondisi ini membuat otak kehilangan suplai oksigen dan nutrisi penting yang membuat sel-sel di area tertentu akan rusak. Hal ini yang membuat bagian tubuh yang dikendalikan oleh otak tidak dapat berfungsi dengan baik. 

Penting untuk mengetahui apa saja gejala hingga bagaimana pengobatannya karena stroke harus ditangani segera untuk mengurangi kerusakan dan komplikasi lainnya.

Simak penjelasan selengkapnya yang telah Popmama.com rangkum berikut ini seputar stroke termasuk penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan yang perlu dilakukan.

Apa Itu Stroke?

healthwire.pk

Stroke merupakan salah satu penyakit yang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat karena berkaitan dengan organ vital. 

Melansir dari Cleveland Clinic, stroke adalah keadaan darurat medis yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terhambat. Pembuluh darah yang tersumbat dan pendarahan di otak menyebabkan terjadinya stroke.   

Stroke umumnya terbagi menjadi dua kategori, yakni stroke iskemik dan stroke hemoragik. Keduanya dapat menghambat fungsi otak yang memicu kelumpuhan karena organ tubuh tidak dapat ditangani oleh bagian otak yang mengalami kerusakan.

Stroke iskemik terjadi akibat tersumbatnya pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak, sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak berkurang atau terhenti.

Sementara itu, stroke hemoragik terjadi Stroke hemoragik adalah jenis stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga darah keluar dan mengalir ke jaringan otak atau ruang di sekitarnya. 

Ada juga stroke ringan atau transient ischemic attack (TIA) yang merupakan stroke yang umumnya terjadi secara mengejutkan dalam waktu sebentar. Meski berlangsung cukup singkat, stroke ringan dapat menjadi pertanda di kemudian hari ada kemungkinan terjadi stroke jika tidak ditangani. 

Penyebab Terjadinya Stroke

Freepik/rawpixel.com

Penyebab terjadinya stroke dibagi menjadi sesuai dengan penyebabnya, yakni penyumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah di otak.

Stroke iskemik terjadi karena penyumbatan pembuluh darah, beberapa faktor di bawah ini dapat memicu pembentukan gumpalan darah yang menyebabkan stroke iskemik:

  • Arteri mengeras

  • Fibrilasi atrium

  • Gangguan pembekuan

  • Cacat jantung

  • Penyakit iskemik mikrovaskular.

Sementara itu, pada stroke hemoragik yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  • Tumor otak

  • Aneurisma otak

  • Tekanan darah tinggi

  • Penyakit moyamoya.

Faktor yang Tingkatkan Risiko Stroke

Freepik/Freepik

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke. Selain kondisi kesehatan tertentu, gaya hidup yang buruk juga dapat me risiko terjadinya stroke.

Dilansir dari Mayo Clinic, umumnya faktor penyebab stroke dibedakan berdasarkan kondisi kesehatan dan gaya hidup yang selama ini diterapkan.

Gaya Hidup yang Tingkatkan Risiko Stroke

  • Obesitas atau kelebihan berat badan

  • Kurang olahraga dan jarang bergerak

  • Banyak mengonsumsi minuman alkohol

  • Mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Kondisi Medis yang Tingkatkan Risiko Stroke

  • Tekanan darah tinggi

  • Merokok ataupun menjadi perokok pasif

  • Kadar kolesterol tinggi

  • Diabetes

  • Menderita penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung, kelainan jantung, dan penyakit lainnya

  • Riwayat penyakit keluarga

  • Serangan jantung

  • Pernah menderita stroke ringan

  • Terinfeksi virus COVID-19.

Selain faktor di atas, ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke, mulai dari faktor lanjut usia (55 tahun ke atas) hingga mengonsumsi pil kehamilan atau terapi hormon.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan ras African American dan Hispanic berisiko lebih tinggi terkena stroke. Jika dilihat dari gender, laki-laki lebih berisiko terkena stroke dibandingkan perempuan. 

Gejala yang Menandakan Stroke

Freepik/partystock

Mengetahui gejala dan tanda-tanda terjadinya stroke sangat penting agar penanganannya dapat dilakukan sesegera mungkin. Penyakit ini harus ditangani dengan cepat karena jika dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan kehilangan nyawa.

Ada beberapa gejala yang umumnya dikenal sebagai tanda-tanda stroke, berikut daftarnya yang telah dirangkum dari laman Stroke Foundation Australia:

  1. Kelemahan atau mati rasa di area wajah, lengan, atau kaki, bisa di satu sisi atau kedua sisi tubuh

  2. Kesulitan berbicara atau memahami ucapan secara tiba-tiba

  3. Pusing secara tiba-tiba

  4. Kehilangan keseimbangan hingga jatuh yang tidak dapat dijelaskan

  5. Kehilangan penglihatan (tiba-tiba terlihat kabur atau menurun)

  6. Sakit kepala yang tidak dapat dijelaskan

  7. Kesulitan menelan.

Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera hubungi IGD dan periksakan ke dokter agar mendapat penanganan lebih lanjut.

Cara Mencegah Stroke

Freepik/Freepik

Gangguan kesehatan yang dapat memicu terjadinya stroke kebanyakan dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat yang menimbulkan berbagai penyakit. Untuk itu, penting menjaga kondisi kesehatan demi mengurangi risiko terjadinya stroke, terutama bagi kelompok produktif. 

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya stroke:

1. Menjaga pola makan

Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, dan diabetes. Penting menjaga pola makan dan mengonsumsi gizi seimbang untuk mencegah penumpukan lemak di pembuluh darah yang menyebabkan penyumbatan atau aliran darah ke otak.

2. Berolahraga dan perbanyak aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu menurunkan tekanan darah, menjaga kadar kolesterol tetap normal, serta mengontrol kadar gula darah. 

3. Hindari konsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang

Konsumsi alkohol sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Obat-obatan terlarang juga dapat memicu terjadinya kerusakan organ hingga menyebabkan stroke.

4. Berhenti merokok

Rokok mengandung berbagai zat berbahaya seperti nikotin dan karbon monoksida yang dapat merusak pembuluh darah. Zat-zat tersebut menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit, sehingga aliran darah ke otak dapat terganggu dan meningkatkan risiko terjadinya stroke.

5. Kontrol dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin

Pemeriksaan kesehatan secara rutin membantu mendeteksi dan mengontrol penyakit atau kondisi yang memicu stroke secara perlahan tanpa gejala yang jelas, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Komplikasi Akibat Stroke

Freepik/jcomp

Stroke juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan sementara hingga permanen. Komplikasi tersebut dapat terjadi, bergantung apa saja yang terdampak dan berapa lama otak kekurangan suplai darah.

Biasanya, beberapa komplikasi yang dikutip dari Mayo Clinic berikut ini muncul pada pasien yang sembuh dari stroke:

  • Kehilangan kekuatan otot dan sulit mengontrol bagian tubuh tertentu

  • Gangguan berbicara, sulit memahami ucapan, hingga sulit menelan 

  • Gangguan memori bahkan sulit mengingat

  • Gangguan emosi yang memicu depresi

  • Sakit di bagian tubuh yang pernah terdampak stroke

  • Perubahan perilaku dan perawatan diri.

Pengobatan Pasien Stroke

Freepik/Drazen Zigic

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh pasien untuk bisa dipastikan apakah mengalami stroke atau gangguan kesehatan lainnya. Biasanya, dokter akan mendiagnosis stroke dengan pemeriksaan dan tes neurologis.

Tahapan pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah tes darah, CT scan, elektroencefalogram (EEG), elektrokardiogram (EKG), dan MRI.

Pengobatannya sendiri sebenarnya akan disesuaikan dengan gejala stroke yang dikeluhkan, misalnya pengobatan stroke iskemik berfokus untuk menjaga jalan napas, mengontrol tekanan darah, dan mengembalikan aliran darah.

Kemudian para stroke hemoragik, pengobatan yang dilakukan berfokus untuk mengurangi tekanan pada otak dan mengontrol pendarahan.

Pada stroke ringan, pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi faktor risiko yang dapat memicu stroke. 

Rehabilitasi setelah Menderita Stroke

Freepik/jcomp

Selain melakukan pengobatan, rehabilitasi juga menjadi tahapan penting dalam proses penyembuhan pasien untuk memulihkan fungsi organ tubuh yang sempat hilang dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Berikut beberapa tahapan rehabilitasi yang biasa dilakukan:

  • Rehabilitasi kognitif, membantu tingkatkan memori, konsentrasi, dan menjaga mental.

  • Terapi okupasi, memulihkan kemampuan sehari-hari seperti pekerjaan rumah tangga atau aktivitas yang membutuhkan gerakan tubuh cepat. 

  • Terapi fisik, memperkuat otot dan menjaga keseimbangan agar dapat kembali menggunakan lengan atau kaki seperti semula.

  • Terapi wicara, mengembalikan kemampuan berbicara dan mengendalikan otot yang membantu berbicara, bernapas, makan, dan menelan.

Demikian penjelasan seputar stroke termasuk penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan yang perlu dilakukan.

Penting untuk menerapkan hidup sehat agar terhindar dari risiko stroke, terutama di usia produktif, ya, Ma!

FAQ Seputar Stroke

Penyakit stroke itu karena apa?

Penyebab stroke adalah terganggunya aliran darah ke otak, bisa karena pembuluh darah tersumbat (stroke iskemik) atau pecah (stroke hemoragik), menyebabkan jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi.

Kena stroke apakah bisa sembuh?

Ya, stroke bisa sembuh atau pulih, bahkan ada yang pulih total, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kecepatan penanganan medis segera (dalam 4,5 jam pertama atau golden period) dan ketekunan menjalani rehabilitasi pasca-stroke seperti fisioterapi dan terapi bicara, serta dukungan keluarga.

Berapa lama penderita stroke bertahan hidup?

Lama penderita stroke bisa bertahan hidup sangat bervariasi, tergantung jenis stroke, keparahan kerusakan otak, kecepatan penanganan medis, usia, dan kesehatan umum, namun rata-rata harapan hidup penyintas bisa berkurang sekitar 5-7 tahun dibandingkan orang sehat, dengan angka 5 tahun bertahan hidup sekitar 49% untuk stroke iskemik dan 38% untuk perdarahan otak.

Editorial Team