Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Terapi Hipertensi yang Bantu Turunkan Tekanan Darah
Pexels/Imad Clicks
  • Hipertensi disebut silent killer karena sering tanpa gejala, dengan prevalensi 34,1% pada penduduk dewasa Indonesia dan meningkat signifikan pada usia lanjut.
  • PERKI merekomendasikan enam terapi utama: menjaga berat badan ideal, diet rendah garam, olahraga rutin, batasi alkohol, berhenti merokok, serta konsumsi obat sesuai anjuran dokter.
  • Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur terbukti membantu menurunkan tekanan darah serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak orang dewasa di Indonesia punya darah tinggi tapi tidak tahu. Dokter bilang darah tinggi bisa dikendalikan kalau hidup sehat. Orang harus makan sayur dan buah, jangan banyak garam, rajin olahraga, tidak minum alkohol, berhenti merokok, dan minum obat dari dokter. Kalau begitu, jantung bisa tetap sehat sekarang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Artikel ini menunjukkan bahwa meski hipertensi merupakan masalah kesehatan serius, tersedia beragam cara efektif untuk mengendalikannya. Melalui kombinasi perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan, membatasi garam, rutin berolahraga, serta kepatuhan pada pengobatan dokter, penderita memiliki peluang nyata untuk menstabilkan tekanan darah dan memperkuat kesehatan jantung secara menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hipertensi sering dikenal sebagai silent killer karena banyak penderitanya tidak merasakan gejala apa pun selama bertahun-tahun, padahal tekanan darahnya sudah jauh melampaui batas normal. 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat lebih dari sepertiga penduduk Indonesia usia 18 tahun ke atas, tepatnya 34,1 persen, mengalami hipertensi, dan angka ini terus meningkat secara signifikan pada kelompok usia 60 tahun ke atas.

Kabar baiknya, tekanan darah tinggi bukan kondisi yang mustahil dikendalikan. Selain rutin minum obat, ada berbagai terapi nonfarmakologis yang bisa kamu jalani sehari-hari untuk membantu menstabilkan tekanan darah. 

Bagi yang keluarganya mengidap hipertensi atau kamu sendiri mengidap hipertensi, berikut Popmama.com merangkum 6 terapi hipertensi. Yuk, simak sampai habis!

1. Menurunkan berat badan

Pexels/Andres Ayrton

Mengutip Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular yang disusun Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar menurunkan tekanan darah, tetapi juga membantu menghindari risiko diabetes dan dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah.

Mengutip Wal'afiat Hospital Journal, pengendalian berat badan menjadi bagian penting dari modifikasi gaya hidup yang direkomendasikan untuk mengelola hipertensi, bersamaan dengan pola makan sehat dan pembatasan asupan tertentu. Jadi, menjaga berat badan ideal bukan cuma soal penampilan, tapi juga investasi kesehatan jantung jangka panjang.

2. Mengurangi konsumsi garam

Pexels/Marek Kupiec

Kalau kamu tumbuh besar dengan masakan rumah yang gurih dan asin, mungkin ini saatnya mulai mengerem kebiasaan itu. PERKI menjelaskan bahwa makanan tinggi garam dan lemak memang menjadi makanan tradisional di kebanyakan daerah Indonesia, padahal banyak pasien yang tidak menyadari kandungan garam tersembunyi pada makanan cepat saji, makanan kaleng, hingga daging olahan.

Diet rendah garam ini pun tidak main-main manfaatnya. Selain menurunkan tekanan darah, cara ini juga bisa membantu mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien dengan hipertensi derajat 2 ke atas. PERKI menganjurkan agar asupan garam harian tidak melebihi 2 gram.

Dilansir dari Wal'afiat Hospital Journal, pembatasan asupan natrium merupakan salah satu strategi gaya hidup yang direkomendasikan oleh berbagai pedoman diet, seperti DASH dan Mediterania, untuk penatalaksanaan hipertensi.

3. Rajin olahraga

Pexels/Ketut Subiyanto

Malas gerak ternyata menjadi salah satu biang keladi naiknya tekanan darah. Untungnya, olahraga tidak harus berat atau lama. PERKI merekomendasikan olahraga teratur selama 30–60 menit per hari, minimal 3 hari dalam seminggu. 

Bagi kamu yang sibuk dan tidak sempat berolahraga khusus, tetap dianjurkan untuk aktif bergerak melalui kegiatan sederhana seperti jalan kaki, bersepeda, atau naik tangga saat beraktivitas rutin di tempat kerja.

Dilansir dari Wal'afiat Hospital Journal, pria dengan hipertensi tahap 1 yang sangat aktif secara fisik memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak aktif. 

Bahkan, salah satu penelitian yang diulas dalam jurnal tersebut mencatat bahwa metode olahraga aerobik selama 40–50 menit per hari, tiga hingga lima hari per minggu, mampu menurunkan tekanan darah hingga 8,3/5,2 mmHg.

4. Mengurangi konsumsi alkohol

Pexels/Helena Lopes

Buat kamu yang sesekali menikmati minuman beralkohol, ada baiknya mulai membatasi porsinya. Menurut PERKI, konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita dapat meningkatkan tekanan darah. Kabar baiknya, membatasi atau bahkan menghentikan konsumsi alkohol terbukti sangat membantu dalam menurunkan tekanan darah.

Meski konsumsi alkohol belum menjadi kebiasaan yang umum di sebagian besar wilayah Indonesia, tren ini disebut terus meningkat seiring perubahan gaya hidup, terutama di kota-kota besar. Karena itu, membatasi konsumsinya sejak dini bisa menjadi langkah pencegahan yang sederhana tetapi berdampak besar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

5. Berhenti merokok

Pexels/Clem Onojeghuo

Rokok memang belum terbukti secara langsung menurunkan atau menaikkan tekanan darah dalam waktu singkat. Namun, PERKI menegaskan bahwa merokok tetap merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, sehingga pasien hipertensi sangat dianjurkan untuk berhenti merokok demi kesehatan jantung secara keseluruhan.

Mengutip Wal'afiat Hospital Journal, kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor penyebab hipertensi, bersama usia, riwayat keluarga, kelebihan berat badan, kurang olahraga, stres, konsumsi alkohol, dan asupan garam berlebihan. Jadi, berhenti merokok bukan cuma soal tekanan darah, tapi juga proteksi menyeluruh untuk jantung dan pembuluh darahmu.

6. Konsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter

Pexels/Polina Tankilevitch

Kalau perubahan gaya hidup saja belum cukup, terapi farmakologi atau obat-obatan tetap menjadi andalan. PERKI menjelaskan bahwa terapi obat umumnya mulai diberikan pada pasien hipertensi derajat 1 yang tekanan darahnya belum turun setelah lebih dari 6 bulan menjalani pola hidup sehat, serta pada pasien dengan hipertensi derajat 2 ke atas. 

Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan antara lain pemberian obat dosis tunggal bila memungkinkan, penggunaan obat generik, kehati-hatian khusus pada pasien lanjut usia, serta pemantauan efek samping secara rutin.

Dilansir dari Wal'afiat Hospital Journal, kontrol rutin dapat meningkatkan efektivitas pengobatan hipertensi, mulai dari penilaian efek samping terapi, kebutuhan penyesuaian dosis, hingga pemeriksaan fungsi ginjal dan elektrolit. Jadi, jangan sembarangan berhenti atau mengganti dosis obat tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Nah, itulah pembahasan mengenai 6 terapi hipertensi. Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article