“Tidak ada contoh yang lebih baik dari mereplikasi pengalaman manusia saat ‘alien’ pertama mendarat ke sini, itulah yang kami ingin lakukan dengan Butter Baby untuk menunjukkan pengalaman pribadi kami sendiri lewat alien yang terbuat dari mentega mendarat ke Indonesia,” kata Nick Burch, founder Butter Baby dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6/26).
Unik! Donat Kekinian Ini Kisahkan Karakter Ikoniknya dengan Film Animasi

- Butter Baby memperkenalkan film animasi pendek 'The Story of Butterlandia' yang menceritakan asal-usul karakter ikonik mereka dari planet mentega, sebagai cara kreatif mengenalkan brand dessert ini.
- Didirikan oleh kembar Nick dan Henry Burch, Butter Baby memilih Indonesia sebagai rumah karena merasa terhubung secara emosional dan ingin membangun sesuatu yang tahan lama di Jakarta.
- Melalui semangat kreatif Jakarta, Butter Baby berencana ekspansi global sambil membawa energi dan budaya Indonesia ke dunia lewat produk donat serta kisah animasinya.
Tren dessert yang semakin menjamur membuat inovasi jadi hal yang penting di dunia kuliner. Langkah unik dari Butter Baby misalnya, yang kenalkan asal-usul karakter ikon mereka lewat film animasi pendek original The Story of Butterlandia.
Di balik lezatnya donat yang jadi keunggulan produk ini, terdapat fondasi dari karakter, cerita, dan misi yang dibangun. Film animasi pendek yang diputar perdana di CGV fX Sudirman Jakarta, Rabu (10/6/26) ini menceritakan universe Butter Baby yang berasal dari planet Butterlandia.
Dari film tersebut, tersirat juga mengapa Butter Baby memilih ‘mendarat’ di Jakarta, Indonesia sebelum ekspansi ke negara lain.
Simak penjelasan selengkapnya soal keunikan donat kekinian ini kisahkan karakter ikoniknya dengan film animasi yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!
Table of Content
Gunakan Konsep Alien dari Planet Butterlandia yang ‘Terdampar’

Pengembangan karakter dan asal-usul Butter Baby sangat matang, Nick dan Henry Burch selaku co-founder mengangkat konsep alien yang mereplikasi cara kerja manusia.
Mereka pikir cara ini yang paling tepat untuk mengenalkan Butter Baby yang awalnya dari antah berantah hingga akhirnya bisa beradaptasi dan berkembang.
Kisah yang diceritakan dalam film animasi pendek tersebut cukup rinci, berawal dari kehidupan di Butterlandia hingga akhirnya Butter Baby terdampar ke bumi, tepatnya di Jakarta. Tentu hal ini menyiratkan latar belakang yang cukup mendalam.
“Rasanya seperti kita memilih satu sama lain, di sini (Indonesia) terasa seperti rumah. Ada budaya baru yang sangat keren dan lebih kreatif daripada yang saya rasakan di Amerika Serikat. Saya pikir Jakarta bisa melepaskan sel kreativitas kami,” tutur Henry Burch, founder Butter Baby, Rabu (10/6/26).
Pilih Indonesia sebagai Rumah, Merasa Terhubung

Diketahui Nick dan Henry Burch merupakan anak kembar dari desainer fashion asal Amerika Serikat, Tory Burch, tidak heran banyak yang bingung mengapa dua saudara kembar tersebut memilih berbisnis kuliner, terlebih di Indonesia dibanding negara asalnya.
“Butter Baby berawal dari ide sederhana, bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa membuat orang merasa terhubung. Kami sudah mengenal dan mencintai Indonesia selama lebih dari 12 tahun, dari Sumba, hingga akhirnya menetap dan bekerja di Jakarta selama lebih dari empat tahun,” kata Nick dan Henry.
Sempat menghabiskan masa kecil di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Burch bersaudara akhirnya kembali ke Indonesia karena telah merasa terhubung. Setelah tinggal beberapa tahun, akhirnya mereka mendirikan Butter Baby sebagai produk yang kini juga dikembangkan universe nya.
“Kami memilih Indonesia bukan karena kesempatan, tetapi kami percaya ini adalah tempat terbaik untuk membangun sesuatu yang tahan lama,” tambah mereka.
Ingin Membawa Kultur Kekinian Jakarta ke Dunia

Pemilihan Jakarta sebagai ‘tempat mendarat’ nya Butter Baby dapat mengembangkan kreativitas tanpa batas mereka. Semangat tersebut yang akhirnya membuat produk ini ingin ekspansi ke dunia dengan membawa sesuatu dari Jakarta.
“Bagi kami, ekspansi Butter Baby bukan tentang membuka lebih banyak toko, tetapi membawa Butter Baby dari sesuatu yang telah kita ciptakan di Jakarta dan membagikannya kepada dunia,” kata Shane Lewis, CEO Butter Baby, Rabu (10/6/26).
Setelah sukses membuka toko pertamanya di Jakarta, tepatnya di Blok M Pasaraya pada 2025 lalu, Butter Baby juga telah membuka pop up store di Amerika Serikat. Rencananya, gerai Butter Baby juga akan dibuka di Thailand dan Malaysia, menyusul ke kota di negara lainnya.
“Seperti Butter Baby ketika mendarat di sini, dia menyerap begitu banyak budaya, energi, dan cinta di tempat ini. Saya pikir membawa energi Indonesia ke luar (negeri) akan luar biasa bagi semua orang,” tambah Shane.
Film Animasi Hubungkan Perjalanan Butter Baby Secara Emosional

Selain memperkenalkan asal-usul Butter Baby dengan cara yang lebih menghibur dan mendalam, film animasi juga jadi cara untuk menghubungkan perjalanan karakter maupun brand itu sendiri secara emosional.
“Kami ingin orang-orang tahu dan melihat bahwa ada hubungan emosional, harapan, perasaan yang sangat berarti untuk Butter Baby. Apapun yang kita lakukan di sini, apakah itu menjual donat, menjual merchandise segala macam itu untuk mencapai tujuan ‘menyelamatkan’ Butterlandia,” ungkap Karen Tjahja, Head of Marketing and Business Development Butter baby, Rabu (10/6/26).
Film tersebut menceritakan perjalanan Butter Baby yang terdampar di bumi hingga merasa nyaman dan menemukan tujuan baru, mengenalkan dessert dari Butterlandia kepada dunia.
”Jadi seperti pengalaman Butter Baby di bumi, karakternya akan terus bertumbuh dan dia akan jadi pribadi yang lebih baik. Sama seperti kita semua, kita selalu bisa jadi seorang yang lebih baik. Jadi ceritanya baru akan dimulai di sini dan kita sangat menunggu karakter Butter Baby semakin berkembang,” jelasnya.
Itu dia penjelasan keunikan donat kekinian ini kisahkan karakter ikoniknya dengan film animasi. Ini jadi cara baru untuk mengenalkan brand yang lebih mendalam dan dekat dengan konsumen.
Menarik, ya!


















