Bukan sekadar curhatan, buku Aurelie Moeremans telah sampai ke meja DPR untuk mendorong perubahan sistem hukum di Indonesia agar lebih berpihak pada perlindungan anak.
"Di 2026, child grooming akhirnya dibicarakan secara terbuka, bahkan di sekolah. Supaya anak-anak aware akan tanda-tandanya. Supaya mereka nggak harus mengalami apa yang pernah aku alami," tegas Aurelie.
Langkah ini diharapkan dapat memutus rantai predator anak yang sering kali memanfaatkan ketidaktahuan korban. Dengan adanya edukasi di sekolah, Aurelie berharap sistem pencegahan di Indonesia menjadi lebih kuat dan sistematis.
Luar biasa sekali keberanian Aurelie Moeremans ya, Ma. Dari sebuah luka lama, ia berhasil menciptakan perubahan nyata untuk masa depan anak-anak Indonesia yang lebih aman.
Apa sebenarnya inti dari pesan "Chapter 23: Bebas" yang ditulis Aurelie Moeremans? | Pesan tersebut merupakan simbol kebebasan Aurelie Moeremans dari trauma masa lalu. Angka 23 merujuk pada bab perjalanan hidupnya yang kini tidak lagi diwarnai ketakutan, melainkan kekuatan untuk membawa perubahan bagi sistem perlindungan anak di Indonesia. |
Mengapa buku Aurelie Moeremans sampai dibawa ke pembahasan di DPR? | Buku tersebut memicu kesadaran publik yang masif, sehingga dianggap sebagai bukti nyata perlunya penguatan regulasi hukum terkait child grooming. Tujuannya agar ada payung hukum yang lebih spesifik untuk menjerat pelaku manipulasi psikologis terhadap anak di bawah umur. |
Apa pesan Aurelie Moeremans untuk para orang tua terkait bahaya grooming? | Aurelie Moeremans menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orangtua dan anak. Dengan membicarakan isu ini secara terbuka sejak di bangku sekolah, anak-anak akan lebih peka terhadap tanda-tanda manipulasi dari orang dewasa di sekitar mereka. |