"Aku selalu bilang, 'Honey, kamu tahu nggak? Finally, kamu nggak akan pernah diingat menjadi abu.’ Aku berharap kamu bisa datang di salah satu kursi penonton ini, meskipun aku nggak bisa lihat kamu,” kenang Fanny.
Fanny Kondoh Punya Alasan Percayakan Kisahnya ke Istri Denny Sumargo

Film Baby Udon mengangkat kisah nyata Fanny Kondoh dan mendiang Hajime. Mulai dari perjuangan kanker stadium akhir, ikhtiar memiliki anak, serta kelahiran Kazuki Udon.
Fanny Kondoh hanya percaya kisah hidupnya kepada Olivia Allan dan Denny Sumargo karena merasa aman serta yakin cerita tersebut akan digarap secara hati-hati.
Fanny Kondoh mengenang adegan Hajime mengompol darah sebagai yang paling nyata.
Baby Udon merupakan film adaptasi kisah nyata yang mengangkat perjalanan cinta, keteguhan iman, dan pengorbanan tanpa syarat antara Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh.
Film ini menggambarkan perjuangan melewati vonis kanker stadium akhir, lika-liku ikhtiar memiliki anak, hingga pembuktian keajaiban doa Kun Faya Kun lewat kelahiran putra mereka, Kazuki Udon (KazKaz).
Dalam sesi konferensi pers film Baby Udon di CGV Grand Indonesia, Rabu (26/8/2026), Fanny Kondoh membuka cerita soal alasannya bersedia memercayakan kisah hidupnya bersama mendiang suami untuk diangkat ke layar lebar. Dari sekian banyak tawaran yang pernah datang, ia mengaku hanya bersedia menyerahkan cerita ini kepada Olivia Allan (Ci Oliv) dan Denny Sumargo.
Selain itu, Fanny mengaku perasaannya campur aduk hingga tak kuasa menahan air mata di sepanjang perjalanan menuju lokasi acara, mengingat memori kebersamaannya dengan almarhum suami yang kini diabadikan menjadi sebuah karya.
Nah, kali ini Popmama.com rangkum alasan Fanny Kondoh percayakan kisahnya ke Ci Oliv.
Yuk, disimak!
Table of Content
1. Keyakinan serta rasa aman bersama Ci Oliv dan Denny Sumargo

Instagram.com/fannykondoh Fanny Kondoh mengaku menerima banyak tawaran untuk mengangkat kisah hidupnya menjadi sebuah film, tetapi ia memilih untuk hanya percaya kepada Olivia Allan atau lebih akrab dipanggil Ci Oliv.
Rasa aman dan keyakinan bahwa kisahnya akan digarap dengan hati-hati menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut, sekaligus menjadi fondasi penting yang akhirnya membuat Baby Udon bisa terwujud di layar lebar.
2. Pesan haru untuk mendiang Hajime menjelang penanyangan film

Instagram.com/fannykondoh Momen paling emosional datang saat Fanny Kondoh menceritakan perasaannya sepanjang perjalanan menuju hari konferensi pers. Fanny mengaku menangis di dalam mobil sambil membayangkan sosok mendiang suaminya turut menyaksikan film debut anak mereka, KazKaz, meski hanya lewat kehadiran spiritualnya.
Fanny menambahkan bahwa meski mendiang suaminya sudah tiada, ia yakin sosoknya akan selalu ada bersamanya dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.
3. Adegan paling mirip dengan kenyataan, yakni saat Hajime ngompol darah di kasur

Dok. Goodwork Fanny Kondoh mengaku adegan syuting saat karakter Hajime mengompol darah di kasur adalah momen yang paling persis menggambarkan apa yang benar-benar ia alami bersama mendiang suaminya.
Fanny menjelaskan bahwa laki-laki biasanya menaruh kebanggaan pada pekerjaan dan ketangguhannya, sehingga ketika tubuhnya sudah tidak lagi bisa diandalkan untuk memberi rasa aman bagi keluarga, hal itu terasa sangat menghancurkan.
"Sebagai laki-laki, harusnya dia bisa memberikan kita security of feeling, security of financial, security of emotional, protective, and everything. Tapi pada saat itu, dia merasa gagal memberikan itu semua ke istrinya," jelas Fanny.
Fanny mengenang bagaimana mendiang suaminya sempat berucap, "Maafin ya, aku cuma bisa ngerepotin kamu," sebuah momen yang menurutnya berhasil dihidupkan kembali oleh Denny Sumargo dengan sangat presisi di layar lebar.
4. Pesan tentang melepas kemelekatan pada titipan Tuhan

Instagram.com/fannykondoh Fanny Kondoh berharap penonton bisa menyadari bahwa suami, anak, rezeki, hingga kesehatan adalah nikmat titipan dari Allah yang bisa diambil kapan saja. Menurutnya, manusia sering kali sudah terlalu melekat pada nikmat-nikmat tersebut, sehingga kesusahan untuk melepaskannya ketika saatnya tiba.
"Kita nggak pernah tahu kapan suami kita pergi, kapan anak kita akan kembali, kesehatan kita diambil, ataupun rezeki kita hilang," ungkap Fanny.
Ia berharap film Baby Udon bisa menjadi pengingat bagi para penonton. Terutama soal apa yang mereka miliki saat ini sebenarnya sangat berharga, dan waktu bersama orang-orang tercinta tidak boleh disia-siakan.
Kisah yang dibagikan Fanny Kondoh bukan sekadar tentang mengenang cinta yang telah tiada, melainkan sebuah pengingat nyata tentang ketulusan, kesetiaan, dan penerimaan tanpa syarat dalam pernikahan. Keberaniannya memercayakan kisah ini ke layar lebar membuktikan bahwa di balik duka yang mendalam, selalu ada kekuatan luar biasa yang bisa dibagikan untuk menguatkan hati banyak orang di luar sana.
Bagi Mama dan Papa, perjalanan hidup Fanny dan mendiang Hajime mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap detik kebersamaan bersama keluarga kecil di rumah. Selagi waktu masih berpihak, peluklah pasangan dan anak-anak dengan penuh syukur, rawatlah komitmen dengan keikhlasan, dan jadikan setiap ujian rumah tangga sebagai ruang untuk saling menguatkan, bukan saling melepaskan.




















