Pernahkah kamu mendengar kisah pejuang dua garis biru dari pasangan Fanny Kondoh dan mendiang Hajime Kondoh (Papa Udon)? Kisah yang sempat viral pada tahun 2025 lalu hingga menyentuh hati banyak orang ini akan diangkat ke layar lebar, lho.
8 Fakta Kisah Cinta Fanny Kondoh, Penuh Rintangan dan Perjuangan

Fanny dan Hajime Kondoh bertemu pada 2015 di Marugame Udon Semarang saat Fanny menjadi kasir dan Hajime menjabat General Manager, lalu hubungan mereka berkembang meski sempat terhalang jarak.
Pasangan ini menikah pada 2017 setelah menghadapi perbedaan agama dan usia 25 tahun. Kemudian, Hajime menjadi mualaf sebelum akad, menyusul komitmen serta pencarian spiritualnya.
Setelah program bayi tabung, keguguran, dan diagnosis kanker Hajime, transfer embrio ketiga berhasil. Fanny Kondoh mengetahui kehamilannya setelah Hajime meninggal pada 15 Oktober 2024.
Kabarnya, film yang akan tayang pada 3 September 2026 ini memiliki judul Baby Udon. Penamaan film tersebut terinspirasi dari nama panggilan Kazuki Musa Kondoh, anak semata wayang Fanny Kondoh dan Papa Udon.
Film ini menyuguhkan kisah cinta yang mendalam, mengikuti perjuangan pasangan suami istri untuk mendapatkan keturunan hingga diterpa cobaan terberat dalam pernikahan mereka. Namun, kalau melihat kisah cinta dari keduanya, mereka sempat mempunyai tantangan berat sebelum sah menjadi suami istri. Bahkan, pertemuan mereka terjadi secara spontan.
Apakah kamu pernah bertanya-tanya bagaimana Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh bisa bertemu sampai akhirnya menjadi suami istri? Kalau kamu masih penasaran, berikut Popmama.com akan membagikan rangkuman fakta kisah cinta Fanny Kondoh.
Yuk, baca sampai akhir!
1. Bertemu dengan mendiang suaminya saat bekerja sebagai kasir Marugame Udon

Instagram.com/fannykondoh Kisah asmara Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh berawal di gerai Marugame Udon Semarang pada tahun 2015.
Kala itu, Hajime yang merupakan General Manager Marugame Udon se-Indonesia tengah menyambangi gerai baru tersebut dalam rangka memantau pembukaan cabang baru, sedangkan Fanny saat itu tengah bertugas sebagai kasir.
“Waktu itu masih GM (Hajime), tapi dia visit di sana (Semarang). Waktu itu aku masih jadi kasir. Aku di kasir, dia datang. Pada saat itu sebagai karyawan biasa sulit ketemu Kondoh-san, jarang banget ketemu bos besar,” ucap Fanny Kondoh.
2. Merasa yakin kalau Hajime Kondoh akan menjadi suaminya saat berkenalan

Instagram.com/fannykondoh Saat pertama kali bertemu dan berjabat tangan, Fanny mengaku sudah memiliki firasat kuat bahwa Hajime Kondoh akan menjadi suaminya.
“Aku tuh nggak bisa (bahasa Inggris). ‘Halo mister, nice to meet you’, pas pertama kali shaking hand itu aku sudah batin ‘He's gonna be my husband’. Aku sudah batin itu aku sudah yakin demi Allah,” kata Fanny Kondoh.
Firasat tersebut muncul setelah ia merasa lelah dengan kegagalan asmara yang berulang, hingga sempat berdoa agar segera dipertemukan dengan pasangan hidup yang mapan.
“Pada saat itu aku memang lagi capek dengan dunia percintaan ini. Terus aku tuh ngebatin sama Tuhan ‘Ya Allah, aku tuh capek kerja, pengin dinafkahin, aku pengin nikah, punya pasangan hidup, dan aku capek miskin’ Terus, dia datang pegang tangan,” ungkap Fanny.
Fanny awalnya tidak menyangka bahwa Hajime Kondoh merupakan seorang duda tiga anak asal Jepang. Momen spesial tersebut kian terasa ketika Hajime Kondoh hanya memberikan kartu namanya kepada Fanny seorang di tempat mereka bertemu.
“Saat itu yang dikasih kartu nama dia cuma aku doang, satu outlet nggak dikasih,” tuturnya.
3. Mulai tertarik kepada Hajime walaupun belum punya hubungan khusus

Instagram.com/fannykondoh Lama-kelamaan, Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh mulai rutin berkomunikasi dari jarak jauh. Walau belum punya hubungan, Fanny Kondoh sudah menaruh rasa tertarik karena melihat sosok Hajime sebagai atasan yang rendah hati dan mau terlibat langsung di lapangan.
“Waktu istirahat kita sudah main mata. Tapi yang aku lihat dari dia, dia itu tipe atasan yang mau turun lapangan,” jelasnya.
Walau komunikasi mereka sempat terputus akibat padatnya jadwal kerja Hajime, akhirnya hubungan mereka dapat terhubung kembali hingga menjadi makin erat.
4. Hajime melamar Fanny Kondoh

Instagram.com/fannykondoh Singkat cerita, Fanny Kondoh mendapatkan promosi jabatan sebagai trainer manajer di Jakarta. Namun, siapa sangka bahwa promosi jabatan tersebut menjadi titik balik kehidupan Fanny, yang kemudian dipersunting oleh Hajime Kondoh.
“Dibawa ke Jakarta buat jadi trainer terus habis itu ternyata dibawa ke Jakarta dijadiin istri,” ujar Fanny Kondoh.
Meski sempat menjalani hubungan jarak jauh, Kondoh menunjukkan keseriusannya dengan mendatangi kediaman mamanya Fanny di Probolinggo, Jawa Timur. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan perasaannya sekaligus menyerahkan cincin tunangan.
“Desember dia tiba-tiba Line aku, bilang ‘Fanny, I want to go Semarang’. ‘Oh, iya Pak, nanti aku bilangin manager buat kedatangan Bapak’. ‘No, no. I want to go Semarang, I want to make sure my feeling ke kamu’ katanya, ceritanya LDR. Dia ke Probolinggo rumahku, aku dibeliin cincin pengikat,” tutur Fanny Kondoh.
5. Tantangan terbesar sebelum keduanya akhirnya menikah

Instagram.com/fannykondoh Rupanya, hubungan keduanya terdapat tantangan besar karena perbedaan agama dan jarak usia 25 tahun. Meski begitu, berbekal komitmen kuat dan pencarian spiritual yang panjang, Hajime Kondoh akhirnya mantap menjadi mualaf.
Keputusan ini berawal dari momen emosional saat Hajime Kondoh terbaring sakit akibat demam tinggi selama lima hari menjelang pernikahan. Kala itu, Fanny menyampaikan keinginannya untuk bisa hidup berdampingan tidak hanya di dunia, tetapi juga hingga di surga.
“Persiapan akad itu dia sebetulnya belum mau mualaf, tapi tiba-tiba demam lima hari dibawa ke rumah sakit masih demam. Terus aku bilang ‘Aku ingin kita bukan hanya bersama di dunia ini, tapi di akhirat, aku tuh pengin kita surganya sama,” ucap Fanny Kondoh kepada Hajime Kondoh kala itu.
Tersentuh oleh pesan tersebut, Hajime Kondoh akhirnya resmi mengucapkan syahadat secara penuh keyakinan pada tahun 2017 dan mengikrarkan janji suci pernikahan sebagai seorang muslim.
6. Berjuang bersama-sama di tengah banyaknya cobaan

Instagram.com/fannykondoh Kebahagiaan Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh dalam membangun rumah tangga harus menghadapi ujian berat setelah beberapa tahun menikah. Setelah menikah pada 2017, keduanya memutuskan menjalani program bayi tabung pada 2019 demi memiliki keturunan.
“Nikah 2017 habis nikah kok belum punya anak, akhirnya aku bayi tabung itu tahun 2019. Dua kali embrio transfer, sempat hamil terus keguguran,” ujar Fanny Kondoh.
Di tengah perjuangan tersebut, ternyata suaminya didiagnosis mengidap kanker kandung kemih dan kondisi kesehatannya terus menurun hingga dokter sempat memprediksi hidupnya hanya tersisa beberapa bulan.
Meski demikian, keinginan Hajime Kondoh untuk memiliki anak justru semakin kuat. Ia berulang kali meminta istrinya untuk kembali menjalani proses transfer embrio karena berharap kehadiran anak dapat menjadi alasan baginya untuk terus bertahan hidup.
Fanny Kondoh sempat diliputi kekhawatiran karena membayangkan harus membesarkan anak seorang diri jika kondisi suaminya semakin memburuk, tetapi akhirnya luluh dan memilih memenuhi keinginan Hajime Kondoh tanpa memberikan tekanan bahwa proses tersebut harus berujung pada kehamilan.
7. Kepergian Hajime Kondoh menjadi momen Fanny Kondoh mengetahui dirinya hamil

Instagram.com/fannykondoh Setelah mendapat perawatan medis karena diketahui darah Fanny Kondoh terlalu kental, sehingga menyulitkan janin untuk bertahan, mereka memutuskan melakukan transfer embrio untuk ketiga kalinya.
Proses tersebut berlangsung ketika Hajime Kondoh tengah menjalani perawatan di Singapura dalam kondisi yang semakin parah hingga akhirnya harus dipulangkan ke Jepang. Sebelum itu, Hajime Kondoh sempat mempertemukan Fanny Kondoh dengan mantan istri dan ketiga anaknya untuk membicarakan persoalan warisan.
Setelah kembali ke Indonesia, Fanny Kondoh menjalani transfer embrio seorang diri pada hari Senin, sementara Hajime Kondoh masih berada di rumah sakit. Keesokan harinya, kondisi sang suami kembali memburuk dan ia harus menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia pada 15 Oktober 2024 sekitar pukul 23.33 WIB.
Kepergian Hajime Kondoh menjadi momen yang sangat berat bagi Fanny Kondoh, terlebih saat itu ia belum mengetahui apakah proses transfer embrio yang baru dilakukannya itu berhasil atau tidak. Namun, setelah Hajime Kondoh berpulang, Fanny Kondoh justru mengetahui bahwa dirinya berhasil hamil.
8. Hajime Kondoh seakan tahu istrinya hamil

Instagram.com/fannykondoh Sebelum meninggal, Hajime Kondoh ternyata telah menunjukkan keyakinannya bahwa embrio tersebut akan berkembang menjadi seorang anak. Saat berada dalam kondisi kritis, ia bahkan sempat memegang perut Fanny Kondoh dan berdoa agar Allah melindungi istri serta anaknya.
“Ketika dia sakaratul maut, itu dari pagi, tensinya turun terus, dia pegang perut aku dan bilang, ‘Ya Allah, lindungilah anak dan istriku, aku nggak apa-apa kalau pergi, tapi lindungi istri dan anak aku’. Padahal itu baru seminggu embrio transfer kan, belum tahu hamil atau nggak. Tapi, dia tahu kalau ini akan hamil dan dia sudah menyiapkan nama yang pakai kanji,” jelas Fanny Kondoh.
Nama yang disiapkan Hajime Kondoh itu bernama Kazuki dengan tetap mempertimbangkan identitas muslim sang anak.
“Dia kasih nama Kazuki artinya ketenangan kebahagiaan untuk banyak orang, di tengah Musa dan dia oke karena harus ada identitas muslim,” katanya.
Perjuangan panjang Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh untuk memiliki keturunan pun akhirnya berakhir dengan kehamilan yang harus dijalani Fanny seorang diri setelah kehilangan sang suami di usia 29 tahun.
Itulah rangkuman terkait fakta kisah cinta Fanny Kondoh. Setelah mengetahui kisah cinta dari pasangan ini, jangan lupa untuk menonton filmnya nanti di bioskop, ya.





















