5 Kebiasaan Sepele yang Memicu Konflik Rumah Tangga

Apa hubunga Mama dan pasangan sudah tak lagi sehangat dulu?

8 April 2021

5 Kebiasaan Sepele Memicu Konflik Rumah Tangga
Freepik/katemangostar

Pasangan suami istri yang sudah lama menikah perlahan-lahan mulai mencapai titik jenuh. Akibatnya jarak di antara keduanya menjadi renggang dan tak jarang juga mengakibatkan perselisihan kecil. 

Jika Mama menilai hubungan bersama pasangan tak lagi sehangat dulu, maka cobalah untuk mulai mencari tahu kira-kira apa saja akar penyebabnya.

Nah Ma, ketahui beberapa kebiasaan sepele yang memicu konflik suami istri. Dilansir dari Bright side, kali ini Popmama.comsudah merangkumnya. 

Disimak ya, Ma!

1. Tidak menikmati setiap momen berdua

1. Tidak menikmati setiap momen berdua
freepik/freepik

Menghabiskan waktu berkualitas bersama pasangan sangat penting dalam membangun sebuah hubungan yang harmonis. Jika Mama dan suami hanya duduk di sofa yang sama seharian, namun sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ini mengartikan bahwa kalian tidak bisa menghabiskan waktu berkualitas. 

Kurangnya komunikasi menjadi salah satu alasan pemicu hubungan yang renggang. Maka dari itu, cobalah untuk melakukan hal-hal yang membuat Mama dan suami lebih banyak berinteraksi, seperti memasak, berkebun atau jalan-jalan bersama. 

Editors' Picks

2. Kurang menghargai pasangan 

2. Kurang menghargai pasangan 
Pexels/alex-green

Hubungan antara pasangan suami istri akan mulai renggang, apalagi jika salah satu di antara mereka kurang bisa menghargai. 

Apakah suami selalu mengerjakan tugas rumah tangga di akhir pekan? Sebaiknya Mama tidak menyepelekan hal ini dan menganggap kerja kerasnya sebagai kewajiban, bahkan menjadi bagian dari rutinitas saja. 

Mama juga perlu memberikan pujian dan memperlihatkan rasa terima kasih. Ingatlah untuk terus menghargainya dan tunjukkan rasa kasih sayang sepenuhnya untuk suami. 

3. Tidak menghargai batasan

3. Tidak menghargai batasan
Freepik/lipik

Mama mungkin merasa sangat nyaman dengan suami, sehingga mulai menilai bahwa kebutuhan diri sendiri dengan kebutuhan pasangan dianggap sama.

Contohnya saja ketika suami butuh melakukan hobinya saat akhir pekan. Mungkin Mama menganggap hal tersebut hanya buang-buang waktu saja, maka ini mengartikan bahwa Mama tidak bisa memahami apa yang benar-benar dibutuhkan suami. 

Demi kehidupan rumah tangga yang harmonis, sebaiknya Mama bisa memberikan suami ruang untuk melakukan hal-hal yang ia suka. Cobalah untuk tidak mengganggu dan hormati batasannya.

Walau hubungan Mama dan pasangan sangat dekat sebagai pasangan suami istri, namun perlu diingat bahwa kalian merupakan dua orang yang berbeda dan terkadang punya kebutuhan yang berbeda-beda. 

4. Tidak merawat diri sendiri 

4. Tidak merawat diri sendiri 
Freepik/cookie_studio

Setelah menikah bertahun-tahun Mama mungkin merasa sangat nyaman dengan pasangan, sehingga terkadang kurang memperhatikan penampilan. 

Ingat Ma, menjaga penampilan itu perlu. Contohnya melakukan rutin olahraga, makan makanan sehat dan merias diri. Lakukanlah hal tersebut sebagai bentuk untuk mencintai diri sendiri, sehingga suami pun akan semakin cinta dengan Mama. 

5. Selalu menghindari konflik 

5. Selalu menghindari konflik 
Freepik

Menghindari konflik mungkin bisa menghindari Mama dan suami dari pertengkaran, bahkan yang sebenarnya tak perlu. Namun, terus-terusan menghindari konflik juga tidak baik. Ini artinya Mama sering menyembunyikan perasaan, mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan memupuk rasa frustrasi. 

Perlu diingat bahwa Mama tidak bisa hidup seperti itu selamanya. Sewaktu-waktu rasa frustasi itu akan meledak. Jangan berpikir bahwa suami bisa membaca isi hatimu ya, Ma. Satu-satunya cara mengatasi konflik dengan pasangan, yakni dengan membicarakannya dan berdiskusi untuk menemukan jalan keluar. 

Nah, itulah beberapa kebiasaan sepele yang membuat hubungan suami istri jadi renggang. Hilangkan kebiasaan tersebut mulai sekarang ya, Ma!

Baca Juga

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.