Lebih dari sekadar kedekatan emosional, hubungan yang sehat juga dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan tanggung jawab bersama, termasuk dalam membahas hubungan seks dan alat kontrasepsi seperti kondom. Namun, masih ada pasangan yang menganggap pembahasan terkait alat kontrasepsi sebagai bentuk proteksi diri dan kenyamanan bersama dalam hubungan itu terasa canggung untuk dibicarakan.
Kondom Ini Ciptakan Ruang Aman dan Edukasi Seks untuk Generasi Muda

Okamoto meluncurkan ruang interaktif “Playspace” sebagai wadah edukasi seks yang aman dan menyenangkan bagi generasi muda, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran pentingnya proteksi dan kenyamanan dalam hubungan.
Dr. Haekal Anshari menekankan perlunya pendekatan edukasi seks yang terbuka, ringan, dan relevan agar generasi muda memahami tubuh serta fungsi reproduksi tanpa rasa tabu atau penghakiman.
Edukasi seksual sejak dini dianggap penting untuk membentuk pemahaman batasan tubuh, tanggung jawab pribadi, serta penggunaan alat kontrasepsi secara benar demi hubungan yang sehat dan saling menghargai.
Lebih lanjut, Okamoto juga menghadirkan seorang dokter di bidang seks untuk menjelaskan terkait bagaimana pendekatan yang ringan, terbuka, dan menyenangkan dalam suatu hubungan. Dengan begitu, pemahaman mengenai pentingnya proteksi dan kenyamanan dalam suatu hubungan bisa dipahami secara jelas.
Bukan hanya terhadap pasangan, sang dokter juga mengimbau untuk memberikan arahan edukasi seksual yang jelas dan terbuka kepada anak-anak agar bisa sepenuhnya memahami serta punya kendali atas alat produksi yang mereka punya. Lantas, apa saja yang dijelaskan oleh dokter mengenai isu seksual ini? Berikut Popmama.com akan membagikan informasi terkait Okamoto ciptakan ruang aman dan edukasi seks untuk generasi muda.
1. Adanya perbedaan pola pikir antar generasi dalam membahas isu seksual

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Menurut dr. Haekal Anshari, selaku Sex Educator, menyampaikan bahwa pembahasan soal seks kerap dianggap canggung, bahkan ditabukan, terutama oleh generasi sebelum Gen Z. Topik seperti proteksi atau kondom sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang sensitif dan tidak pantas dibicarakan secara terbuka.
Padahal, sikap tabu tersebut membuat banyak anak muda tumbuh tanpa informasi yang tepat. Alih-alih mendapat edukasi, mereka justru kerap dihadapkan pada penghakiman saat mencoba bertanya tentang kesehatan seksual.
Generasi “VOC” atau milenial yang kini menjadi orangtua dibesarkan dengan pola pikir yang lebih tertutup terhadap isu seksual. Beda halnya dengan anak-anak muda sekarang atau Gen Z yang memiliki cara pandang yang jauh lebih terbuka.
Gen Z cenderung melihat seksualitas sebagai bagian dari fungsi tubuh, sama seperti sistem pernapasan atau fungsi biologis lainnya. Bagi mereka, membicarakan seksualitas bukan lagi hal tabu, melainkan bagian dari pengetahuan dasar tentang tubuh.
“Sedangkan generasi ‘VOC’ atau milenial ini sudah menjadi orangtua yang memiliki atau punya anak yang Gen Z. Gen Z punya otak yang open-minded. Kalau misalnya ngomongin tentang fungsi seksual ini merupakan bagian dari fungsi tubuh kita. Sama seperti kita ngomongin tentang sektor pernapasan, maka ngomongin seksualitas itu sebetulnya hal yang tidak lagi ditabukan,” ucap dr. Haekal Anshari.
2. Pentingnya edukasi seksualitas

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Pembahasan soal kondom atau seksualitas terasa canggung karena pendekatan edukasinya belum sepenuhnya sesuai dengan karakter generasi sekarang.
Oleh sebab itu, dr. Haekal Anshari menyarankan terkait butuhnya metode yang seru, ringan, interaktif dalam membahas persoalan seksologi, tetapi tetap sarat makna agar pesan bisa diterima tanpa kesan menggurui atau menghakimi.
“Dan penting banget, karena yang namanya ngomongin tentang seksualitas, ini merupakan cara kita untuk memahami tubuh kita, memahami pertumbuhan dan perkembangan tubuh kita, termasuk alat reproduksinya. Kita harus memahami organ tersebut dengan benar.” kata dr. Haekal Anshari.
Edukasi seks bukan sekadar membahas aktivitas seksual, tetapi tentang memahami tubuh, pertumbuhan, serta fungsi organ reproduksi secara benar. Seseorang yang tidak mengenal tubuhnya sendiri akan kesulitan melindungi dirinya.
Sang dokter juga memberitahu bahwa ada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan edukasi tentang organ reproduksi cenderung tidak memiliki kesadaran untuk menjaga dan melindunginya. Karena itu, penting menanamkan pemahaman bahwa setiap individu memiliki otonomi penuh atas tubuhnya.
“Jadi, mereka yang tidak bisa, tidak tahu mengenai organ tubuhnya, bagaimana mereka bisa melindunginya. Jadi, penting banget untuk edukasi tentang organ seksual yang kamu punya otonomi penuh atasnya dan ini tidak boleh kamu sembarangan kamu tampilkan, kamu lakukan ke siapa pun,” sambungnya.
3. Hubungan seks menjadi kebutuhan manusia sekaligus menyehatkan tubuh

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Jika edukasi seksual dibangun dengan baik, komunikasi mengenai seksualitas akan menjadi lebih terbuka dan sehat, bukan sesuatu yang tabu atau berkonotasi porno. Seks pada dasarnya merupakan bagian dari fitrah manusia.
“Penting banget kalau edukasi itu sudah terbangun dengan baik, maka yang namanya komunikasi untuk memiliki kualitas itu akan lebih terbuka dan tidak porno, ya. Karena ini yang namanya fitrah manusia, manusia butuh seks, dan ini seks yang dilakukan akan menunjang kesehatan tubuh,” tutur dr. Haekal Anshari.
Manusia membutuhkan seks sebagai bagian dari kehidupan yang juga berdampak pada kesehatan fisik. Ketika dilakukan secara sehat dan menyenangkan, aktivitas seksual tidak hanya melibatkan organ kelamin, tetapi juga kerja jantung, pernapasan, otot, hingga sistem rangka.
“Jadi kalau seksnya menyenangkan, karena yang namanya berhubungan seks itu tidak hanya melibatkan organ kelamin saja, tapi melibatkan fungsi jantung, pernapasan, otot, rangka bergerak. Kalau seks yang sehat tentu akan menunjang kesehatan tubuh,” sambung dr. Haekal Anshari.
4. Pentingnya ruang diskusi yang aman dan tidak menghakimi

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Berbeda dengan zaman sebelumnya, generasi sekarang seperti Gen Z dengan mudah dan cepat mengakses informasi melalui media dan internet. Hal ini juga termasuk beragam informasi sumber pengetahuan tentang kesehatan seksual yang bisa ditemukan hanya dengan beberapa klik.
Namun, kemudahan akses ini juga menuntut adanya pendampingan dan ruang diskusi yang tepat kepada generasi tersebut, tentunya tanpa adanya rasa menghakimi. Tanpa arahan yang benar, informasi yang luas tersebut bisa disalahartikan atau tidak dipahami secara utuh.
“Karena Gen Z itu punya keingintahuan yang lebih luas, atau generasi modern. Mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih mudah diakses, kayak media, internet, yang mungkin informasinya luas. Oleh karena itu, generasi modern itu butuh ruang diskusi yang aman, yang tentunya bisa diterima oleh mereka, yang tidak menghakimi-lah,” ujar dr. Haekal Anshari.
5. Memberikan arahan edukasi yang jelas terkait alat kontrasepsi

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Dr. Haekal Anshari menegaskan bahwa kondom merupakan alat kesehatan yang berfungsi sebagai proteksi. Tujuannya bukan untuk menormalisasi seks bebas, melainkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam hubungan.
“Beda ketika saya masih remaja, nanya tentang, ‘Ma, kondom itu apa sih?’, langsung dihakimi. Ya, ngapain? Padahal yang namanya kondom itu proteksi, ya. Ini merupakan alat kesehatan. Tujuannya bukan untuk menormalisasi seks bebas, tapi ini merupakan alat kesehatan yang tujuannya untuk proteksi keamanan dan kenyamanan,” jelas dr. Haekal Anshari.
Alat kontrasepsi ini menjadi konsep proteksi dan kenyamanan berjalan beriringan sebagai bagian dari hubungan yang sehat dan penuh tanggung jawab. Edukasi yang benar membantu generasi muda memahami konteks tersebut secara matang.
Inisiatif seperti pengalaman interaktif “Playspace” dari Okamoto menjadi contoh bagaimana pesan kesehatan seksual bisa disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan anak muda.
“Pendekatan edukasi yang sifatnya terbuka, relevan, tidak menghakimi, dan berinteraksi itu lebih dapat diterima oleh generasi modern. Jadi penting banget untuk bisa menghadirkan ruang diskusi yang aman, yang tentunya tujuan utamanya adalah edukasi, bukan untuk menormalisasi hal-hal negatif. Yang kita pikir negatif, tapi ini sebetulnya adalah hal yang patut diberikan kepada generasi muda agar mereka bisa lebih terarah,” sambungnya.
6. Menanamkan edukasi seksual sejak dini

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina Pentingnya menanamkan edukasi seksual sejak usia anak-anak agar mereka ke depannya memahami batasan terhadap tubuhnya sendiri. Organ seksual bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sembarangan atau dipertontonkan tanpa pemahaman.
Dengan edukasi yang tepat dan tidak menghakimi, generasi muda akan tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka memiliki kendali penuh atas tubuhnya. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun rasa tanggung jawab dan perlindungan diri.
“Jadi tiba-tiba saja karena kita nggak tahu fungsinya apa, maknanya apa, kita segampang itu untuk memaparkan keluar. Ini penting banget bahwa edukasi tentang tubuh, terutama tentang tubuh seksual, itu penting diberikan sebanyak mungkin supaya anak-anak yang sudah tumbuh dewasa, mereka punya kendali penuh atas tubuhnya,” ungkapnya.
Itulah informasi terkait Okamoto ciptakan ruang aman dan edukasi seks untuk generasi muda. Kamu sendiri apakah masih canggung dalam membahas isu seksual dengan pasangan nggak, nih?






















