"Buat apa anak saya sukses, buat apa anak saya luar biasa seperti yang kita harapkan ketika dia kecil, tetapi hubungan saya dengan anak saya rusak. Apakah benar saya mau berkorban seperti itu?" ungkap Ringgo saat sesi talkshow di IDN HQ.
Lewat Film Aku Sebelum Aku, Popmama Community Jadi Punya Ruang Refleksi

Popmama Community dan Netflix menggelar acara reflektif lewat film Aku Sebelum Aku. Acara ini mengajak para orangtua memahami luka masa lalu sebelum membangun hubungan sehat dengan anak.
Ringgo Agus Rahman mengaku bahwa setelah terlibat dalam film Aku Sebelum Aku, ia jadi lebih sering mengevaluasi caranya mengasuh anak.
Sesi Re-Draw Your Childhood menghadirkan momen emosional, membantu peserta mengenang masa kecil dan belajar berdamai agar tidak mewariskan trauma pada generasi berikutnya.
Menjadi orangtua bukan hanya soal membesarkan anak, tetapi juga memahami luka dan pengalaman yang pernah kita alami semasa kecil. Berangkat dari pesan tersebut, Popmama Community bersama Netflix pada Sabtu (18/7/2026) menggelar acara spesial bersama para orangtua melihat pentingnya proses penyembuhan diri sebelum membangun hubungan dengan anak.
Acara ini menghadirkan sesi talkshow interaktif yang bertajuk Lebih Dekat, Lebih Jujur: Tentang Keluarga, Ekspektasi, dan Cerita yang Membentuk Kita bersama psikolog Ayoe Sutomo dan para cast film Aku Sebelum Aku, mulai dari Ringgo Agus Rahman, Prastiwi Dwiarti, dan Widuri Puteri, serta sutradara dan penulis film Gina S. Noer.
Tak hanya berdiskusi, peserta juga mengikuti sesi refleksi bertajuk Re-Draw Your Childhood dan Letter to My Future Children. Melalui dua aktivitas ini, setiap peserta diajak mengenang masa kecil, mengolah emosi, sekaligus menuliskan harapan untuk hubungan yang lebih hangat dengan anak di masa depan.
Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa hal menarik dari acara gathering Popmama Community bersama Netflix dalam merayakan rilisnya film Aku Sebelum Aku.
Yuk, disimak!
1. Ringgo Agus Rahman takut hubungannya dengan anak jadi renggang

Salah satu momen yang paling membekas dalam sesi talkshow datang dari Ringgo Agus Rahman. Papa dua anak ini mengaku bahwa setelah terlibat dalam film Aku Sebelum Aku, dirinya menjadi lebih sering mengevaluasi cara mengasuh anak dan mulai memikirkan dampak dari ekspektasi yang diberikan sebagai orangtua.
Ringgo mengatakan bahwa kini ia justru memiliki ketakutan baru, yakni jika hubungannya dengan anak menjadi rusak karena terlalu fokus mengejar pencapaian. Baginya, keberhasilan seorang anak tidak akan berarti jika harus dibayar dengan hilangnya kedekatan antara orangtua dan anak.
2. Prastiwi Dwiarti menilai mama berperan sebagai penengah dalam keluarga

Dalam sesi talkshow, Prastiwi Dwiarti yang memerankan sosok mama di film Aku Sebelum Aku turut membagikan pandangannya mengenai dinamika hubungan dalam keluarga.
Menurut Tiwi, seorang mama sering kali memiliki peran penting untuk menjaga komunikasi tetap berjalan dengan baik, terutama ketika terjadi perbedaan sudut pandang antara papa dan anak.
Personil dari duo T2 tersebut menjelaskan bahwa sosok mama bukan hanya menjadi pendamping dalam pengasuhan, tetapi juga berperan sebagai penengah yang membantu kedua belah pihak saling memahami. Kehadirannya dapat menjadi jembatan agar komunikasi dalam keluarga tidak berujung pada kesalahpahaman.
"Mama itu menjadi penyeimbang yang harus bisa memainkan perannya. Saat berbicara dengan papa, mama perlu membantu memahami sudut pandang anak, begitu juga sebaliknya. Bukan berarti bermuka dua, tetapi menjadi jembatan agar papa dan anak bisa saling mengerti," ungkap pelantun lagu OK!! ini.
Lewat perannya di film tersebut, Tiwi mengajak para orangtua untuk tidak hanya fokus mencari siapa yang benar atau salah. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dan saling mendengarkan menjadi kunci agar hubungan antara papa, mama, dan anak tetap hangat.
3. Gina S. Noer menggambarkan cinta orangtua bisa menjadi cahaya atau luka

Sutradara dan penulis Aku Sebelum Aku, Gina S. Noer, menjelaskan bahwa film ini ingin memperlihatkan besarnya pengaruh kasih sayang orangtua terhadap kehidupan seorang anak. Menurutnya, cinta yang diberikan orangtua memiliki kekuatan yang sangat besar, baik untuk membangun maupun melukai.
Dalam sesi talkshow, Gina menyampaikan bahwa cinta orangtua dapat menjadi representasi cahaya Tuhan yang membawa rasa aman dan kasih. Namun, di sisi lain, cinta yang tidak sehat juga bisa berubah menjadi sesuatu yang membakar dan meninggalkan luka.
"Konsep ini akhirnya yang membawa bahwa cinta atau kepedulian orangtua itu bisa dianggap menjadi cahaya Tuhan atau bisa menjadi sisi yang membakar," ujar Gina.
Melalui Aku Sebelum Aku, Gina mengajak para orangtua untuk melihat kembali bagaimana cara mereka mengekspresikan kasih sayang. Sebab, bukan hanya niat baik yang penting, tetapi juga bagaimana cinta tersebut dirasakan oleh anak.
4. Trauma masa lalu bisa mengubah cinta menjadi tekanan

Dalam sesi talkshow, Ayoe Sutomo sebagai psikolog turut mengajak peserta untuk melihat kembali makna cinta dan tanggung jawab dalam hubungan orangtua dan anak. Menurutnya, tidak semua hal yang dilakukan atas nama cinta benar-benar dirasakan sebagai bentuk kasih sayang oleh orang yang menerimanya.
Ia menjelaskan bahwa orangtua perlu bertanya pada diri sendiri, apakah tindakan yang dilakukan benar-benar untuk kebaikan anak, atau justru tanpa disadari menjadi sesuatu yang melukai. Sebab, kasih sayang yang disertai tuntutan, kontrol, atau ekspektasi berlebihan dapat berubah menjadi tekanan bagi anak.
Ayoe juga mengungkapkan bahwa pola ini sering kali menjadi sinyal adanya luka atau trauma yang belum selesai dari masa lalu. Tanpa disadari, pengalaman tersebut bisa memengaruhi cara seseorang mengekspresikan cinta kepada anaknya.
"Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah tanggung jawab dan cinta yang kita berikan kepada anak benar-benar untuk kebaikannya atau justru kebalikannya. Kebalikan dalam arti, melukai orang yang kita cintai. Ketika sudah seperti itu, sebenarnya itu bisa menjadi sinyal atau tanda dari respons trauma," ungkap Ayoe.
5. Perbedaan pendapat dengan anak bukanlah sebuah ancaman

Di sisi lain, Ayoe juga menekankan bahwa orangtua tetap boleh menyampaikan harapan atau keinginan kepada anak. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orangtua menyikapi ketika anak memiliki pendapat atau pilihan yang berbeda.
Menurutnya, perbedaan bukan berarti bentuk penolakan atau ancaman terhadap orangtua. Justru kemampuan menerima sudut pandang anak menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
"Orangtua boleh saja menyampaikan apa yang diinginkan kepada anak-anak kita. Namun, kemudian apabila penyampaiannya terdapat perbedaan, tidak menganggap hal tersebut sebagai ancaman. Bisa jadi, kita masih punya trauma yang terjadi dulu dan masih dibawa sampai sekarang," ujarnya.
Tanpa disadari, pengalaman di masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi perbedaan, termasuk dalam hubungan dengan anak. Oleh karena itu, orangtua perlu belajar mengenali respons emosionalnya agar tidak mewariskan pola yang sama kepada generasi berikutnya.
6. Widuri Puteri belajar bahwa berdamai bukan berarti membenarkan masa lalu

Bagi Widuri Puteri, keterlibatannya dalam film Aku Sebelum Aku juga menjadi proses pembelajaran yang mendalam. Widuri mengaku film ini memberinya pemahaman baru tentang arti berdamai dengan pengalaman dan luka di masa lalu.
Menurut Widuri, berdamai bukan berarti membenarkan kesalahan yang pernah dilakukan. Sebaliknya, berdamai adalah menerima kenyataan tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup, lalu memilih untuk tidak lagi membiarkan masa lalu mengendalikan kehidupan saat ini.
"Aku belajar bahwa berdamai itu bukan berarti membenarkan kesalahan keluarga kita di masa lalu. Berdamai adalah belajar menerima dan melepaskan kendali masa lalu atas kehidupan kita sekarang," ungkap Widuri.
7. Sesi Re-Draw Your Childhood menjadi momen refleksi yang emosional

Setelah sesi talkshow, para peserta diajak mengikuti aktivitas refleksi bertajuk Re-Draw Your Childhood. Dalam sesi ini, mereka diminta kembali mengenang masa kecil, menuangkan perasaan melalui gambar, lalu membagikan ceritanya.
Suasana pun berubah menjadi sangat emosional ketika beberapa peserta mulai menceritakan pengalaman pribadi mereka. Bahkan, beberapa peserta tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan ceritanya di hadapan peserta lainnya.
Melalui sesi refleksi ini, para peserta tidak hanya diajak memahami pesan yang diangkat dalam film Aku Sebelum Aku, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan luka yang berbeda. Dengan saling mendengarkan dan memberi ruang yang aman untuk bercerita, sesi ini menjadi penutup yang hangat sekaligus penuh makna.

Itulah tadi beberapa keseruan dalam acara Gathering Popmama bersama Netflix untuk merayakan film Aku Sebelum Aku.
Melalui diskusi bersama para narasumber hingga sesi refleksi yang menyentuh, acara ini mengajak para mama papa memahami bahwa proses menjadi orangtua juga dimulai dari keberanian untuk mengenali, menerima, dan berdamai dengan luka masa lalu. Saat sudah berdamai dengan diri sendiri, maka luka tersebut tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jangan lupa nonton film Aku Sebelum Aku karena sudah tayang di Netflix, ya.






















