Adapun menurut Accessibility Manager, Sri Yoko, walau media sosial menjadi sebuah tolak ukur bagi Gen Z sebagai inspirasi untuk pernikahannya, mereka tidak sepenuhnya terpaku pada tren. Mereka kini lebih sadar akan preferensi pribadi dan ingin mengekspresikan jati diri mereka dalam pernikahan.
Seperti yang dialami oleh beberapa klien Sri Yoko, pasangan-pasangan tersebut memilih untuk tidak mengundang tamu orangtua. Kemudian, mereka juga punya beberapa permintaan yang tidak biasa, seperti dekorasi bunga diganti dengan batu asli.
“Memang kebetulan yang terakhir (klien) ini pengantinnya memang tidak suka bunga. Real tidak ada bunga. Itu pun hanya dikasih dari dekor, itu bunganya pun bunga yang kering. Lebih lucunya lagi maunya dekorasi batu, ya real batu,” kata Sri Yoko.
Meskipun dana masih banyak berasal dari orangtua, keputusan desain dan konsep kini hampir sepenuhnya ada pada pasangan. Menurutnya, pasangan Gen Z bebas mengatur segalanya sesuai budget yang diberikan. Tahun 2026 akan menjadi era di mana kendali kreatif pasangan pengantin berada di puncaknya.
“Ini menunjukkan bahwa orangtua ada power, tapi lebih yang sudah menyerahkan ke anak-anaknya, bahkan tidak menutup kemungkinan sekarang banyak dana dari orangtua, tetap saja sekarang sudah pasrah. Orangtua cuma bisa kasih segini, ya mereka atur itu. Kalau menurut saya sekarang lagi banyaknya begitu, yang atur dari sesuai budget yang diberikan orangtua itu mereka atur sendiri,” lanjut Sri Yoko.
Itulah informasi seputar tentang media sosial bisa memengaruhi Gen Z dalam pernikahan. Kamu tim yang sudah ada preferensi sendiri atau tetap mengikuti tren yang ada di media sosial untuk pernikahan kamu nanti, nih?