Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
8 Penelitian tentang Bonding Orangtua dan Anak, Mulai dari Masa Hamil
Pexels/Ron Lach
  • Bonding orangtua dan anak berperan penting dalam membentuk kesehatan emosional, sosial, dan mental anak sejak usia dini hingga dewasa.

  • Ikatan emosional yang kuat dapat dibangun sejak masa kehamilan dan terus berkembang melalui interaksi yang hangat dan konsisten.

  • Kualitas bonding yang baik terbukti membantu anak lebih tangguh menghadapi tekanan sosial dan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Hubungan emosional antara orangtua dan anak, atau yang dikenal sebagai parent–child bonding, merupakan fondasi utama dalam tumbuh kembang anak. Ikatan ini tidak hanya terbentuk melalui interaksi fisik seperti menggendong atau menyusui, tetapi juga melalui kehadiran emosional, respons yang hangat serta rasa aman yang diberikan orangtua sejak dini.

Bonding yang kuat membantu anak membangun kepercayaan terhadap lingkungannya, mengenali serta mengelola emosi hingga membentuk cara berinteraksi dengan orang lain di masa depan.

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kualitas bonding orangtua dan anak memiliki dampak jangka panjang, mulai dari kesehatan mental, kemampuan sosial hingga kecerdasan emosional saat anak beranjak dewasa.

Nah, dalam artikel ini Popmama.com telah merangkum beberapa penelitian tentang bonding orangtua dan anak.

Yuk, disimak!

Deretan Penelitian tentang Bonding Orangtua dan Anak

1. Bonding orangtua sejak bayi berpengaruh pada kesehatan emosional anak di usia sekolah

Pexels/Pavel Danilyuk

Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh tim peneliti Finlandia dan dipublikasikan dalam Child Psychiatry & Human Development meneliti lebih dari 700 keluarga sejak anak masih bayi hingga usia prasekolah.

Peneliti mengukur kualitas bonding orangtua pada usia bayi sekitar delapan bulan, kemudian menilai kondisi sosial dan emosional anak ketika berusia lima tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah bonding, baik pada mama maupun papa, berkaitan erat dengan meningkatnya risiko gangguan emosional anak, seperti kecemasan, perilaku agresif hingga kesulitan bersosialisasi.

Anak yang dibesarkan dengan ikatan emosional yang kurang hangat cenderung lebih rentan mengalami masalah regulasi emosi. Kesimpulan ini menegaskan bahwa bonding bukan hanya tanggung jawab mama, tetapi juga papa, karena keterlibatan emosional keduanya berperan besar dalam kesehatan mental anak jangka panjang.

2. Dukungan emosional mama sejak masa kehamilan memengaruhi ikatan dengan bayi

Pexels/Amina Filkins

Studi yang diambil dari Journal of Pediatric Nursing oleh peneliti dari Singapura menyoroti bagaimana bonding mama mulai terbentuk bahkan sejak masa kehamilan.

Penelitian ini mengikuti seorang mama sejak trimester akhir kehamilan hingga beberapa bulan setelah kelahiran bayi. Fokus utamanya adalah melihat faktor apa saja yang memengaruhi kuat atau lemahnya bonding mama dengan bayi.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial, kesiapan mental menjadi mama, serta rasa percaya diri dalam mengasuh anak sangat berpengaruh terhadap kualitas bonding setelah bayi lahir.

Mama yang merasa didukung dan siap secara emosional cenderung lebih mudah membangun ikatan yang hangat dengan anaknya. Studi ini menegaskan bahwa bonding tidak terjadi secara instan, melainkan merupakan proses yang dapat dipersiapkan sejak sebelum kelahiran.

3. Ikatan emosional orangtua membentuk cara anak menghadapi tekanan sosial

Pexels/Pavel Danilyuk

Penelitian lintas budaya yang melibatkan responden dari Singapura, Italia, dan Amerika Serikat ini menggunakan Parental Bonding Inventory. Tujuannya untuk mengukur bagaimana pola asuh dan ikatan emosional orangtua memengaruhi persepsi serta respons anak terhadap kritik sosial di usia dewasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang tumbuh dengan bonding penuh perhatian dari orangtua cenderung lebih sehat secara emosional dan tidak mudah tertekan saat menghadapi kritik. Sebaliknya, bonding yang ditandai dengan kontrol berlebihan membuat anak lebih sensitif dan defensif dalam interaksi sosial.

Peneliti menyimpulkan bahwa kualitas bonding sejak kecil dapat membentuk ketahanan mental seseorang ketika menghadapi tekanan sosial di kemudian hari, meskipun latar budaya tiap negara berbeda.

4. Peran oksitosin memperkuat kedekatan emosional mama dan bayi

Pexels/Romina Ordóñez

Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh peneliti biomedis internasional mengkaji puluhan studi tentang peran hormon oksitosin dalam hubungan mama dan bayi. Oksitosin dikenal sebagai hormon yang berperan dalam pembentukan ikatan emosional, termasuk saat menyusui, menggendong, dan melakukan kontak mata dengan bayi.

Kesimpulan dari tinjauan ini menunjukkan bahwa kadar oksitosin yang lebih tinggi pada Mama berkorelasi dengan perilaku pengasuhan yang lebih responsif dan penuh kehangatan.

Interaksi positif seperti sentuhan lembut dan respons cepat terhadap tangisan bayi membantu memperkuat bonding emosional antara mama dan anak.

5. Bonding orangtua dapat berkembang di bulan-bulan awal kehidupan bayi

Pexels/Laura Garcia

Penelitian yang diterbitkan oleh jurnal internasional MDPI meneliti pengalaman bonding pada orangtua yang baru pertama kali memiliki anak. Studi ini mengikuti orangtua sejak bayi berusia satu hingga dua bulan, lalu kembali dievaluasi ketika bayi berusia enam hingga delapan bulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bonding orangtua bersifat dinamis dan dapat berkembang seiring waktu. Orangtua yang mengalami stres atau gejala depresi pascamelahirkan cenderung memiliki bonding yang lebih lemah di awal, namun dapat membaik dengan dukungan yang tepat.

Peneliti menyimpulkan bahwa intervensi dini dan dukungan psikologis sangat penting untuk membantu orangtua membangun ikatan emosional yang sehat dengan bayi mereka.

6. Bonding yang dirasakan dari orangtua berpengaruh pada kecerdasan emosional dewasa

Pexels/Стас Ксензов

Amity University melakukan Penelitian kuantitatif yang dilakukan pada dewasa muda di Asia meneliti hubungan antara bonding yang dirasakan dari orangtua di masa kecil dengan tingkat kecerdasan emosional saat dewasa. Responden diminta menilai bagaimana perhatian, kehangatan, dan keterlibatan emosional orangtua selama masa pertumbuhan mereka.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa individu yang merasa memiliki hubungan emosional positif dengan orangtua cenderung lebih mampu mengelola emosi, berempati, dan menjalin hubungan sosial yang sehat.

Studi ini memperkuat pandangan bahwa bonding tidak hanya berdampak pada masa kanak-kanak, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan emosional seseorang hingga dewasa.

7. Ikatan emosional anak dengan orangtua dan kakek-nenek membentuk rasa aman

Pixabay/RitaE

Penelitian berbasis child cohort study di Tiongkok meneliti bonding anak dengan orangtua serta dengan kakek dan nenek. Peneliti ingin memahami bagaimana struktur keluarga memengaruhi ikatan emosional anak dalam lingkungan multigenerasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak dapat membentuk bonding yang kuat dengan lebih dari satu figur pengasuh. Peneliti menyimpulkan bahwa peran orangtua tetap menjadi fondasi utama, sementara kehadiran kakek dan nenek dapat memperkuat rasa aman dan kesejahteraan emosional anak.

8. Bonding orangtua yang stabil berpengaruh pada kehidupan anak jangka panjang

Pexels/Kindel Media

Studi longitudinal besar di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Future of Families and Child Wellbeing Study meneliti ribuan keluarga sejak anak lahir hingga masa remaja. Penelitian ini mengamati kualitas hubungan antara orangtua dan anak dalam berbagai kondisi sosial dan ekonomi.

Kesimpulan utama penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan bonding yang stabil dan penuh kehangatan dari orangtua cenderung memiliki hasil perkembangan yang lebih baik secara emosional, sosial, dan akademik. Sebaliknya, ketidakstabilan hubungan orangtua berdampak negatif pada kesejahteraan anak.

Itulah kesimpulan beberapa penelitian tentang bonding orangtua dan anak. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa bonding orangtua dan anak bukan sekadar hubungan emosional sesaat, melainkan fondasi penting bagi kesehatan mental dan perkembangan anak sepanjang hidupnya.

Dengan kehadiran yang hangat, responsif, dan penuh perhatian, orangtua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, stabil secara emosional, dan mampu menjalin hubungan sosial yang sehat di masa depan.

FAQ Seputar Bonding Orangtua dan Anak

Apa yang dimaksud dengan bonding orangtua dan anak?

Bonding orangtua dan anak adalah ikatan emosional yang terbentuk melalui kehadiran, perhatian, dan respons orangtua terhadap kebutuhan fisik maupun emosional anak sejak dini.

Apakah bonding hanya penting di masa bayi?

Tidak. Meskipun bonding mulai terbentuk sejak bayi, kualitas hubungan emosional orangtua dan anak tetap berpengaruh hingga anak tumbuh dewasa.

Bagaimana cara memperkuat bonding dengan anak?

Bonding dapat diperkuat melalui interaksi sederhana seperti berbicara dengan anak, mendengarkan perasaannya, memberikan sentuhan hangat, dan meluangkan waktu berkualitas secara rutin.

Editorial Team