Mengenal Revenge Porn, Kekerasan Seksual Berbasis Internet

Revenge porn termasuk kekerasan seksual sebagai bentuk balas dendam pelaku terhadap korban

14 November 2021

Mengenal Revenge Porn, Kekerasan Seksual Berbasis Internet
Unsplash/Charlesdeluvio

Kemajuan teknologi membuat pelaku kekerasan seksual tidak hanya beraksi secara offline, namun bisa juga meneror korban secara online atau di dunia maya melalui sosial media.

Kemajuan teknologi memang memiliki banyak manfaat, namun di sisi lain penggunaan teknologi masih belum mampu melindungi korban kekerasan seksual. 

Salah satu kekerasan seksual yang sering terjadi di dunia maya, yakni revenge porn. Istilah revenge porn sudah akrab di telinga pengguna media sosial, sebab beberapa kali kasus revenge pornterungkap ke publik.

Lantas, apa sebenarnyarevenge porn? Berikut beberapa fakta terkait revenge porn yang dirangkum Popmama.com dari beberapa sumber. 

1. Revenge porn bisa menjadi bentuk dari balas dendam

1. Revenge porn bisa menjadi bentuk dari balas dendam
Unsplash/Dollargill

Revenge porn adalah kekerasan seksual sebagai bentuk balas dendam pelaku terhadap korban. Pelaku akan mengunggah konten seksual ke internet untuk mempermalukan atau mengintimidasi korban. 

Hubungan pelaku dan korban umumnya merupakan mantan pasangan. Pelaku dengan sengaja menyebarkan konten seksual korban ke internet sebagai bentuk balas dendam karena telah putus, ditolak cinta atau mungkin telah bercerai.

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa revenge porn dilakukan oleh pelaku yang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan korbannya. 

Editors' Picks

2. Termasuk kejahatan seksual berbasis internet

2. Termasuk kejahatan seksual berbasis internet
Unsplash/Franquito4133

Revenge porn termasuk salah satu bentuk kekerasan seksual berbasis internet. Sebab, kekerasan seksual dilakukan di dunia maya namun mampu mengintimidasi korban di dunia nyata. 

Bentuk kekerasan dapat berupa foto porno, video porno, tangkapan layar percakapan, atau tulisan yang memaksa dan mengintimidasi korban untuk melakukan adegan pornografi di depan kamera. Nantinya, konten-konten pornografi korban akan disebarkan di dunia maya. 

Kemajuan teknologi membuat konten pornografi korban mudah tersebar. Korban pun tidak dapat mengendalikan siapa saja yang melihat konten tersebut. 

3. Revenge porn dapat berdampak buruk bagi korban

3. Revenge porn dapat berdampak buruk bagi korban
Unsplash/Sodaissue

Telah dijelaskan sebelumnya jika revenge porn dilakukan di dunia maya. Namun, dampaknya dirasakan korban di dunia nyata baik secara mental maupun immaterial. 

Pasalnya, ketika konten pornografi korban tersebar di internet, maka identitas dan privasi korban juga tersebar. Jejak digital pun sulit dihapus, sehingga korban tidak memiliki privasi lagi.

Dampak negatif dari revenge porn tidak hanya berlaku jangka pendek, namun bisa meninggalkan luka secara psikologis dan menyebabkan trauma jangka panjang. Itulah sebabnya, korban revenge porn umumnya sulit menjalin hubungan percintaan atau pertemanan di masa depan. 

4. Kategori korban revenge porn

4. Kategori korban revenge porn
Unsplash/Matheusferrero

Revenge porn bisa menimpa siapa saja, namun sebagian besar korban, yakni perempuan. Tanpa disadari perempuan sering dijadikan objek atau korban kekerasan seksual. Tanda-tanda kekerasan seksual biasanya sudah bisa terlihat dari perlakuan pelaku di dunia nyata. 

Apabila dilihat dari rentan usia, korbanrevenge pornumumnya berusia 15-25 tahun. Mayoritas pelakunya tentu saja orang terdekat korban, bisa mantan pacar, mantan pasangan pasca perceraian, teman, atau tidak menutup kemungkinan orang tidak dikenal yang mampu mengakses semua media sosial korban. 

5. Apa yang harus dilakukan saat jadi korban?

5. Apa harus dilakukan saat jadi korban
Unsplash/Sigmund

Korban revenge porn biasanya takut mencari bantuan karena stigma yang melekat di masyarakat. Korban juga khawatir dikriminalisasi atau kehidupannya semakin hancur karena melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Apabila ada orang terdekat Mama yang menjadi korban revenge porn, sebaiknya terus memberikan dukungan kepadanya. Dukungan utama untuk korban revenge porn adalah keluarga. Jika korban tidak nyaman berbicara kejadian tersebut dengan orangtua, cobalah berdiskusi dengan aktivis atau organisasi perempuan. 

Jika rasa takut dan cemas sudah mendominasi korban dan mengganggu aktivitasnya, segera cari bantuan ke psikolog untuk konseling. Selama masa konsultasi dan menenangkan diri, korban sebaiknya menonaktifkan semua media sosial.

Jika perlu, korban juga disarankan mengganti nomor telepon untuk melindungi privasi sekaligus menjaga kestabilan mental korban. Melalui cara tersebut, korban diharapkan tidak mendengarkan omongan-omongan yang mengintimidasi dirinya. 

Namun, hal terpenting yang perlu dilakukan ketika sudah menjadi korban revenge porn yakni menerima keadaan dan berani menyelesaikannya, sehingga tidak terus-menerus menjadi korban.

Jangan lupa menyimpan semua bukti-bukti terkait kekerasan seksual yang dilakukan pelaku. Jika perlu, kasus tersebut bisa dilaporkan ke polisi untuk ditindaklanjuti. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.