Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Robot AI di China Jadi Teman Lajang dan Lansia, Harganya Capai Rp2,6M

Robot AI di China Jadi Teman Lajang dan Lansia, Harganya Capai Rp2,6M
Dok. UBTech
Intinya Sih
  • Robot humanoid bertenaga AI di China dirancang sebagai pendamping emosional bagi lajang dan lansia, dengan kemampuan bercakap natural untuk mengurangi rasa kesepian.
  • UWorld memperkenalkan humanoid ultra-realistis produksi massal seharga US$145.700 atau sekitar Rp2,6 miliar, yang dapat mengingat percakapan agar interaksi terasa personal.
  • Kehadiran robot pendamping memicu kekhawatiran tentang keamanan data pribadi serta risiko ketergantungan emosional yang dapat mengurangi hubungan sosial manusia dan memengaruhi kesehatan mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menghadirkan inovasi yang mendekati kehidupan manusia. Di China, robot humanoid bertenaga AI kini dikembangkan bukan hanya untuk membantu pekerjaan, tetapi juga menjadi pendamping emosional bagi manusia.

Robot ini dirancang untuk menemani para lajang hingga lansia yang kerap mengalami kesepian. Dengan kemampuan berbicara secara alami dan mengingat percakapan, robot tersebut diklaim mampu membangun hubungan jangka panjang dengan pemiliknya. Namun, di balik kecanggihannya, kemunculan robot AI ini juga memunculkan berbagai kekhawatiran.

Dalam artikel ini Popmama.com telah merangkum mengenai robot AI di China jadi teman lajang dan lansia.

Yuk, disimak!

1. Dirancang menjadi teman bagi lajang dan lansia

Foto Robot UBTech
Dok. UBTech

Robot humanoid ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan emosional masyarakat modern. Target utamanya adalah individu yang hidup sendiri serta lansia yang membutuhkan teman berbicara dalam kehidupan sehari hari.

Pendiri UBTech, Zhou Jian, mengatakan bahwa kebutuhan manusia kini tidak lagi sekadar sandang dan pangan. Menurutnya, banyak orang mulai mencari kebahagiaan, kenyamanan, hingga kepuasan emosional melalui teknologi.

Robot tersebut dibekali AI yang mampu melakukan percakapan secara natural sehingga diharapkan dapat memberikan rasa ditemani kepada penggunanya.

2. Diklaim sebagai humanoid ultra realistis dengan harga fantastis

Foto Robot UBTech 3
Dok. UBTech

Perusahaan teknologi UWorld memperkenalkan robot ini sebagai humanoid ultra realistis pertama di dunia yang diproduksi secara massal. Robot dijual melalui sistem pre order dengan harga mencapai US$145.700 atau sekitar Rp2,6 miliar.

CEO UWorld, Michael Tam, menyebut robot bionik tersebut sebagai "spesies baru" yang dirancang untuk menemani manusia seumur hidup. Ia mengklaim robot mampu memberikan cinta tanpa syarat, selalu setia, dan tidak akan mengkhianati pemiliknya.

Selain dapat berbincang, robot juga dirancang memiliki memori percakapan sehingga interaksi terasa lebih personal dari waktu ke waktu.

3. Memicu kekhawatiran soal privasi dan kesehatan mental

Foto Robot UBTech 4
Dok. UBTech

Meski menawarkan pengalaman baru dalam berinteraksi dengan AI, kehadiran robot pendamping ini juga menuai perhatian dari berbagai pihak. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah keamanan data pribadi.

Robot yang terus mendengarkan dan menyimpan percakapan pengguna dinilai berpotensi mengumpulkan informasi sensitif apabila tidak dilindungi dengan sistem keamanan yang memadai.

Selain itu, para pengamat juga mengingatkan adanya risiko ketergantungan emosional terhadap mesin. Jika seseorang terlalu mengandalkan robot untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya, dikhawatirkan hubungan sosial dengan manusia akan semakin berkurang dan berdampak pada kesehatan mental dalam jangka panjang.

Itulah rangkuman mengenai robot AI di China jadi teman lajang dan lansia. Pada akhirnya, robot humanoid AI menunjukkan bagaimana teknologi terus berkembang hingga menyentuh aspek emosional manusia.

Meski menawarkan solusi bagi rasa kesepian, inovasi ini tetap memerlukan keseimbangan antara manfaat teknologi, perlindungan privasi, dan kesehatan mental penggunanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More