Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Spousal Defense: Cara Franka Membela Citra Nadiem Makarim di Publik

Spousal Defense: Cara Franka Membela Citra Nadiem Makarim di Publik
Instagram.com/frankamakarim
Intinya Sih
  • Franka Makarim membangun narasi personal Nadiem sebagai suami dan papa untuk memperluas sudut pandang publik, bukan hanya menyoroti proses hukum yang dihadapi.

  • Franka Makarim membantah keterlibatan tim dalam mobilisasi buzzer secara terbuka, sebagai upaya menjaga kredibilitas dukungan publik dan mengurangi dampak tudingan rekayasa opini digital.

  • Franka Makarim memadukan pesan emosional di media sosial, penjelasan terstruktur dalam wawancara dan podcast, serta pendampingan proses hukum untuk menjaga konsistensi antara narasi dan tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat figur publik menghadapi persoalan hukum, pembelaan tentu pastinya berlangsung di dalam ruangan sidang. Namun di tengah berbagai konflik narasi dan kepentingan, nyatanya ‘pembelaan’ itu juga berlangsung di ruang publik utamanya secara digital.

Pendampingan yang dilakukan pasangan atau anggota keluarga saat krisis dikenal sebagai spousal defense communication, yakni bentuk komunikasi yang bertujuan memberikan dukungan sekaligus memengaruhi persepsi publik terhadap sosok yang sedang menghadapi krisis.

Pendekatan ini juga dapat dianalisis menggunakan Image Restoration Theory yang dikembangkan oleh William L. Benoit. Teori tersebut menjelaskan bagaimana individu atau organisasi berupaya mempertahankan maupun memulihkan reputasi ketika citranya mendapat tekanan.

Lalu, bagaimana strategi komunikasi yang terlihat dari advokasi Franka Makarim saat mendampingi Nadiem Makarim? Berikut Popmama.com bedah selengkapnya.

1. Mengubah sudut pandang publik melalui reframing

Mengubah sudut pandang publik melalui reframing
Instagram.com/frankamakarim

Salah satu strategi yang paling menonjol adalah menggeser cara publik memandang sosok Nadiem Makarim. Jika dalam pemberitaan ia banyak dikaitkan dengan proses hukum, maka komunikasi yang dibangun Franka justru menampilkan sisi personalnya sebagai suami dan papa di rumah.

Dalam perspektif Image Restoration Theory, pendekatan ini dikenal sebagai reframing, yaitu mengubah konteks pembahasan agar audiens melihat seseorang dari sudut pandang yang lebih luas. Alih-alih hanya berfokus pada tuduhan yang berkembang, narasi yang dibangun mengajak publik melihat karakter, niat, dan kehidupan pribadi yang selama ini melekat pada figur tersebut.

Pendekatan semacam ini bertujuan menghadirkan dimensi kemanusiaan, sehingga opini publik tidak semata dibentuk oleh proses hukum yang sedang berjalan.

2. Menjaga kredibilitas komunikasi dengan klarifikasi terbuka

Menjaga kredibilitas komunikasi dengan klarifikasi terbuka
Instagram.com/frankamakarim

Di era media sosial, dukungan terhadap figur publik sering kali memunculkan tudingan adanya mobilisasi opini atau penggunaan buzzer. Dalam situasi seperti ini, klarifikasi menjadi bagian penting dari strategi komunikasi krisis.

Franka secara terbuka membantah adanya keterlibatan timnya dalam menggerakkan buzzer untuk membangun opini publik. Dari sudut pandang komunikasi, langkah tersebut sejalan dengan konsep Inoculation Theory, yaitu memberikan penjelasan lebih awal untuk mengurangi dampak tuduhan yang berpotensi melemahkan kredibilitas pesan.

Dengan melakukan klarifikasi secara langsung, komunikasi yang dibangun berusaha menjaga persepsi bahwa dukungan yang muncul berasal dari empati masyarakat maupun tokoh publik, bukan hasil rekayasa komunikasi digital.

3. Memadukan komunikasi emosional dan komunikasi formal

Memadukan komunikasi emosional dan komunikasi formal
Instagram.com/frankamakarim

Strategi lain yang terlihat adalah penggunaan berbagai saluran komunikasi secara bersamaan. Di media sosial, Franka menyampaikan pesan yang lebih personal dan emosional untuk membangun empati publik. Sementara dalam wawancara media atau hadir menjadi bintang tamu podcast, penyampaiannya lebih terstruktur dengan menekankan penjelasan mengenai situasi yang sedang dihadapi.

Di sisi lain, pendampingannya dalam berbagai proses dan langkah hukum menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan melalui narasi, tetapi juga melalui tindakan yang terlihat publik.

Dalam kajian komunikasi krisis, penggunaan berbagai kanal komunikasi secara konsisten menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan pesan. Publik akhirnya tidak hanya menerima informasi dari satu sumber, melainkan melihat kesesuaian antara pernyataan, sikap, dan tindakan yang ditampilkan.

Melalui perspektif ilmu komunikasi, advokasi yang dilakukan pasangan figur publik dapat dipahami sebagai bagian dari strategi mempertahankan reputasi di tengah krisis. 

Terlepas dari bagaimana proses hukum berlangsung, komunikasi yang terencana berperan dalam membentuk persepsi publik, menjaga kepercayaan pendukung, sekaligus menghadirkan sisi personal yang sering kali tidak muncul dalam proses hukum itu sendiri.

Putri Syifa N

Mahasiswa S2 Universitas Paramadina

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More