“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘Mantan Istri [kosong]’. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi ini tidak akurat dan menyesatkan,” tulis Manohara.
Stop! Manohara Minta Hapus Label dari "Mantan Istri" Pangeran Kelantan

Manohara menolak label "mantan istri" Pangeran Kelantan karena tidak akurat dan menyakitkan.
Hubungannya dengan Pangeran Kelantan tidak didasari persetujuan bersama dan terjadi dalam situasi paksaan di usianya yang masih di bawah umur.
Manohara meminta media untuk stop menggunakan label tersebut dan mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam penulisan berita.
Setelah sekian lama tidak didengar publik, nama Manohara Odelia Pinot kembali naik dan langsung mencuri perhatian publik.
Melalui unggahan terbaru di akun Instagram pribadinya, Manohara membagikan sebuah pernyataan, di mana ia meminta seluruh media dan platform digital untuk stop menyebut dirinya sebagai “mantan istri” Pangeran Kelantan.
Sebagai informasi, nama Manohara sempat viral pada tahun 2008 terkait pernikahannya dengan pangeran asal Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry Petra. Kasus ini menyita perhatian publik karena Manohara masih sangat muda saat itu dan dirinya dikabarkan mengalami kekerasan serta paksaan untuk menjalani pernikahan.
Unggahan yang dibagikan Manohara langsung memicu berbagai tanggapan dari warganet. Sebagian besar memberikan dukungan serta apresiasi terhadap keberaniannya, sembari mendorong media agar lebih bijak dalam meliput isu kekerasan terhadap anak dan gender.
Pernyataan ini pun memicu kembali dialog publik terkait etika pemberitaan, perlindungan anak, dan pengaruh media terhadap pandangan masyarakat. Bagaimana pernyataan yang diberikan Manohara? Lebih lengkapnya, Popmama.com akan membagikan informasi terkait Manohara minta hapus label dari "mantan istri" Pangeran Kelantan.
Simak informasinya sampai akhir, ya!
1. Manohara menyatakan label "mantan istri" Pangeran Kelantan itu tidak akurat dan sesat

Sosok Manohara yang kini aktif sebagai seniman dan aktivis, menyampaikan keberatannya kepada publik untuk berhenti mengaitkan namanya dengan masa lalunya bersama Pangeran Kelantan atau Tengku Muhammad Fakhry Petra.
Melalui unggahan di Instagram pada 6 Januari 2026, ia menegaskan bahwa label “mantan istri” tersebut tidak hanya tidak akurat, tetapi juga menyakitkan karena mengingatkannya pada trauma masa lalu.
Manohara mendesak media massa dan platform digital untuk segera memperbarui informasi dan menghapus sebutan label tersebut dari pemberitaan maupun platform digital mengenai dirinya.
2. Hubungannya dengan Pangeran Kelantan itu tidak didasari persetujuan bersama

Manohara menegaskan bahwa peristiwa di masa remajanya kala itu bukanlah hubungan atas dasar suka sama suka maupun pernikahan yang sah. Ia menekankan bahwa posisi dirinya saat itu masih di bawah umur dan terjebak dalam tekanan, sehingga Manohara kehilangan otoritas penuh atas hidupnya sendiri.
“Apa yang terjadi selama masa remaja saya bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan yang didasarkan pada persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah. Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela," tegas Manohara.
3. Berada dalam situasi paksaan di usianya yang masih di bawah umur

Manohara berpendapat bahwa label “mantan istri” memberikan kesan seolah-olah hubungan tersebut didasari oleh komitmen pernikahan yang sah, dewasa, dan konsensual. Namun, ia menegaskan bahwa realita yang dialaminya jauh berbeda dari anggapan tersebut.
"Pada saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan dan kurangnya kebebasan, artinya saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan. Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Implikasi itu salah. Hal itu mengubah situasi paksaan menjadi suatu hubungan yang sah dan mendistorsi kenyataan yang terjadi," ungkap Manohara.
4. Manohara meminta untuk stop menyebutnya sebagai "mantan istri" Pangeran Kelantan

Dalam unggahannya itu, Manohara meminta seluruh media dan platform daring untuk menyudahi penggunaan label “mantan istri” Pangeran Kelantan" terhadap dirinya.
Ia menekankan agar pengelola konten, termasuk mesin pencari dan ensiklopedia daring, lebih bijak serta bertanggung jawab dalam menentukan diksi dan konteks saat memberitakan sosok yang merupakan penyintas kekerasan seksual.
“Saya meminta media Indonesia, editor, penulis, dan platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya,” ujar Manohara.
Menurut Manohara, penggunaan sebutan label yang keliru mencerminkan jurnalisme yang tidak etis. Ia menekankan bahwa keberatannya didasari oleh bentuk etika, bukan sekadar ingin membahas kembali pengalaman pahitnya.
“Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis. Permintaan ini bukan tentang mengungkit masa lalu. Ini tentang keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa serta konteks yang bertanggung jawab,” sambungnya.
5. Manohara Odelia memperingatkan media dalam menulis berita

Manohara kembali mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menulis berita karena setiap tulisan membawa dampak nyata.
Manohara menekankan bahwa setiap korban berhak menyampaikan kebenaran secara jujur dan terhormat, tanpa adanya upaya memutarbalikkan fakta atau memperhalus pengalaman traumatis yang mereka alami.
“Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting. Kata-kata memiliki konsekuensi. Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat,” tutup Manohara.
6. Manohara Odelia sempat menjadi korban pelecehan seksual

Manohara juga mengungkapkan tindak kekerasan serta pelecehan seksual yang pernah menimpanya. Ia menegaskan bahwa pengalaman pahit tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai bagian dari sebuah hubungan asmara maupun ikatan pernikahan.
“Ketika seseorang mengalami korban pelecehan seksual, kita tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar pelaku. Kita tidak membingkai kekerasan seksual sebagai sebuah hubungan. Kita tidak membingkai kekerasan seksual sebagai sebuah hubungan. Kita tidak mengubah pelecehan menjadi cerita tentang persetujuan,” tulisnya.
Manohara menekankan adanya ketimpangan usia yang sangat jauh saat peristiwa itu terjadi, di mana ia masih berusia 15 tahun. Sementara, Pangeran Kelantan tersebut sudah berusia 30-an. Ia menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak didasari oleh proses hubungan asmara, hubungan yang seimbang, ataupun persetujuan dalam situasi tersebut.
“Logika yang sama berlaku di sini. Saya berusia 15 tahun. Pria yang terlibat berusia 30-an. Tidak ada kencan, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan,” lanjut Manohara.
7. Penekanan memilih diksi dalam menulis berita

Menurut penuturan Manohara, pemilihan diksi yang digunakan dalam penulisan di media memiliki pengaruh signifikan terhadap cara masyarakat menginterpretasikan kasus kekerasan seksual terhadap anak, bukan hanya sekadar teknis penulisan.
Ia mengkritik penggunaan sebutan “mantan suami/istri” kepada korban yang dianggap sebagai upaya memperhalus keadaan itu justru merupakan istilah yang menyesatkan.
“Menyebut korban sebagai ‘mantan pasangan’ atau ‘mantan suami/istri’ dari orang yang menyakiti mereka tidak membuat situasi lebih sopan atau dapat diterima. Itu membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, itu mengalihkan fokus dari kerugian dan ke anak,” tuturnya.
Manohara menekankan bahwa korban tidak memerlukan label yang mengesankan adanya hubungan suka sama suka, karena hal terpenting adalah fokus pada perlindungan anak dan kerugian yang mereka alami.
“Korban tidak membutuhkan gelar yang menyiratkan pilihan di mana tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa bahasa itu penting,” sambung Manohara.
8. Manohara tegaskan pelecehan bukan disebut sebagai hubungan

Manohara berpendapat narasi yang salah hanya akan menutupi realitas mengenai kekerasan dan eksploitasi pada anak. Ia menegaskan bahwa menyebut pelecehan sebagai sebuah “hubungan” dapat menyesatkan persepsi publik, sehingga paksaan dianggap sebagai kesepakatan dan anak-anak tidak lagi dipandang sebagai korban.
“Ketika pelecehan berulang kali digambarkan sebagai sebuah hubungan, itu mengajarkan masyarakat untuk melihat paksaan sebagai persetujuan, dan anak-anak sebagai peserta, bukan korban,” kata Manohara.
9. Surat terbuka bagi anak-anak dan perempuan yang mengalami kejadian kekerasan seksual

Bagi Manohara, langkah yang diambilnya ini bertujuan untuk melindungi hak-hak anak dan perempuan yang berada dalam kondisi serupa.
Manohara menekankan bahwa narasi publik dan media terhadap kasus semacam ini sangat penting dalam membentuk pemahaman generasi mendatang mengenai isu persetujuan, kekerasan, serta perlindungan anak.
“Pola pikir yang salah ini menyebabkan kerugian nyata, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi perempuan-perempuan lain yang menyaksikan bagaimana situasi ini dibahas,” jelas Manohara.
Terakhir, Manohara menegaskan bahwa tujuannya bersuara bukanlah untuk mencari simpati, melainkan demi meluruskan fakta. Ia menekankan bahwa penyebutan dirinya sebagai 'mantan istri' tidaklah akurat karena menormalisasi tindak pemaksaan terhadap anak sebagai hubungan orang dewasa yang sah.
“Saya tidak meminta siapa pun untuk merasa kasihan kepada saya. Saya meminta keakuratan. Dan keakuratan berarti tidak menampilkan situasi paksa yang melibatkan anak sebagai hubungan orang dewasa yang sukarela. Itulah intinya,” pungkasnya.
Itulah informasi terkait Manohara minta hapus label dari "mantan istri" Pangeran Kelantan. Permintaan Manohara ini menjadi pengingat penting bagi publik dan media untuk lebih menghargai ruang pribadi dan proses pemulihan seseorang dari pengalaman pahitnya.
FAQ Seputar Manohara Odelia Pinot dan Pangeran Kelantan
| Apa yang membuat nama Manohara Odelia Pinot naik ke publik? | Manohara mengunggah pernyataan kepada seluruh media dan platform digital untuk berhenti memberikan label “mantan istri” Pangeran Kelantan karena pernikahan tersebut dianggap sebagai paksaan dan tanpa persetujuan di saat usianya masih 15 tahun. |
| Kapan Manohara Odelia Pinot dan Pangeran Kelantan bertemu? | Manohara bertemu Tengku Fakhry pada Desember 2006 di jamuan makan malam Wakil PM Malaysia Najib Razak di Inggris. |
| Apakah Manohara Odelia Pinot mengalami kekerasan dari Pangeran Kelantan? | Manohara mengklaim mengalami KDRT fisik dan mental sejak malam pertama, termasuk isolasi dan pelecehan. Ia kabur ke Jakarta via Singapura akhir 2008, tapi sempat dibujuk kembali dengan hadiah mobil dan umrah. Pada Mei 2009, ia melarikan diri dari Singapura dengan bantuan kedutaan. |



















