Seseorang dapat melakukan perselingkuhan berulang karena berbagai alasan yang berkaitan dengan pola perilaku, kondisi emosional, dan cara ia memandang komitmen dalam hubungan.
Berbeda dengan perselingkuhan yang terjadi karena keputusan sesaat, perselingkuhan yang terus berulang bisa menunjukkan bahwa ada masalah mendasar yang belum benar-benar disadari atau diselesaikan oleh pelakunya.
Salah satu alasannya adalah karena seseorang tidak benar-benar menyesali perilakunya. Meski telah meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya, perubahan tidak akan terjadi jika permintaan maaf tersebut tidak disertai kesadaran terhadap dampak perselingkuhan serta usaha nyata untuk memperbaiki perilaku.
Selain itu, ada pula orang yang terus mencari validasi dari orang lain agar merasa menarik, diinginkan, dan berharga. Perselingkuhan berulang juga dapat terjadi karena seseorang memiliki kesulitan dalam menjaga komitmen dan batasan dengan orang lain.
Kedekatan yang terlalu intens dengan orang lain, kebiasaan mencari perhatian di luar hubungan, atau sengaja menempatkan diri dalam situasi yang berisiko dapat membuat pola tersebut kembali terjadi.
Jika akar masalah seperti rasa insecure, kesepian, kebutuhan akan sensasi, atau masalah emosional lainnya tidak dihadapi, seseorang mungkin terus mengulangi perilaku yang sama.
Di sisi lain, kurangnya konsekuensi yang dirasakan juga bisa membuat seseorang merasa bahwa perselingkuhan masih dapat ditoleransi. Namun, penting untuk diingat bahwa pasangan yang memaafkan tidak pernah menjadi penyebab seseorang kembali berselingkuh.
Tanggung jawab atas keputusan untuk melakukan perselingkuhan tetap berada sepenuhnya pada pelaku. Perselingkuhan yang berulang umumnya menunjukkan adanya pola yang belum berubah dan membutuhkan komitmen serta tindakan nyata untuk benar-benar menghentikannya.