Pada dasarnya, seseorang yang pernah melakukan perselingkuhan memang bisa berubah. Namun, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan agar seseorang benar-benar mampu menghentikan pola perselingkuhan dan membangun kembali perilaku yang lebih sehat dalam hubungan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui kesalahan secara utuh tanpa berusaha membela diri atau mengalihkan tanggung jawab kepada pasangan.
Pelaku perselingkuhan perlu memahami bahwa mengakui kesalahan bukan berarti menambahkan alasan atau menyalahkan kondisi hubungan, melainkan berani menerima bahwa tindakan tersebut memang salah dan memahami dampaknya terhadap pasangan.
“Yang pertama, dia bisa mengakui kesalahan yang dia lakukan tanpa defensif. Defensif itu misalnya: ‘Iya aku salah, aku selingkuh, tapi kamu kan begini-begini…’ Itu termasuk defensif. Harusnya: ‘Iya aku salah, ini nggak harusnya aku lakukan, dan dampaknya seperti ini,’ tanpa menyalahkan pasangan,” kata Dya Adis Putri Rahmadanti, M.Psi, Psikolog, C.Ht, Psikolog Klinis & Hipnoterapis Audentia Mind Medcare, mengutip wawancara dalam sesi Popmama Talk Desember 2025.
Selain mengakui kesalahan, keinginan untuk berubah juga perlu muncul dari kesadaran pribadi. Perubahan yang dilakukan semata-mata karena takut kehilangan pasangan mungkin tidak akan bertahan lama.
Sebaliknya, seseorang perlu memiliki motivasi yang tulus untuk memperbaiki dirinya dan membangun hubungan yang lebih sehat, bahkan ketika hubungan dengan pasangan sedang berada dalam kondisi baik.
“Yang kedua, adanya motivasi dalam diri untuk berubah. Motivasi ini harus dari kesadaran sendiri, memperbaiki hubungan dengan pasangannya baik-baik aja, bukan hanya karena takut ditinggal. Dua hal itu berbeda,” ungkap Dya Adis Putri Rahmadanti, M.Psi, Psikolog, C.Ht.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah menjalani terapi, termasuk terapi pasangan apabila diperlukan. Melalui proses ini, pasangan dapat belajar mengenali dan mengelola emosi dengan lebih baik, memperbaiki pola komunikasi, serta membangun batasan yang sehat dengan orang lain.
“Kemudian, mau melakukan sesi terapi, misalnya terapi pasangan. Nanti akan belajar emotional regulation, boundary setting, supaya perselingkuhan nggak terulang lagi,” jelas Dya Adis Putri Rahmadanti, M.Psi, Psikolog, C.Ht.
“Dan yang terakhir, tidak menyalahkan pasangannya. Kalau syarat itu dipenuhi, bisa berubah. Tapi kalau defensif dan tidak ada perubahan perilaku, agak susah untuk berubah,” pungkasnya.
Demikian informasi mengenai viral kasus perselingkuhan beserta alasan mengapa seseorang selingkuh berulang kali. Pada akhirnya, pelaku tetaplah pihak yang harus berubah, dan korban tidak seharusnya menyalahkan diri.