Induksi saat Persalinan, Ini 5 Risiko yang Wajib Mama Ketahui

Langkah medis yang perlu diambil demi keselamatan mama dan bayi

5 Mei 2021

Induksi saat Persalinan, Ini 5 Risiko Wajib Mama Ketahui
Pixabay/Free-Photos

Ketika dokter menyarankan Mama melakukan induksi, tentu langkah itu sudah melalui berbagai pertimbangan. Seperti diketahui, induksi adalah cara merangsang rahim untuk mulai berkontraksi, sebelum kontraksi alamiah terjadi dengan sendirinya.

Biasanya, dokter melakukan induksi ketika kehamilan mama sudah melewati hari perkiraan lahir tanpa kemunculan tanda-tanda hendak melahirkan. Kadang induksi juga diperlukan saat ibu hamil mengalami pecah ketuban dini.

Bisa juga dilakukan pada ibu hamil yang mengalami komplikasi kehamilan tertentu, seperti preeklamsia atau diabetes gestational. Jika induksi tidak dilakukan, besar kemungkinan nyawa ibu atau bayi bisa terancam.

Meskipun begitu, berikut Popmama.com rangkum lima risiko yang mungkin timbul dari proses persalinan dengan induksi. Yuk, simak penjelasan berikut.

1. Meningkatkan risiko komplikasi selama persalinan

1. Meningkatkan risiko komplikasi selama persalinan
Unsplash/Gabriel Tovar
Ilustrasi melahirkan

Induksi dalam proses melahirkan merupakan upaya intervensi proses alamiah tubuh manusia. Umum dilakukan melalui pemecahan cairan ketuban atau menggunakan obat-obatan untuk merangsang pembukaan.

Namun, ketika proses induksi usai, bisa menimbulkan fetal distress, seperti detak jantung abnormal dan shoulder dystocia.

Perlu Mama tahu, saat ibu hamil diinduksi dengan obat-obatan medis, kontraksi bisa lebih kuat daripada kontraksi alami.

Kadang hal ini justru membuat posisi bayi bertahan lebih lama dalam rahim. Hasilnya, waktu persalinan menjadi lebih panjang dan lebih menyakitkan bagi sang Mama.

Editors' Picks

2. Meningkatkan risiko intervensi selama proses persalinan

2. Meningkatkan risiko intervensi selama proses persalinan
Unsplash/Sharon McCutcheon

Saat induksi dilakukan, bayi cenderung bertahan pada posisinya, sehingga lebih sulit untuk turun ke jalan lahir. Bahkan, kontraksi yang begitu kuat dan nyeri membuat tubuh membutuhkan epidural dalam dosis cukup tinggi.

Epidural adalah sejenis obat bius untuk mengurangi rasa nyeri kontraksi dan membuat bagian panggul atau pelvic menjadi mati rasa.

Kedua kondisi tersebut membuat ibu sulit mendorong bayi secara efektif. Ujungnya, dokter menggunakan alat bantu untuk menolong persalinan si bayi.

3. Meningkatkan risiko c-section

3. Meningkatkan risiko c-section
Pixabay/Parentingupstream

Tindakan operasi atau c-section kerap ditempuh jika ketuban sudah pecah dan persalinan per vaginam atau normal tidak berhasil.

Secara medis, ketika air ketuban menyusut, bayi dalam kandungan rentan terkena infeksi. Selain itu, operasi juga dilakukan jika bayi tidak berada dalam posisi tepat di rahim atau sungsang, maupun faktor medis lain terkait kondisi ibu. Misalnya, rongga panggul ibu sempit, ibu memiliki riwayat penyakit tertentu yang tidak memungkinkan persalinan normal, atau situasi gawat darurat lainnya.

4. Ada kemungkinan bayi butuh perawatan intensif

4. Ada kemungkinan bayi butuh perawatan intensif
Pixabay/Public Domain Pictures

Bayi yang lahir melalui persalinan secara induksi umumnya belum mengirimkan sinyal siap lahir pada sang Mama. Artinya, perkembangan fisik bayi belum optimal, sehingga bayi masih betah berada dalam rahim mama.

Jika ia lahir setelah proses induksi dilakukan, besar kemungkinan bayi membutuhkan perawatan intensif di neonatal intensive care unit (NICU).

Apalagi, ketika bayi lahir lebih awal dari usia due date seharusnya. Bayi bisa mengalami berbagai komplikasi seperti pernapasan dan pencernaan, atau menjaga suhu tubuh bayi tetap normal dan stabil.

Saat bayi berada di NICU, tentu membuat orangtua mana pun merasa bingung, panik, dan cemas. Penanganan responsif dan pendampingan tepat dari perawat dan dokter tentu dibutuhkan agar orangtua kuat menemani bayi selagi di NICU, termasuk dalam upaya pemberian ASI.

5. Risiko mengalami jaundice

5. Risiko mengalami jaundice
Unsplash/Nyana Stoica

Jaundice adalah ketidakmampuan organ hati untuk memecah sel darah merah. Bilirubin, pigmen kuning yang terbentuk dari sel darah merah, harusnya dihilangkan oleh hati bersamaan dengan sel darah merah tua.

Itulah mengapa orang mengenalnya sebagai penyakit kuning. Pada bayi baru lahir, hal ini terjadi karena organ hati bayi belum berfungsi optimal melakukan tugas tersebut.

Hasilnya, kadar bilirubin dalam darah bayi meningkat, ditandai dengan semburat kekuningan pada kulit dan bagian kornea mata.

Kondisi ini sebetulnya umum dialami hampir semua bayi baru lahir dan bisa tertangani. Sang Mama akan didorong untuk terus menyusui bayinya agar kondisi kuning bisa berkurang perlahan.

Itulah lima risiko yang mungkin timbul dari proses induksi dalam persalinan. Tenang saja, Ma, meski berisiko bukan berarti dokter tidak bisa menangani permasalahan tersebut. Bagaimanapun juga keselamatan ibu dan bayi adalah hal paling utama.

Jadi, tetap fokus pada kesehatan mama dan bayi, serta percayakan dokter untuk mengambil langkah terbaik demi kelancaran proses persalinan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.