Screening Test pada Bayi Baru Lahir, Mama Harus yang Wajib Dilakukan

Guna memastikan bayi lahir dalam kondisi sehat 100%

2 Maret 2020

Screening Test Bayi Baru Lahir, Mama Harus Wajib Dilakukan
Freepik/lelia_milaya

Pernahkah Mama bertanya mengapa bayi baru lahir harus segera melalui serangkaian screening test?

Tujuannya tak lain guna mendeteksi kemungkinan adanya gangguan maupun kelainan sedini mungkin.

Jika gangguan atau kelainan itu terdeteksi sejak awal kelahirannya, tentu dokter akan semakin mudah memberikan intervensi atau penanganan.

Umumnya, sederet prosedur tersebut dilakukan sebelum bayi berumur tujuh hari. Bahkan, sebagian besar dilakukan dalam 24 jam pertama hidupnya di dunia.

Seperti apakah screening test yang harus dilalui oleh bayi? Berikut Popmama.comrangkum jawabannya, seperti dilansir dari babycenter.co.uk.

1. Tes Apgar pada satu menit pertama

1. Tes Apgar satu menit pertama
Pexels/Jonathan Borba

Satu menit setelah bayi lahir, perawat akan melakukan pemeriksaan pada kondisi kesehatan bayi secara general menggunakan tes Apgar.

Apa saja yang dicek? Mulai dari penampakan warna kulit bayi, pernapasan, frekuensi denyut jantung, aktivitas otot, dan refleks bayi terhadap rangsangan.

Pengecekan pertama ini diharapkan bisa mendeteksi adanya gangguan atau kelainan di awal yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Setelah itu, perawat akan meletakkan bayi pada dada Mama untuk proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Kontak kulit pertama antara Mama dan bayi pasti menjadi momen spesial yang tidak bisa dilupakan!

Baca juga: APGAR Score, Pengecekan Bayi saat 5 Menit Pertama Pasca Persalinan

2. Tes Apgar kedua dan pengukuran bayi

2. Tes Apgar kedua pengukuran bayi
Freepik/freestockcenter

Lima menit usai kelahiran bayi, tes Apgar kedua kembali dilakukan. Kadang proses pemeriksaan dilakukan selagi bayi berada dalam dekapan Mama.

Kemudian, sesudah proses IMD usai atau maksimal satu jam setelah waktu kelahiran, perawat akan menimbang bayi.

Proses pengukuran ini berlanjut pada pengecekan suhu tubuh dan pengukuran lingkar kepalanya. Semua hasil pemeriksaan tersebut akan dituliskan pada buku kesehatan ibu dan anak (KIA).

Nantinya, setiap bulan Mama diharapkan membawa bayi ke dokter/bidan/posyandu untuk menimbang berat badan. Hal ini perlu guna memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi secara rutin.

Oya, perawat juga akan memasang gelang nama bayi pada pergelangan tangan dan/atau pergelangan kaki.

3. Suntikan vitamin K

3. Suntikan vitamin K
Freepik/Chevanon

Mama pernah dimintai persetujuan bayi disuntik vitamin K?

Ya, prosedur ini memang wajib dilalui oleh semua bayi baru lahir. Meskipun jarang, sebagian bayi baru lahir kadang kurang memiliki asupan vitamin K.

Hal itu bisa mengarah pada VKDB atau vitamin K deficiency bleeding. Bayi hanya butuh satu suntikan saja untuk menekan risiko terkena masalah kesehatan tersebut.

Editors' Picks

4. Pengambilan sampel darah melalui tumit bayi

4. Pengambilan sampel darah melalui tumit bayi
pixabay/ Suchart Sriwichai

Perawat juga menusuk tumit bayi untuk mengambil sampel darah. Biasanya, tetes darah itu akan ditaruh dalam kartu kertas filter. Hasilnya, tampak beberapa “titik darah kering” muncul di kartu.

Kartu screening tersebut akan dibawa ke laboratorium untuk kemudian dianalisis. Adapun beberapa jenis tes yang umum dilakukan pada sampel darah bayi antara lain untuk mendeteksi fenilketonuria, penyakit sel sabit, cystic fibrosis, toxoplasmosis, dan galaktosemia.

Jika hasil tes negatif, maka bayi Mama dinyatakan sehat dan tidak menderita penyakit tertentu. Sebaliknya, jika hasil pemeriksaan positif, dokter akan memberikan penanganan khusus selama beberapa waktu ke depan.

5. Pemeriksaan penyakit kuning

5. Pemeriksaan penyakit kuning
Freepik/Watcharapol_amprasert

Salah satu kekhawatiran orang tua pada bayi baru lahir adalah jaundice, yaitu kondisi di mana kulit bayi terlihat menguning akibat jumlah bilirubin tinggi.

Secara berkala selama di rumah sakit, dokter atau perawat akan melakukan kunjungan guna mengecek tanda-tanda kuning.

Sebenarnya, kondisi ini umum dialami semua bayi baru lahir karena organ hati mereka belum bisa bekerja sempurna. Rata-rata jaundice menghilang setelah bayi berusia 10-14 hari. Mama bisa membantunya dengan memberikan ASI.

Namun, jika level bilirubin dalam darah bayi tinggi, dokter akan melakukan perawatan khusus dengan disinar atau phototherapy.

6. Tes pendengaran

6. Tes pendengaran
Freepik/Yanalya

Bayi juga perlu melakukan tes pendengaran pada minggu pertama kelahirannya. Umum dilakukan di rumah sakit atau klinik, tes ini sering juga disebut sebagai automated otoacoustic emission atau AOAE.

Biasanya tes hanya berlangsung sekitar 10 menit. Bayi juga tidak akan merasa sakit atau nyeri. Hasil tes pun bisa segera Mama terima dengan baik.

7. Oximetri pulsa dan hipotiroid kongenital

7. Oximetri pulsa hipotiroid kongenital
Pixabay/distel2610

Kedua tes ini punya tujuan berbeda pada pemeriksaan bayi. Oximetri pulsa bertujuan mengecek kadar oksigen dalam darah bayi.

Kadar oksigen rendah atau naik turun bisa jadi pertanda kemungkinan penyakit jantung bawaan kritis.

Sementara, hipotiroid kongenital dilakukan pada 48-72 jam pertama kehidupan bayi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk deteksi dini hipotiroid kongenital.

Penyakit tersebut bisa membuat penderitanya berisiko mengalami gangguan pertumbuhan maupun keterbelakangan mental. Namun, risiko gangguan itu umumnya baru tampak saat anak usia satu tahun, sehingga deteksi dini diperlukan.

Demikian rangkaian screening test yang wajib dilalui oleh bayi newborn.

Biasanya, pemeriksaan bayi sudah termasuk dalam biaya perawatan bayi baru lahir. Pastikan rumah sakit atau klinik tempat Mama akan melahirkan sudah menyediakan fasilitas ini ya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.