7 Fakta Penting Mengenai Persalinan Postmatur

Juga berbahaya seperti prematur nih, Ma.

8 Januari 2019

7 Fakta Penting Mengenai Persalinan Postmatur
Freepik/rawpixel

Bagi para ibu hamil, persalinan prematur tentu menjadi hal yang paling dikhawatirkan. Bagaimana tidak, dampak negatif dari persalinan prematur cukup banyak, baik bagi si Kecil maupun Mama.

Namun bagaimana jika persalinan terjadi melebihi due date alias postmatur? Apakah akan memberikan dampak negatif juga? Jika itu pertanyaan Mama, maka jawabannya adalah, "Ya."

Segala yang berlebihan tentu tidak baik ya, Ma, begitu juga dengan lama Mama mengandung. Si Kecil lebih lama di dalam kandungan bukan berarti lebih baik, karena tetap saja bisa memberikan beberapa dampak negatif.

Untuk meningkatkan kewaspadaan Mama akan persalinan postmatur, simak beberapa info penting dari Popmama.com di bawah ini yuk, Ma.

1. Apa itu persalinan postmatur?

1. Apa itu persalinan postmatur
Freepik

Jika terlalu cepat lahir disebut prematur, maka postmatur adalah terlambat lahir. Menurut University of Rochester Medical Center (URMC), lama kehamilan yang normal adalah 37 sampai 41 minggu.

Namun itu pun masih terbagi lagi menjadi beberapa waktu persalinan, yaitu:

  • Early term: Persalinan kehamilan 37 minggu sampai 38 minggu 6 hari,
  • Full term: Persalinan kehamilan 30 minggu hingga 40 minggu 6 hari,
  • Late term: Persalinan kehamilan 41 minggu sampai 41 minggu 6 hari.

Nah, jika usia kehamilan sudah lebih dari 41 minggu 6 hari maka disebut dengan persalinan postmatur atau yang dalam istilah medis disebut dengan dysmaturity.

Dengan kata lain, URMC menggunakan istilah postmatur untuk bayi yang lahir di atas 42 minggu. Namun bayi postmatur ini terbilang jarang, jauh lebih jarang jika dibandingkan dengan bayi prematur.

2. Apa sih penyebab persalinan postmatur?

2. Apa sih penyebab persalinan postmatur
Pixabay/alessandraamendess

Menurut URMC, para peneliti di universitas tersebut belum tahu pasti penyebab postmatur, karena terkadang melesetnya due date (hari perkiraan lahir) adalah Mama tidak yakin kapan menstruasi terakhir.

Kalau tanggalnya salah, maka sangat mungkin bayi lahir lebih cepat atau lebih lama dari perkiraan dokter. Untuk itu, cara paling akurat mengetahui usia kandungan adalah USG di 12 minggu pertama.

3. Siapa yang berisiko mengalami postmatur?

3. Siapa berisiko mengalami postmatur
Freepik/Yanalya

Siapa saja perempuan yang memiliki risiko untuk mengalami postmatur? Simak yang berikut ini, apakah kamu salah satunya?

  • Kehamilan pertama,
  • Bayi laki-laki,
  • Usia ibu lebih tua,
  • Ibu obesitas,
  • Ibu atau bapak memiliki riwayat postmatur,
  • Ibu berkulit putih.

Editors' Picks

4. Apa saja tanda bayi postmatur?

4. Apa saja tanda bayi postmatur
Pixabay/smpratt90

Tanda bayi yang lahir postmatur tentu saja berbeda-beda, namun umumnya adalah sebagai berikut ini:

  • Kulit kering dan mengelupas,
  • Kukunya panjang,
  • Rambutnya sangat lebat,
  • Kerutan di telapak tangan dan telapak kakinya terlihat jelas,
  • Tubuhnya tidak diselimuti lemak,
  • Bayi lebih waspada dan matanya bisa terbuka lebar.

5. Apa bahaya yang mengancam kesehatan bayi postmatur?

5. Apa bahaya mengancam kesehatan bayi postmatur
Freepik/Freepic.diller

Bayi postmatur umumnya lahir dengan berat badan yang lebih besar dari anak lahir cukup bulan, dan tentu saja ini dapat menyebabkan masalah saat persalinan.

Selain itu, karena plasenta dipaksa aktif hingga 42 minggu (atau lebih), maka tentu plasenta tidak bekerja seefektif sebelumnya. Ini bisa menyebabkan:

  • Kekurangan cairan ketuban. Hal ini bisa membuat bayi kelebihan berat badan, atau bahkan menurun berat badannya.
  • Kekurangan oksigen. Bayi yang kekurangan oksifen bisa bermasalah saat dilahirkan.
  • Meconium aspiration syndrome. Mekonium adalah pup pertama bayi, yang seharus dikeluarkan setelah bayi lahir. Namun pada bayi yang terlalu lama di dalam kandungan, mekonium ini bisa terhirup dan masuk ke dalam paru-parunya. Tentu saja ini berbahaya bagi pernapasan si Kecil.
  • Hipoglikemia atau gula darah rendah. Ini terjadi ketika janin sudah memakai cadangan glukosa dalam tubuhnya.

Langkah apa saja yang dilakukan dalam persalinan postmatur?

Langkah apa saja dilakukan dalam persalinan postmatur
Pressfoto / Freepik

Dokter tentu akan mengecek dengan cermat kesehatan janin Mama, dan mewaspadai kemungkinan terjadinya masalah. Menurut URMC, ada beberapa tes yang mungkin dilakukan, seperti:

  • USG,
  • Nonstress testing. Ini untuk melihat detak jantung janin dan pergerakannya,
  • Cek jumlah air ketuban.

Tim dokter juga mungkin akan memutuskan untuk mempercepat waktu persalinan, namun ini bergantung pada beberapa hal.

Detak jantung bayi juga akan dipantau melalui monitor, karena penting untuk mengindikasikan suplai oksigen janin. Jika tiba-tiba terjadi perubahan yang berarti, dokter mungkin akan menyarankan untuk melahirkan secara sesar.

7. Apakah postmatur bisa dicegah?

7. Apakah postmatur bisa dicegah
Pixabay/publicdomainpictures

Tentu saja, dengan mengetahui due date atau tanggal perkiraan lahirnya si Kecil. Catat juga hari pertama menstruasi Mama, karena ini sangat membantu dokter dalam memperkirakan due date sehingga mencegah postmatur.

Ketika Mama sudah positif hamil, jangan lupa lakukan USG di 12 minggu pertama kehamilan, agar dokter bisa memeriksa usia dan ukuran janin dalam perut Mama.

Itulah penjelasan tentang persalinan postmatur yang perlu Mama ketahui, terlebih jika saat ini kamu sedang hamil atau bahkan baru sekadar program hamil.

Baca juga: 5 Cara Latihan Dasar untuk Membentuk Otot Perut Pasca Persalinan

Baca juga: 7 Masalah Umum Pascapersalinan dan Cara Mengatasinya