Menyambut kehadiran si Kecil ke dunia merupakan salah satu momen paling membahagiakan sekaligus mengharukan dalam hidup seorang perempuan.
Namun, di balik tawa dan aroma bayi baru lahir yang menenangkan, masa nifas juga membawa gelombang perubahan yang sangat besar. Banyak Mama baru yang tidak menduga bahwa kelelahan fisik setelah bertaruh nyawa di ruang bersalin akan langsung disambut oleh tanggung jawab pengasuhan yang tiada henti selama 24 jam penuh.
Kombinasi antara fluktuasi hormon yang drastis, luka pascamelahirkan yang belum pulih, dan kurangnya waktu istirahat sering kali memicu fenomena yang dikenal sebagai postpartum burnout.
Melansir dari Intermountain Health, kondisi kelelahan ekstrem ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat mengikis kebahagiaan Mama dalam mengasuh si Kecil.
Data medis bahkan menunjukkan bahwa mayoritas ibu baru mengalami baby blues, dan satu dari dalam delapan ibu di antaranya berisiko mengalami depresi postpartum yang lebih berat jika tidak ditangani dengan tepat.
Menyadari pentingnya menjaga waras di masa nifas, Mama perlu memahami bahwa merawat kesehatan mental bukanlah sebuah bentuk keegoisan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak.
Ketika kondisi psikologis Mama stabil, proses pemulihan fisik akan berjalan lebih optimal dan ikatan batin dengan bayi pun akan terjalin dengan lebih indah.
Kali ini Popmama.com merangkum cara praktis mengelola postpartum burnout untuk menjaga kesehatan mental di masa nifas yang disadur dari panduan kesehatan terpercaya.
