- Waktu Kemunculan: Terjadi dalam beberapa menit hingga satu jam setelah persalinan.
- Durasi: Umumnya berlangsung singkat, sekitar 20 hingga 60 menit saja.
- Kondisi Fisik: Tubuh bergetar tapi Mama tetap sadar dan suhu tubuh berada di angka normal (tidak demam tinggi).
- Respons Tubuh: Getaran perlahan mereda setelah Mama diberikan kehangatan atau merasa lebih tenang
Apa Itu Postpartum Shivering? Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya Ma!

- Postpartum shivering adalah reaksi alami tubuh setelah melahirkan, ditandai dengan menggigil hebat akibat perubahan hormon, kelelahan fisik, serta penyesuaian sistem saraf dan suhu tubuh.
- Kondisi ini bisa dipicu oleh efek obat bius, kehilangan darah, perpindahan cairan, hingga faktor emosional dan suhu ruangan yang dingin selama atau setelah proses persalinan.
- Menggigil pascapersalinan umumnya bersifat sementara dan tidak berbahaya; dapat diredakan dengan kehangatan fisik, kontak kulit dengan bayi, serta menjaga ketenangan dan asupan cairan.
Momen setelah si Kecil lahir ke dunia seharusnya menjadi waktu yang penuh kebahagiaan dan kelegaan. Namun, tidak jarang Mama justru merasakan reaksi fisik yang tak terduga, salah satunya adalah tubuh yang tiba-tiba bergetar hebat atau menggigil. Kondisi ini sering kali muncul hanya beberapa menit setelah proses persalinan selesai, baik itu melalui persalinan normal maupun operasi caesar.
Melihat tubuh yang bergetar cukup kuat seperti sedang kedinginan ekstrem tentu bisa membuat Mama atau bahkan Papa yang mendampingi merasa khawatir. Rasanya mungkin mirip seperti saat kita sedang demam tinggi atau berada di ruangan dengan suhu yang sangat rendah. Padahal, suhu ruangan di rumah sakit mungkin sedang stabil dan Mama sudah diselimuti dengan cukup hangat.
Fenomena ini secara medis dikenal dengan istilah postpartum shivering. Meskipun terlihat mengkhawatirkan karena getarannya yang tidak terkontrol, Mama tidak perlu langsung panik. Reaksi ini sebenarnya adalah cara tubuh berkomunikasi bahwa ia sedang melakukan penyesuaian besar-besaran setelah melewati proses melelahkan yang luar biasa di meja persalinan.
Penting bagi Mama untuk memahami bahwa kondisi ini umumnya bersifat sementara dan merupakan bagian dari fase pemulihan. Dengan edukasi yang tepat, Mama bisa lebih tenang menghadapinya tanpa rasa takut yang berlebihan. Memahami penyebab dan cara menanganinya akan membantu Mama melewati masa nifas awal dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Supaya Mama makin paham dan nggak overthinking lagi, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta penting mengenai penyebab serta fakta medis di balik postpartum shivering yang perlu Mama ketahui.
Table of Content
1. Perubahan hormon yang drastis setelah plasenta keluar

Salah satu pemicu utama mengapa tubuh mama bergetar hebat adalah lonjakan dan penurunan hormon yang terjadi secara tiba-tiba. Begitu plasenta keluar dari rahim, kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh Mama akan turun secara drastis dalam waktu yang sangat singkat. Perubahan ekstrem inilah yang kemudian memicu reaksi pada sistem saraf pusat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Obstetric Anesthesia and Critical Care menyebutkan bahwa ketidakseimbangan hormon ini mempengaruhi pusat pengatur suhu di otak (hipotalamus). Akibatnya, tubuh merespons seolah-olah terjadi gangguan suhu, yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan menggigil. Ini adalah mekanisme alami tubuh untuk menyeimbangkan diri kembali.
Mama biasanya akan merasakan getaran ini mereda seiring dengan tubuh yang mulai terbiasa dengan kadar hormon yang baru. Proses ini memang membutuhkan waktu, namun biasanya tidak berlangsung lama. Jika Mama merasa sangat terganggu, jangan ragu untuk meminta pelukan hangat dari Papa atau bantuan perawat untuk memberikan rasa nyaman ekstra.
2. Reaksi sistem saraf terhadap efek obat bius

Bagi Mama yang menjalani persalinan melalui operasi caesar atau menggunakan anestesi epidural, risiko mengalami postpartum shivering cenderung lebih tinggi. Obat bius dapat mempengaruhi bagaimana pembuluh darah mengatur aliran panas ke seluruh tubuh. Anestesi menyebabkan pembuluh darah melebar (vasodilatasi), yang membuat suhu inti tubuh sedikit menurun meski Mama tidak merasakannya secara langsung.
Menurut data dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), penggunaan anestesi tertentu memang memiliki kaitan erat dengan reaksi menggigil pasca-operasi. Hal ini terjadi karena tubuh mencoba memproduksi panas tambahan untuk mengompensasi penurunan suhu inti tersebut. Reaksi ini merupakan tanda bahwa sistem saraf Mama sedang mulai "bangun" kembali setelah efek obat bius perlahan menghilang.
Selain itu, cairan infus yang masuk ke dalam tubuh dalam kondisi suhu ruang juga bisa berkontribusi pada sensasi dingin di dalam pembuluh darah. Itulah sebabnya, banyak tenaga medis yang menyarankan penggunaan selimut penghangat segera setelah prosedur selesai. Selama detak jantung dan tekanan darah Mama terpantau stabil, kondisi ini tidak membahayakan.
3. Kelelahan fisik yang luar biasa dan pelepasan adrenalin

Melahirkan adalah "olahraga" paling berat yang pernah dilakukan oleh seorang perempuan. Selama proses mengejan atau menahan kontraksi, otot-otot tubuh Mama bekerja sangat keras secara terus-menerus. Kelelahan fisik yang ekstrem ini, ditambah dengan pelepasan hormon adrenalin yang melonjak selama persalinan, sering kali berujung pada reaksi tremor atau gemetar setelah semuanya usai.
Fakta menarik dari Mayo Clinic menjelaskan bahwa ketika rasa tegang dan lonjakan adrenalin mulai menurun setelah bayi lahir, tubuh mengalami fase relaksasi yang tiba-tiba. Transisi dari kondisi sangat tegang ke fase istirahat inilah yang memicu gerakan otot yang tidak disengaja. Anggap saja ini sebagai cara otot-otot Mama melakukan "pendinginan" setelah maraton panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya perawatan suportif di jam-jam pertama setelah melahirkan. Memberikan kehangatan fisik melalui metode skin-to-skin dengan bayi tidak hanya membantu bonding, tetapi juga secara medis terbukti membantu menstabilkan suhu tubuh Mama dan mengurangi intensitas menggigil karena memberikan rasa tenang secara psikologis.
4. Perpindahan cairan dan kehilangan darah selama proses persalinan

Saat proses melahirkan, terjadi perpindahan volume cairan yang cukup signifikan di dalam tubuh Mama. Selain itu, adanya kehilangan darah dalam batas normal pun tetap memberikan dampak pada sistem sirkulasi. Ketika volume darah sedikit berkurang, distribusi panas ke seluruh anggota tubuh bisa terganggu untuk sementara waktu, yang akhirnya memicu respons menggigil.
Banyak ahli medis mencatat bahwa suhu tubuh ibu bisa turun sedikit karena paparan lingkungan ruang bersalin yang biasanya dingin, ditambah dengan hilangnya cairan ketuban yang hangat. Kondisi ini membuat termostat alami tubuh bekerja ekstra keras untuk menaikkan suhu kembali ke angka normal. Menggigil adalah cara tercepat bagi tubuh untuk menghasilkan panas secara internal melalui kontraksi otot.
Meski normal, tenaga medis akan tetap memantau intensitas menggigil ini dengan ketat. Jika menggigil disertai dengan perdarahan yang sangat banyak atau demam yang tinggi (di atas 38°C), barulah dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada infeksi. Namun, selama hanya getaran biasa, Mama hanya perlu beristirahat dan memastikan asupan cairan tetap terjaga.
5. Masuknya sedikit sel janin ke dalam sirkulasi darah ibu

Ada sebuah teori medis menarik yang sering dibahas para ahli, yaitu adanya kemungkinan sejumlah kecil sel janin atau cairan ketuban masuk ke dalam aliran darah Mama selama proses persalinan. Fenomena ini dikenal sebagai mikrotransfusi fetomaternal. Meski terdengar sedikit teknis, hal ini sebenarnya respons imun yang cukup umum terjadi di meja persalinan.
Tubuh Mama mungkin mengenali elemen-elemen ini sebagai "benda asing" yang memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi. Salah satu bentuk reaksinya adalah dengan meningkatkan aktivitas otot melalui menggigil. Jadi, getaran yang Mama rasakan bisa jadi merupakan tanda bahwa sistem imun Mama sedang bekerja sangat aktif untuk memproteksi tubuh kembali ke kondisi semula.
Penelitian dalam lingkup obstetric anesthesia menunjukkan bahwa reaksi imunologi ini biasanya bersifat ringan dan akan hilang dengan sendirinya begitu sistem sirkulasi Mama stabil. Selama tidak ada tanda-tanda alergi berat atau gangguan pernapasan, Mama tidak perlu khawatir karena ini adalah bagian dari "pembersihan" alami yang dilakukan tubuh setelah berbagi ruang dengan si Kecil selama 9 bulan.
6. Pelepasan ketegangan emosional dan psikologis

Jangan sepelekan faktor psikis ya, Ma. Selama masa kehamilan hingga detik-detik persalinan, tingkat stres dan kecemasan Mama berada di titik tertinggi. Ketika akhirnya si Kecil lahir dan terdengar suara tangisannya, ada perasaan lega yang luar biasa yang menyapu seluruh emosi Mama. Penurunan tingkat stres yang mendadak ini ternyata bisa termanifestasi dalam bentuk fisik.
Secara psikologis, tubuh melepaskan semua energi ketegangan yang selama ini tertahan. Menggigil setelah melahirkan sering kali merupakan bentuk pelepasan emosional atau emotional release. Otot-otot yang tadinya kaku karena menahan rasa sakit dan rasa takut mulai mengendur, dan getaran tersebut adalah cara alami tubuh untuk membuang sisa-sisa energi stres tersebut.
Banyak Mama yang melaporkan bahwa menggigil ini sering dibarengi dengan perasaan ingin menangis haru atau justru tertawa bahagia. Ini sangat normal, Ma! Memberikan waktu bagi diri sendiri untuk bernapas dalam-dalam dan merasakan kehadiran bayi di pelukan akan membantu sistem saraf parasimpatis Mama bekerja lebih dominan, sehingga tubuh pun akan perlahan menjadi tenang dan berhenti bergetar.
7. Pengaruh suhu ruangan dan paparan lingkungan

Faktor eksternal seperti suhu di ruang bersalin atau ruang operasi juga memegang peranan penting. Ruang operasi biasanya dijaga pada suhu yang cukup dingin untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan menjaga kenyamanan tenaga medis yang bekerja di bawah lampu operasi yang panas. Namun bagi Mama yang hanya mengenakan baju pasien tipis, suhu ini bisa cukup menusuk hingga ke tulang.
Ditambah lagi, saat ketuban pecah dan bayi keluar, tubuh Mama kehilangan sumber panas internal yang selama ini menjaga suhu perut tetap stabil. Perpindahan dari kondisi "hangat di dalam" ke "dingin di luar" ini membuat tubuh kaget. Respons otomatis otak adalah memerintahkan otot untuk bergerak (menggigil) agar bisa menghasilkan panas tubuh secara mandiri dalam waktu cepat.
Nah, untuk mengatasi ini, biasanya perawat akan segera memberikan warm blanket atau selimut yang sudah dihangatkan. Tips dari berbagai sumber kesehatan internasional menyarankan agar Mama tetap menjaga area kepala dan kaki tetap hangat. Jika Mama merasa sangat kedinginan, jangan ragu untuk meminta tambahan selimut atau meminta Papa untuk melakukan kontak kulit (skin-to-skin) karena suhu tubuh Papa bisa membantu menstabilkan suhu tubuh Mama.
Apakah Ada Dampaknya bagi Mama?
Secara medis, postpartum shivering tidak meninggalkan dampak permanen pada organ tubuh Mama. Namun, dampak yang paling nyata adalah gangguan kenyamanan. Gemetar yang hebat bisa membuat Mama merasa sangat kelelahan karena otot bekerja keras secara tidak sengaja, serta membuat Mama kesulitan untuk memegang si Kecil dengan stabil di menit-menit awal.
Selain itu, jika Mama tidak diedukasi sebelumnya, hal ini bisa berdampak pada kecemasan berlebih. Mama mungkin merasa trauma atau takut ada komplikasi serius. Padahal, ketika Mama bisa lebih rileks, proses inisiasi menyusui dini (IMD) justru bisa membantu meredakan menggigil ini lebih cepat karena adanya kontak kulit ke kulit yang menghangatkan secara alami.
Mengenal Ciri-Ciri Postpartum Shivering yang Normal
Supaya Mama nggak bingung membedakan antara reaksi tubuh alami dan gangguan kesehatan, yuk kenali ciri-ciri menggigil yang tergolong normal:
Segera Hubungi Dokter jika Mengalami Ini
Walaupun seringnya normal, Mama harus tetap waspada karena menggigil juga bisa jadi gejala dari kondisi serius seperti infeksi atau perdarahan hebat. Segera panggil bantuan medis jika Mama merasakan:
- Demam Tinggi: Suhu tubuh melonjak di atas 38 derajat Celsius.
- Nyeri Hebat: Menggigil disertai rasa sakit luar biasa di area perut bawah.
- Perdarahan Berlebih: Keluar darah yang sangat banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir.
- Gejala Lain: Dada terasa sesak, pusing hebat, atau jantung berdebar tidak beraturan.
Mengalami tubuh yang menggigil hebat setelah melahirkan memang bisa menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan, namun ingatlah bahwa ini adalah cara hebat tubuh Mama untuk beristirahat dan memulihkan diri. Selama gejalanya tetap normal, Mama tidak perlu merasa cemas berlebihan. Fokuslah pada kenyamanan diri sendiri, mintalah pelukan hangat dari Papa, dan biarkan kehangatan si Kecil saat skin-to-skin membantu menenangkan sistem saraf Mama. Selamat menikmati masa-masa indah menjadi orangtua baru, dan semoga masa pemulihan Mama berjalan lancar ya!
Nah, kalau Mama punya cerita unik nggak saat mengalami postpartum shivering ini?

-oRNeTStOatgcjn5yVSXKAM2D8gE0ueSd.jpg)
















