- Preeklamsia atau komplikasi kehamilan
- Robekan vagina dan proses pemulihan yang sulit
- Diastasis recti yang parah atau pemisahan otot perut
- Pemberian epidural atau anestesi yang tidak tepat
- Proses persalinan yang sangat panjang dan menyakitkan
- Komunikasi yang kurang baik dengan tenaga kesehatan
- Kekhawatiran terhadap kesehatan bayi, terutama jika bayi pertama lahir prematur
- Hilangnya rasa martabat saat proses persalinan akibat perawatan yang kurang baik atau perlakuan tidak menyenangkan
- Perubahan negatif dalam hubungan dengan pasangan setelah melahirkan.
Kenapa Kehamilan Kedua Lebih Rentan Memicu Stres? Ini Kata Studi

Studi dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth menemukan lebih dari 90 persen ibu hamil anak kedua mengalami stres sedang hingga tinggi, dengan mayoritas memiliki psychological capital yang rendah.
Penelitian menunjukkan kehamilan kedua cenderung memicu kecemasan dan depresi lebih tinggi karena meningkatnya tanggung jawab mengurus anak pertama serta perubahan dinamika keluarga.
Pengalaman traumatis saat persalinan pertama dapat memperburuk stres emosional pada kehamilan berikutnya, terutama jika disertai kekhawatiran terhadap kesehatan bayi atau hubungan dengan pasangan.
Kecemasan dan stres merupakan tantangan yang cukup sering dialami calon Mama selama masa kehamilan. Meski seorang Mama sudah pernah menjalani kehamilan dan persalinan sebelumnya, bukan berarti pengalaman tersebut membuat kehamilan berikutnya terasa lebih mudah.
Hal ini juga didukung oleh sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth. Penelitian tersebut menemukan bahwa kehamilan kedua tetap berkaitan dengan tingkat stres yang tinggi, meskipun ibu sudah memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya.
Lantas, kenapa kehamilan kedua lebih rentan memicu stres? Berikut penjelasan dari berbagai studi yang sudah Popmama.com rangkum.
1. Studi menemukan tingkat stres cukup tinggi pada kehamilan kedua

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth menunjukkan bahwa perempuan yang sedang hamil anak kedua memiliki tingkat tekanan psikologis yang cukup tinggi. Dari 400 peserta penelitian, lebih dari 84 persen dilaporkan mengalami kecemasan pada tingkat sedang. Sementara itu, lebih dari 90 persen peserta melaporkan mengalami stres dengan tingkat sedang hingga tinggi.
Dalam studi tersebut, peneliti juga menyoroti konsep low psychological capital. Kondisi ini menggambarkan seseorang yang memiliki sumber daya psikologis positif yang rendah, seperti kurangnya rasa percaya diri, harapan, optimisme, dan kemampuan untuk bangkit dari kesulitan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 71 persen peserta memiliki tingkat psychological capital yang rendah. Kondisi ini secara signifikan berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan stres selama kehamilan.
2. Kenapa kehamilan kedua lebih rentan memicu stres?

Selain faktor psikologis, perubahan dinamika keluarga juga dapat meningkatkan tekanan selama kehamilan kedua. Sebuah survei yang dilakukan oleh National Library of Medicine mencoba memahami kondisi psikologis perempuan yang sedang menjalani kehamilan kedua.
Penelitian tersebut melibatkan 162 ibu hamil anak kedua yang sebelumnya memiliki kondisi kesehatan mental yang baik serta tidak memiliki riwayat komplikasi kehamilan atau gangguan kognitif. Para peserta diminta menilai emosi negatif yang mereka rasakan menggunakan Self-Rating Anxiety Scale (SAS) dan Self-Rating Depression Scale (SDS).
Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kecemasan dan depresi pada kehamilan kedua cenderung lebih tinggi dibandingkan pada kehamilan pertama. Salah satu alasannya karena Mama kini harus membagi waktu dan energi antara kehamilan serta mengurus anak yang sudah ada di rumah.
Kehadiran anak kedua sebenarnya tidak menambah peran baru bagi orangtua. Namun, hal tersebut meningkatkan tuntutan dari peran yang sudah dijalani sebelumnya.
3. Trauma dari pengalaman persalinan pertama bisa muncul kembali

Faktor lain yang sering memicu stres pada kehamilan kedua adalah pengalaman persalinan pertama yang kurang menyenangkan atau bahkan traumatis. Menurut Birth Trauma Association, pengalaman persalinan pertama yang berat dapat membuat kehamilan berikutnya terasa jauh lebih menantang secara emosional.
Beberapa alasan yang dapat memicu ketakutan pada kehamilan berikutnya, antara lain:
4. Tips mengurangi rasa cemas dan stres saat hamil anak kedua

Meski kehamilan kedua bisa terasa lebih menantang, Mama tetap bisa mengelola stres dengan beberapa cara sederhana. Berikut beberapa cara yang bisa membantu Mama:
1. Jangan ragu meminta bantuan
Jika Mama merasakan keluhan seperti mual yang lebih sering, nyeri panggul, atau ketidaknyamanan lain selama kehamilan kedua, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai hal yang normal. Setiap pengalaman kehamilan bisa berbeda. Karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.
2. Usahakan mendapatkan istirahat yang cukup
Berbeda dengan kehamilan pertama, Mama mungkin harus tetap aktif mengurus anak yang sudah ada di rumah. Hal ini bisa membuat waktu istirahat menjadi lebih terbatas. Karena itu, cobalah meminta bantuan pasangan, keluarga, atau pengasuh untuk membantu mengurus anak sementara waktu.
3. Menerima perubahan tubuh dengan lebih positif
Pada kehamilan kedua, perubahan tubuh biasanya terlihat lebih cepat. Hal ini juga sering disertai kenaikan berat badan atau munculnya stretch marks. Meski terkadang membuat tidak percaya diri, penting untuk mengingat bahwa tubuh Mama sedang melakukan hal luar biasa, yaitu menciptakan dan merawat kehidupan baru.
4. Konsumsi vitamin prenatal secara rutin
Asam folat merupakan salah satu nutrisi penting selama kehamilan. Nutrisi ini diketahui dapat membantu melindungi tubuh dari perubahan suasana hati yang sering terjadi selama masa kehamilan serta berpotensi menurunkan risiko depresi setelah melahirkan.
Nah, itu dia penjelasan terkait alasan mengapa kehamilan kedua lebih rentan memicu stres, menurut berbagai penelitian.










-UnhTUP9LxVbtS8uWf13IlKfHlaOuwBOm.jpg)








