Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apakah Endometriosis Terjadi Akibat Faktor Genetik?
Popmama.com/Yesica Kirana/AI

Intinya sih...

  • Endometriosis terjadi ketika jaringan mirip lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, rongga panggul, atau area sekitarnya.

  • Faktor genetik diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko endometriosis. Perempuan yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat endometriosis cenderung lebih rentan dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat serupa.

  • Perbedaan gejala pada setiap perempuan menunjukkan pentingnya pendekatan yang individual dalam diagnosis dan penanganan. Faktor genetik memang dapat meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Endometriosis masih menjadi kondisi yang kerap menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk soal penyebabnya. 

Hingga kini, dunia medis belum bisa memastikan satu faktor tunggal yang memicu endometriosis. Namun, para ahli sepakat bahwa faktor genetik memiliki peran dalam meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

Selain itu, endometriosis tidak selalu menunjukkan hubungan yang sejalan antara tingkat keparahan kondisi dan gejala yang dirasakan. Misalnya, ada perempuan dengan endometriosis berat tetapi hampir tanpa keluhan, sementara yang kondisinya tergolong ringan justru mengalami nyeri hebat hingga sulit ditangani. 

Perbedaan inilah yang membuat endometriosis menjadi penyakit yang kompleks dan menantang dalam proses diagnosis maupun pengobatan.

Berikut Popmama.com jelaskan apakah endometriosis dapat terjadi akibat faktor genetik? Melansir dari The Royal Women’s Hospital dan sumber lainnya. Yuk simak penjelasannya. 

Apa Itu Endometriosis?

Popmama.com/Yesica Kirana/AI

Endometriosis terjadi ketika jaringan mirip lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, rongga panggul, atau area sekitarnya. Jaringan ini merespons perubahan hormon sehingga dapat menimbulkan peradangan dan nyeri.

Namun, penyebab pasti endometriosis masih belum sepenuhnya dipahami. Para pakar menyebut kondisi ini sebagai penyakit yang kompleks karena tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kasus. 

Endometriosis juga tidak disebabkan oleh satu gen tertentu, melainkan berkembang melalui kombinasi berbagai proses biologis di dalam tubuh.

Pengaruh Faktor Genetik pada Endometriosis

Tiktok.com/doctor_pras

Faktor genetik diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko endometriosis. Perempuan yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat endometriosis cenderung lebih rentan dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat serupa.

Dr. Pras menegaskan bahwa genetik memang berperan dalam kondisi ini.
“Adakah faktor genetik? Memang ada. Semua pakar endometriosis akan memberi tahu ini,” ujarnya melalui akun TikTok pribadinya @doctor_pras.

Meski demikian, hal ini tidak berarti endometriosis pasti diturunkan. Faktor genetik membuat seseorang lebih rentan, tetapi perkembangan penyakit ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di sekitarnya.

Gejala Endometriosis Bisa Berbeda pada Setiap Perempuan

Popmama.com/Yesica Kirana/AI

Salah satu tantangan terbesar dalam endometriosis adalah ketidaksesuaian antara kondisi medis dan gejala yang dirasakan. 

Beberapa perempuan dengan endometriosis parah hampir tidak merasakan keluhan, sementara yang memiliki kondisi ringan justru mengalami nyeri hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dr. Pras menjelaskan bahwa sekitar 30 persen pasien dengan endometriosis parah tidak menunjukkan gejala sama sekali (symptomless). Sementara itu, ada juga pasien dengan kondisi endometriosis minimal, tetapi mengalami gejala yang sangat berat dan sulit ditangani.

Perbedaan ini membuat diagnosis dan penanganan endometriosis menjadi lebih kompleks, karena keluhan yang dirasakan tidak sesuai dengan temuan medis.

Peran Lingkungan dan Gaya Hidup

Popmama.com/Yesica Kirana/AI

Selain genetik, faktor lingkungan dan gaya hidup juga berperan dalam perkembangan endometriosis. Pola makan, paparan zat kimia tertentu, pengaruh hormon, serta kondisi lingkungan sekitar dapat berinteraksi dengan kerentanan genetik yang dimiliki seseorang.

Melansir dari The Royal Women’s Hospital, peneliti endometriosis Dr. Sarah Holdsworth-Carson menjelaskan bahwa endometriosis dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. 

Sekitar separuh risiko berkaitan dengan faktor genetik, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti gaya hidup, pola makan, serta paparan bahan kimia di sekitar.

“Kami tahu bahwa ada pengaruh genetik dan lingkungan yang memicu endometriosis, dengan 50 persen terkait genetik (DNA dan gen) dan 50 persen faktor lingkungan, termasuk gaya hidup, apa yang kita makan, paparan terhadap bahan kimia, dan lingkungan sekitar,” ujarnya. 

Interaksi antara gen dan lingkungan inilah yang menjelaskan mengapa dua perempuan dengan latar belakang genetik yang mirip dapat mengalami kondisi dan gejala endometriosis yang berbeda.

Hal Penting tentang Endometriosis

Freepik

Masih banyak anggapan keliru yang beredar seputar endometriosis. Padahal, endometriosis bukan penyakit menular dan kehamilan bukanlah pengobatan untuk kondisi ini. 

Pengangkatan rahim pun tidak selalu menjamin endometriosis hilang sepenuhnya. Meski tidak mengancam nyawa, endometriosis dapat menurunkan kualitas hidup dan berisiko memengaruhi kesuburan.

Inilah penjelasan mengenai endometriosis dengan faktor genetik. Endometriosis merupakan kondisi kompleks yang melibatkan faktor genetik dan lingkungan. 

Faktor genetik memang dapat meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Perbedaan gejala pada setiap perempuan menunjukkan pentingnya pendekatan yang individual dalam diagnosis dan penanganan.

Jika Mama menyadari nyeri haid yang tidak normal, ini menjadi langkah awal untuk mengenali endometriosis lebih dini. 

Selain itu, dengan pemahaman yang tepat, Mama diharapkan dapat memperoleh diagnosis dan penanganan yang mendukung kualitas hidup serta kesehatan reproduksi.

Editorial Team