Mengenal Spinal Stenosis, Penyebab Mulut Rahim Sempit dan Sulit Hamil

Cari tahu juga tentang ciri-ciri dan cara mengobati spinal stenosis yuk, Ma!

15 Juni 2020

Mengenal Spinal Stenosis, Penyebab Mulut Rahim Sempit Sulit Hamil
Pixabay/gkhaus

Saat sudah menikah, setiap pasangan tentu ingin segera mendapatkan keturunan agar hidup mereka semakin lengkap dan bahagia. Hanya saja prosesnya tidak selamanya mudah apalagi jika sudah menyangkut kesuburan pasangan suami istri. 

Perempuan dengan kondisi ruas tulang belakang yang mengalami penyempitan atau spinal stenosis tanpa disadari akan memengaruhi kesuburannya. 

Spinal stenosis adalahpenyebab penyempitan yang terjadi pada mulut rahim kecil, sehingga memicu perempuan sulit untuk bisa hamil. Secara umum spinal stenosis disebabkan proses penuaan karena usia yang sudah semakin bertambah. Dari banyaknya kasus, spinal stenosis terjadi pada perempuan usia lanjut yaitu sekitar 50 tahun ke atas. 

Jika Mama ingin mengetahui informasi lebih banyak lagi terkait spinal stenosis, kali ini Popmama.com telah merangkumnya. 

Demi kesehatan mama, yuk disimak!

1. Apa saja faktor penyebab yang bisa memicu spinal stenosis? 

1. Apa saja faktor penyebab bisa memicu spinal stenosis 
Pixabay/mariolh

Perlu Mama ketahui bahwa spinal stenosis termasuk penyakit yang bisa saja muncul di usia-usia produktif. Selain faktor usia, di mana spinal stenosis umumnya terjadi pada usia sekitar 50 tahun ke atas, ada beberapa faktor pemicu yang menyebabkan spinal stenosis antara lain: 

  • Adanya infeksi rahim atau serviks.
  • Memiliki kelainan tulang belakang sejak lahir.
  • Menderita skoliosis (kelengkungan tulang belakang yang abnormal berbentuk S).
  • Pernah ada riwayat operasi yang melibatkan serviks, sehingga efek operasi bisa menjadi pemicu.
  • Kondisi ruas tulang belakang yang mengalami penyempitan.

Spinal stenosis juga bisa terjadi pada perempuan yang pernah mengalami patah tulang atau cedera ruas belakang akibat kecelakaan. 

Editors' Picks

2. Ciri-ciri dan gejala dari spinal stenosis perlu diwaspadai

2. Ciri-ciri gejala dari spinal stenosis perlu diwaspadai
Freepik

Sama seperti penyakit yang lain, spinal stenosis tentu memiliki ciri-ciri dan gejala tersendiri karena muncul secara bertahap. Kondisi ini tanpa disadari dapat memengaruhi leher dan bagian belakang tubuh. 

Agar semakin waspada terhadap spinal stenosis, berikut ciri-ciri dan gejala yang perlu diwaspadai antara lain: 

  • Fungsi kandung kemih dan pergerakan usus mulai lemah. 
  • Merasakan telapak kaki dan telapak tangan mengalami keluhan mati rasa serta kesemutan. Anggota tubuh seolah tidak bisa berfungsi dengan baik. 
  • Mengalami rasa sakit dan kram pada bagian punggung bawah. Kondisi ini seringkali muncul ketika sedang berjalan, berdiri tegak, berolahraga atau bahkan saat mengendarai motor.  
  • Mulai kesulitan untuk bergerak, bahkan mudah terjatuh karena tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Ini bisa terjadi ketika kondisi spinal stenosis sudah semakin parah. 

3. Apa saja serangkaian tes yang harus dijalani untuk mendeteksi spinal stenosis?

3. Apa saja serangkaian tes harus dijalani mendeteksi spinal stenosis
Freepik/nensuria
Ilustrasi

Spinal stenosis atau penyempitan lubang serviks yang tidak teratasi dengan baik hanya akan memicu mulut rahim menjadi kecil.

Jika Mama merasa ada masalah kesehatan yang cukup menganggu, alangkah baiknya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter. Umumnya, pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan awal agar lebih mengetahui secara detail kekuatan saraf motorik dan sensorik. 

Dari pemeriksaan awal, pasien akan dirujuk untuk menjalani serangkaian tes lanjutan untuk memastikan kondisi kesehatannya. 

Tes akan kembali dimulai dengan melakukan foto rontgen untuk memeriksa perubahan yang terjadi pada bentuk tulang. Lalu akan ada pemeriksaan MRI agar bisa mendeteksi saraf tulang belakang lebih detail. 

Selain itu, pemeriksaan CT myelogram tidak boleh tertinggal. Pemeriksaan yang satu ini membantu pasien dalam mencegah munculnya kelainan bentuk tulang atau tumor berbahaya. 

Itulah serangkaian tes yang harus dijalani untuk mendeteksi spinal stenosis ya, Ma. 

4. Benarkah spinal stenosis dapat memicu perempuan sulit hamil?

4. Benarkah spinal stenosis dapat memicu perempuan sulit hamil
Freepik/Maksymiv_yura

Spinal stenosis memang tidak bisa dianggap remeh begitu saja apalagi untuk para pasangan yang baru menikah. 

Ketika seorang perempuan mengalami spinal stenosis, maka kondisi ruas tulang belakangnya juga akan mengalami penyempitan dan membuat mulut rahim berukuran kecil. Jika tidak diperiksa dan diatasi dengan baik, maka berisiko buruk terhadap kesuburan. 

Perlu diketahui juga bahwa kondisi spinal stenosis akan menyulitkan sperma bisa masuk dan mencapai sel telur, walau sudah melakukan hubungan seksual secara teratur selama masa subur.

Selain itu, produksi lendir serviks juga ikut terdampak. Ketika lendir serviks kurang mencukupi, maka sperma yang masuk tidak akan bertahan lama serta kesulitan bergerak untuk mencapai sel telur. 

Usahakan jangan sampai spinal stenosis menjadi penghalang terbesar untuk pasangan yang ingin segera mendapatkan keturunan. 

5. Bagaimana cara mengobati spinal stenosis?

5. Bagaimana cara mengobati spinal stenosis
Freepik/pressfoto

Dilansir dari VeryWell Family bahwa spinal stenosis atau kondisi mulut rahim yang kecil juga akan membuat pasangan kesulitan dalam menjalani berbagai program kehamilan, seperti inseminasi buatan.

Demi mendapatkan peluang agar bisa memiliki anak, maka spinal stenosis perlu diobati apalagi jika kondisinya sudah terdeteksi sejak dini. 

Secara umum, spinal stenosis akan dibantu dengan pemberian obat pereda nyeri yang bisa meringankan rasa sakit untuk sementara. Bahkan beberapa dokter memberikan antidepresan untuk mengurangi rasa nyeri yang berkelanjutan, sehingga membantu kondisi saraf yang tertekan dapat semakin berkurang.

Selain itu, ada beberapa langkah medis yang perlu dilakukan untuk mengatasi mulut rahim kecil akibat spinal stenosis, antara lain: 

  • Penggunaan dilator yang bertujuan untuk melebarkan mulut rahim secara perlahan dan terus meningkat. Dilator akan dibiarkan terpasang di dalam mulut rahim kurang lebih selama 4-6 minggu ke depan.
  • Histeroskopi dilakukan sebagai prosedur untuk melihat bagian dalam uterus atau rahim dengan menggunakan teleskop kecil (histeroskop).
  • Injeksi kortikosteroid yang dilakukan pada bagian tubuh belakang atau leher. Steroid akan meredakan peradangan. Namun, perlu diketahui bahwa ada efek samping yang akan dirasakan. 
  • Fisioterapi berguna agar kekuatan dan daya tahan tubuh bisa lebih ditingkatkan. Terapi ini bisa membantu dalam mempertahankan stabilitas dan fleksibilitas tulang belakang, sehingga tubuh menjadi lebih kuat serta dapat berjalan seimbang. 

Itulah beberapa informasi terkait spinal stenosis, salah satu kondisi yang membuat perempuan susah hamil. 

Semoga informasi ini bisa bermanfaat dan membantu diri sendiri untuk lebih memerhatikan kesehatan. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.