Dilansir dari Mamata Fertility, dijelaskan bahwa kehamilan tidak menghilangkan endometriosis secara permanen. Jaringan endometriosis tetap ada di dalam tubuh dan gejala dapat kembali setelah melahirkan ketika siklus haid muncul lagi.
Namun, pengurangan gejala selama kehamilan tetap memberi manfaat karena membantu tubuh beristirahat dari proses peradangan berulang.
Dokter dapat mengombinasikan kehamilan dengan terapi lain sesuai kondisi masing-masing tubuh.
Pemahaman ini penting agar Mama tidak melihat kehamilan sebagai obat satu-satunya, melainkan bagian dari rencana pengelolaan jangka panjang.
Isu mengenai hamil jadi obat terbaik untuk endometriosis menjadi pemahaman bahwa kehamilan dapat membantu meredakan gejala endometriosis melalui perubahan hormon, terutama progesteron.
Saran dokter untuk segera merencanakan kehamilan pada yang sudah menikah bertujuan melindungi peluang kesuburan. Meskipun gejala sering membaik, endometriosis tidak hilang sepenuhnya sehingga tetap perlu perencanaan medis yang matang.
Konsultasi dengan dokter kandungan membantu menentukan langkah yang paling aman dan sesuai kondisi tubuh mama.