Berolahraga saat memiliki endometriosis perlu dilakukan dengan ritme yang pelan dan terukur. Dilansir dari Cleveland Clinic, Mama bisa memulai dari gerakan paling ringan selama 10–15 menit dan menaikkan intensitas secara perlahan sesuai kemampuan tubuh. Hal ini membantu mencegah flare-up mendadak, terutama pada hari ketika gejala lebih sensitif.
Selain itu, Pengaturan napas juga penting karena dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi ketegangan otot. Dikutip dari Mayo Clinic, Mama coba gunakan teknik napas dalam selama peregangan atau saat melakukan yoga agar tubuh tetap rileks.
Dikutip dari Johns Hopkins Medicine, mencatat pola nyeri sebelum dan sesudah berolahraga juga penting agar Mama bisa mengetahui aktivitas mana yang membuat tubuh lebih nyaman. Mengombinasikan olahraga dengan tidur cukup, hidrasi yang baik, dan manajemen stres turut membantu menstabilkan kondisi tubuh sepanjang hari.
Jika rasa nggak nyaman mulai meningkat, olahraga sebaiknya dihentikan sementara. Dikutip dari Cleveland Clinic, aktivitas berdampak tinggi perlu dihindari saat flare-up karena bisa memperburuk peradangan. Waspadai tanda seperti nyeri panggul yang makin intens, pendarahan nggak biasa, atau kelelahan ekstrem.
Bila gejala tetap berlanjut meskipun sudah beristirahat, segera lakukan pemeriksaan medis. Bagi Mama yang baru menjalani operasi terkait endometriosis, jangan lupa untuk izin dokter sebelum kembali berolahraga untuk mencegah komplikasi ya, Ma.
Melakukan olahraga yang tepat dapat membantu Mama dengan endometriosis merasa lebih nyaman dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Selama Mama mendengarkan sinyal tubuh dan memilih aktivitas yang sesuai, rutinitas olahraga akan menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kesehatan, lho.