Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
11 Alasan Mama Merasa Ditolak oleh Suami saat Hamil, Pahami Penyebabnya
Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

  • Kehamilan membawa perubahan fisik, emosional, dan gaya hidup yang dapat memengaruhi dinamika hubungan pasangan serta menimbulkan perasaan seolah suami menjadi lebih jauh atau kurang perhatian.
  • Faktor seperti perubahan hormon, komunikasi yang sulit, stres, hingga kekhawatiran menghadapi peran baru sebagai orangtua sering kali memicu kesalahpahaman dan jarak emosional antara Mama dan Papa.
  • Dukungan emosional, komunikasi terbuka, serta saling memahami kebutuhan masing-masing menjadi kunci agar hubungan tetap harmonis meski di tengah berbagai tantangan selama masa kehamilan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kehamilan bukan hanya membawa perubahan pada tubuh mama, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan. Perubahan emosi, rutinitas sehari-hari, hingga cara berkomunikasi selama masa kehamilan terkadang membuat hubungan dengan suami terasa berbeda dari sebelumnya.

Tidak sedikit Mama yang mulai merasa suami menjadi lebih cuek, kurang perhatian, atau seolah menjaga jarak. Kondisi ini bisa memunculkan perasaan sedih, kesepian, bahkan membuat Mama bertanya-tanya apakah hubungan yang dijalani sedang baik-baik saja.

Namun, perasaan tersebut tidak selalu berarti suami benar-benar menolak atau hubungan sedang memburuk. Selama kehamilan, berbagai perubahan fisik, emosional, dan gaya hidup yang dialami pasangan dapat menciptakan jarak yang sebenarnya tidak disengaja.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2009 juga menyebutkan bahwa ketika pasangan memiliki anak pertama, kualitas hubungan, baik dari sisi positif maupun negatif, sering kali mengalami penurunan setelah kelahiran bayi dan dapat bertahan selama beberapa tahun. 

Di sisi lain, tanggung jawab baru serta berbagai kekhawatiran menjelang menjadi orangtua juga dapat menambah tekanan dalam hubungan. Tidak jarang, salah satu pasangan merasa diabaikan karena perhatian mulai tertuju pada persiapan menyambut kehadiran si Kecil.

Supaya Mama lebih memahami apa saja yang dapat memicu perasaan tersebut, berikut Popmama.com telah merangkum alasan Mama merasa ditolak suami saat hamil.

1. Perubahan hormon dan suasana hati

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Perubahan hormon selama kehamilan dapat memengaruhi emosi Mama dan membuat suasana hati berubah lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini wajar terjadi, tetapi terkadang membuat Mama menjadi lebih sensitif atau sulit menjaga kestabilan emosi.

Di sisi lain, suami mungkin belum sepenuhnya memahami perubahan emosi yang Mama alami. Jika kondisi ini tidak dipahami dengan baik oleh kedua belah pihak, kesalahpahaman pun lebih mudah terjadi dan hubungan bisa terasa lebih tegang.


2. Komunikasi menjadi lebih sulit

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Selama hamil, komunikasi yang baik menjadi semakin penting. Namun, berbagai perubahan menjelang kelahiran si Kecil dapat membuat Mama maupun Papa lebih sulit menyampaikan perasaan dengan jelas.

Perasaan senang sekaligus cemas menghadapi peran sebagai orangtua dapat memengaruhi cara pasangan berkomunikasi. Akibatnya, kesalahpahaman lebih mudah muncul dan masalah yang tidak segera dibicarakan bisa terus menumpuk hingga membuat hubungan terasa semakin renggang.

Menurut penelitian yang dimuat dalam Pregnancy, Birth & Baby, kehamilan memang dapat memberikan tekanan pada hubungan. Namun, komunikasi yang terbuka, saling berbagi tanggung jawab, dan memberikan dukungan emosional dapat membantu pasangan tetap merasa dekat serta mengurangi kesalahpahaman.


3. Kekhawatiran menghadapi peran sebagai orangtua

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Menjelang kehadiran si Kecil, Mama dan Papa mungkin mulai memikirkan banyak hal. Mulai dari kemampuan merawat bayi, kondisi keuangan, hingga bagaimana menjalani peran baru sebagai orangtua.

Berbagai kekhawatiran tersebut dapat menambah tekanan dalam hubungan. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya merasa cemas atau mulai meragukan bagaimana kehidupan mereka akan berubah setelah memiliki anak.


4. Perubahan fokus dan perhatian

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Seiring bertambahnya usia kehamilan, perhatian Mama secara alami akan lebih banyak tertuju pada kesehatan diri dan perkembangan bayi dalam kandungan. Hal ini merupakan bagian yang wajar selama masa kehamilan.

Namun, perubahan fokus tersebut terkadang membuat pasangan merasa perhatian yang diterimanya berkurang. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan saling menjauh sehingga Mama merasa suami mulai bersikap berbeda atau tidak sehangat sebelumnya.


5. Perubahan dalam hubungan intim

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Kehamilan juga dapat memengaruhi hubungan intim antara suami dan istri. Perubahan fisik, rasa tidak nyaman selama hamil, perubahan hormon, maupun kekhawatiran mengenai kondisi bayi dapat membuat frekuensi hubungan intim menjadi berkurang.

Perubahan tersebut dapat memunculkan rasa kecewa atau perasaan ditolak pada salah satu pasangan. Oleh karena itu, sebagian ibu hamil mulai merasa suami menjaga jarak akibat perubahan dalam kehidupan intim mereka.


6. Kelelahan dan stres

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Kehamilan dapat membuat Mama lebih mudah merasa lelah karena berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh. Di sisi lain, suami juga bisa mengalami stres karena harus menghadapi tanggung jawab baru sekaligus mempersiapkan berbagai kebutuhan menjelang kelahiran si Kecil.

Ketika rasa lelah dan stres terus menumpuk, hubungan dapat menjadi lebih tegang. Pasangan pun bisa lebih mudah tersinggung, emosional, hingga perlahan merasa saling berjauhan.


7. Harapan yang berbeda

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Mama dan Papa mungkin memiliki harapan yang berbeda mengenai kehamilan maupun kehidupan setelah si Kecil lahir. Perbedaan tersebut terkadang tidak diungkapkan secara terbuka atau justru terlalu tinggi.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, salah satu atau kedua pasangan dapat merasa kecewa atau kurang dihargai. Kondisi ini dapat memengaruhi keharmonisan hubungan selama kehamilan.


8. Kebutuhan emosional yang meningkat

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Selama hamil, kebutuhan Mama akan perhatian dan dukungan emosional biasanya meningkat. Ketika suami terlihat lebih sibuk, lebih pendiam, atau terasa kurang hadir secara emosional, Mama bisa merasa kesepian atau kurang mendapatkan dukungan yang diharapkan.

Perasaan tersebut dapat membuat Mama menganggap hubungan mulai merenggang. Padahal, kondisi ini sering kali muncul karena kedua pasangan sama-sama sedang menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan selama kehamilan.


9. Tekanan finansial dan perubahan gaya hidup

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Menjelang kelahiran si Kecil, berbagai kebutuhan baru mulai dipersiapkan. Hal ini dapat memunculkan tekanan terkait kondisi keuangan sekaligus perubahan gaya hidup yang akan dijalani setelah memiliki anak.

Setiap pasangan juga dapat merespons tekanan tersebut dengan cara yang berbeda. Ada yang menjadi lebih berhati-hati atau pendiam, sementara yang lain merasa lebih cemas atau kewalahan. Perbedaan respons inilah yang dapat memicu konflik dalam hubungan.


10. Campur tangan keluarga

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Selama kehamilan, anggota keluarga sering kali ikut terlibat dalam berbagai keputusan yang berkaitan dengan Mama maupun si Kecil. Meski bertujuan memberikan dukungan, terkadang muncul perbedaan pendapat atau tekanan yang tidak disengaja.

Situasi tersebut dapat memicu perselisihan di antara pasangan. Bahkan, salah satu pihak bisa merasa berada di posisi yang sulit karena harus menghadapi keinginan pasangan sekaligus pendapat dari keluarga.


11. Perubahan identitas dan ruang pribadi

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Menjelang menjadi orangtua, Mama dan Papa sama-sama sedang menjalani perubahan peran dalam hidup. Tanggung jawab, prioritas, dan rutinitas yang akan berubah dapat membuat keduanya merasa bingung menghadapi kehidupan setelah si Kecil lahir.

Proses penyesuaian terhadap peran baru tersebut dapat memunculkan konflik dalam diri masing-masing. Pada akhirnya, kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan sehingga pasangan merasa lebih mudah berjarak satu sama lain.

Nah, itu tadi alasan ibu hamil merasa ditolak oleh suami. Memahami penyebabnya dapat membantu Mama menghadapi berbagai perubahan dalam hubungan selama masa kehamilan dengan lebih tenang.

Semoga informasi ini dapat membantu, ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article