TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Cara Mengatasi Ketakutan pada Balita dengan Trauma

Yuk Ma, cari tahu cara membantu si Kecil pulih dari traumanya

Freepik

Trauma pada anak dapat terjadi karena beberapa alasan, seperti kehilangan anggota keluarga dekat, bencana, atau kecelakaan yang dialami secara pribadi.

Pada saat-saat seperti itu, yang paling dibutuhkan anak-anak, terutama yang masih kecil adalah tempat yang tenang, di mana ia dapat menghadapi ketakutannya dan mencoba menemukan jawaban yang dicari oleh pikirannya.

Buntut dari trauma dapat meninggalkan dampak jangka panjang, terutama ketika ditinggalkan oleh seseorang yang dekat dengannya. Ini bisa membingungkan bagi seorang anak dan terwujud dalam bentuk perasaan ditinggalkan dan takut.

Sehingga kesabaran dan kasih sayang dari Mama sangat dibutuhkan anak untuk melewati masa traumanya tersebut. Sebagai orang terdekat anak, berikut Popmama.com akan memberikan lima hal yang akan membantu Mama dalam mengasuh anak melalui traumanya.

1. Kembali ke rutinitas lebih awal

Freepik/Zinkevych

Setelah beberapa hari pertama dari peristiwa yang memicu perubahan, coba bawa anak kembali ke rutinitas sebelumnya. Kenyamanan yang familiar akan menjadi obat yang efektif untuk menenangkan ketidakpastian yang pasti dialami anak.

Kembali ke aktivitas sebelumnya, mengunjungi perpustakaan, pergi ke toko mainan bisa menjadi beberapa hal untuk memulai. Ini juga memberinya jaminan bahwa segala sesuatunya akan kembali seperti semula bahkan setelah kejadian traumatis tersebut.

2. Berikan kepastian pada anak

Freepik/Dimaberlin

Si Kecil mungkin menghadapi banyak pemicu trauma selama beberapa minggu pertama. Misalnya, jika itu adalah kecelakaan di dalam mobil, ia mungkin takut masuk ke mobil lain. Atau jika itu kecelakaan renang, ia mungkin menolak untuk mendekati air dalam waktu dekat.

Pertama-tama, beri tahu anak bahwa Mama menghormati pilihannya untuk tidak akan memaksa anak untuk melakukan apa pun yang dia tidak nyaman. Tunjukkan padanya bahwa air aman untuk berenang dengan melakukan beberapa putaran sendiri.

Coba dan jelaskan alasan mengapa ada yang salah terakhir kali, dan bagaimana anak mampu melakukan sesuatu yang berbeda kali ini. Beri ia keyakinan bahwa Mama menyadari ketakutan dan traumanya, dan bersedia membantu mengatasinya.

3. Melabelkan perasaan yang dialami anak

Freepik/Etonastenka

Kadang-kadang, ketika Mama menyadari bahwa si Kecil menderita trauma, anak mungkin tidak memiliki kematangan emosi untuk memahami hal tersebut. Bantu anak dengan mengucapkannya secara verbal.

Hal ini bisa dimulai dengan mengatakan bahwa Mama tahu anak takut karena kecelakaan yang dia alami terakhir kali. Ini akan membantunya menjadi sadar akan perasaannya sendiri dan membuatnya lebih menerima apa yang Mama berusaha tawarkan untuk mencari solusi.

4. Membagikan kekhawatiran yang Mama alami sendiri

Freepik/Mne_len

Kembalikan kepercayaan diri anak dengan menjelaskan ketakutan dan kecemasan yang MAma alami dengannya. Misalnya, Mama dapat memberi tahu betapa takutnya Mama pada serangga atau suara petir.

Hal ini membantu dalam membuatnya sadar, bahwa tidak apa-apa untuk merasa takut tentang sesuatu, dan yang lebih penting untuk mengakui ketakutan seseorang daripada menyimpannya di dalam.

5. Mengembangkan rutinitas waktu tidur

Freepik/Jiboom

Kegelapan seringkali memunculkan pikiran dan ketakutan terburuk dalam diri kita semua, terlebih bagi anak-anak. Maka dari itu, tetap di sisi si Kecil sampai ia dapat tertidur lelap, setidaknya untuk beberapa minggu pertama.

Jika dibiarkan sendiri, anak mungkin terbangun sambil memikirkan traumanya dan menciptakan monster dalam pikirannya. Mama mungkin juga bisa mencoba untuk membacakan dongeng yang lucu, agar membuat rutinitas menjadi menyenangkan.

Nah itulah beberapa cara untuk mengasuh anak yang baru saja mengalami pengalaman traumatis dalam hidupnya. Seperti yang Mama tahu, jalan menuju pemulihan itu panjang, dan harus dilalui dengan kesabaran dan perhatian.

Jangan ragu untuk menghubungi dokter anak, jika Mama merasa situasinya tidak terkendali. Intervensi dari ahli profesional bisa efektif jika dilakukan pada saat yang tepat.

Baca juga:

The Latest