TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Komplikasi yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil di Trimester Kedua

Gangguan kehamilan ini bisa datang bersamaan secara tiba-tiba

Pexels/freestocks.org

Setelah berhasil melalui beratnya morning sickness pada trimester pertama, kini Mama bisa cukup tenang dan bersiap menjalani trimester kedua.

Walau tidak seberat trimester pertama, terdapat beberapa gangguan yang wajib menjadi perhatian Mama saat ini untuk menghindari komplikasi. 

Berikut ini komplikasi yang perlu diwaspadai ibu hamil di trimester kedua yang Popmama.com rangkum dari berbagai sumber untuk Mama. 

Ketahui dan perhatikan pencegahannya ya, Ma.

1. Perdarahan dan keguguran di awal trimester kedua

Unsplash/Anthony Tran

Meskipun keguguran lebih sering terjadi pada trimester awal, tetapi hal itu masih bisa terjadi pada trimester kedua. Biasanya, ditandai dengan terjadinya pendarahan vagina.

Keguguran yang terjadi sebelum 20 minggu ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Septum uterus. Sebuah dinding atau septum di dalam rahim membaginya menjadi dua bagian yang terpisah.
  • Serviks yang tidak kompeten. Ketika serviks terbuka terlalu cepat, menyebabkan kelahiran dini.
  • Penyakit autoimun. Termasuk lupus atau skleroderma yang ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat.
  • Kelainan kromosom pada janin. Ini terjadi ketika ada yang salah dengan kromosom bayi, yaitu sel yang terdiri dari DNA.

Sedangkan perdarahan pada trimester kedua dapat terjadi karena:

  • Persalinan dini.
  • Masalah dengan plasenta, seperti plasenta previa (plasenta menutupi serviks).
  • Solusio plasenta (plasenta terpisah dari rahim).

Masalah-masalah ini lebih sering terjadi pada trimester ketiga, tetapi juga dapat terjadi pada akhir trimester kedua, Ma.

Perlu diingat bahwa tidak semua pendarahan berarti keguguran. Jika Mama mengalaminya, segera lakukan perawatan dan ambil waktu untuk tetap beristirahat di tempat tidur hingga perdarahan berhenti.

2. Persalinan prematur yang diakibatkan oleh berbagai macam kondisi kesehatan

Freepik/Praisaeng

Persalinan yang terjadi sebelum minggu ke-38 kehamilan dianggap sebagai persalinan prematur. Ini bisa terjadi sebagai akibat dari beragam kondisi.

Misalnya saja seperti infeksi kandung kemih, merokok, atau kondisi kesehatan kronis seperti diabetes atau penyakit ginjal.

Faktor risiko lainnya seperti kelahiran prematur pada kehamilan sebelumnya, kehamilan kembar, kehamilan ganda, cairan ketuban yang berlebihan, hingga infeksi cairan atau selaput ketuban.

Gejala yang terjadi biasanya tidak kentara, tetapi hal-hal seperti tekanan vagina, nyeri punggung bawah, sering buang air kecil, diare, peningkatan keputihan, sesak di perut bagian bawah bisa menjadi peringatan.

Dalam kasus lain, gejala persalinan prematur lebih jelas, seperti kontraksi yang menyakitkan, keluarnya cairan dari vagina, pendarahan vagina.

Jika Mama mengalami hal-hal di atas, segera cari pertolongan medis untuk memastikan apakah tindakan harus segera dilakukan atau tidak.

3. Inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks yang menyebabkan pecahnya selaput ketuban

pregnancybirthbaby.org.au

Serviks merupakan jaringan yang menghubungkan vagina dan rahim.

Terkadang, serviks tidak mampu menahan tekanan rahim yang berkembang selama kehamilan sehingga menyebabkannya terbuka sebelum bulan kesembilan.

Kondisi ini dikenal sebagai inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks.

Meskipun ini kondisi yang tidak biasa, ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti persalinan prematur.

Kondisi ini biasa terjadi sekitar minggu ke-20 kehamilan dan dapat menyebabkan bayi tidak dapat diselamatkan.

Hal ini berpotensi tinggi terjadi pada ibu hamil yang memiliki trauma serviks sebelumnya, seperti robekan saat melahirkan, biopsi kerucut serviks, operasi pada leher rahim.

Gejala yang terjadi biasanya tidak menyebabkan rasa sakit atau kontraksi, tetapi ada pendarahan atau keputihan yang terjadi.

Cegah kondisi ini dengan memberitahukan kondisi Mama sebelum memasuki trimester ini, ya. Walau bisa menurunkan risikonya, tetapi ini tidak bisa menghilangkan risiko melahirkan prematur atau kehilangan bayi.

4. Ketuban pecah dini yang dapat menyebabkan kelahiran prematur

Freepik

Ketuban pecah adalah hal yang lumrah terjadi. Tetapi jika pecah sebelum waktunya dan tidak segera ditangani, ini memungkinkan bakteri masuk dan bayi terinfeksi.

Penyebab pasti ketuban pecah dini tidak selalu jelas. Namun, dalam banyak kasus sumber masalahnya adalah infeksi pada membran.

Jika ini terjadi maka ada kemungkinan dapat menyebabkan kelahiran prematur.

Walau kebanyakan bayi prematur mengalami kesulitan, tetapi dengan perawatan intensif yang tepat sebagian besar bayi prematur tetap bisa tumbuh dengan sehat.

Dalam beberapa kasus, terutama dengan kebocoran yang lambat, kantung ketuban dapat menutup kembali dengan sendirinya. Sehingga Mama tidak perlu melakukan persalinan prematur.

5. Preeklamsia yang bisa mempengaruhi sistem dalam tubuh termasuk plasenta

www.mothering.com

Preeklamsia dapat terjadi jika Mama memiliki kondisi seperti tekanan darah tinggi, proteinuria (kelebihan protein dalam urine), dan edema berlebihan (pembengkakan).

Preeklamsia cukup berisiko karena dapat mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh, termasuk plasenta.

Meskipun preeklamsia biasanya terjadi selama trimester ketiga pada kehamilan pertama, beberapa orang justru mengalaminya di trimester kedua.

Salah satu gejala preeklamsia seperti pembengkakan cepat pada kaki, tangan, atau wajah, sakit kepala yang tidak hilang setelah minum acetaminophen, kehilangan penglihatan (kabur), terasa sakit di sisi kanan atau di daerah perut, dan mudah memar. 

Jika Mama mengalaminya, segeralah berkonsultasi dengan dokter kepercayaan Mama. Hindari juga untuk melakukan kegiatan tanpa pendampingan.

Itulah tadi beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai ibu hamil di trimester kedua. Lakukan kunjungan dokter secara teratur untuk pencegahan lebih awal.

Baca juga:

The Latest