Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apakah Leher Bayi Miring Bisa Kembali Normal? Begini Penanganannya

4 min read
Apakah Leher Bayi Miring Bisa Kembali Normal? Begini Penanganannya
Bayi tengkurap (Unsplash/Jinhui Chen)
  • Leher bayi miring atau tortikolis terjadi ketika salah satu sisi leher memendek atau kaku, sehingga kepala condong dan gerak leher terbatas.

  • Kondisi ini dapat dipicu bawaan lahir, posisi dalam rahim, perkembangan otot sternokleidomastoid tidak normal, faktor genetik, hingga gangguan pada tulang belakang leher.

  • Tortikolis dapat membaik melalui peregangan, perubahan posisi, latihan khusus, terapi fisik, serta pemeriksaan ke dokter atau spesialis agar penanganan dilakukan sedini mungkin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Leher bayi yang terlihat miring merupakan tanda adanya masalah kesehatan, biasanya juga disebut tortikolis. Kondisi ini terjadi akibat otot leher memanjang di belakang telinga ke tulang selangka (sternokleideomastoid) di salah satu sisi lebih pendek dibandingkan sisi lainnya.

Tortikolis merupakan gangguan yang sering terjadi pada anak-anak, umumnya terjadi karena bawaan lahir atau muncul saat masa berkembangnya.

Kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya, namun dapat berakibat fatal pada pertumbuhan bayi jika tidak ditangani dengan serius. Untuk itu, orangtua perlu mengetahui cara penanganannya dan apakah kondisi ini bisa dipulihkan seperti sedia kala.

Yuk, simak penjelasan selengkapnya mengenai apakah leher bayi miring bisa kembali normal yang telah Popmama.com rangkum untuk Mama berikut ini.

  1. Apa Itu Tortikolis pada Bayi

    Apa Itu Tortikolis pada Bayi
    ilustrasi bayi tengkurap (unsplash.com/Khoa Pham)

    Leher miring pada bayi biasa disebut tortikolis, yakni istilah medis yang mengacu pada salah satu sisi leher yang mengalami pemendekan atau kekakuan. Tortikolis berasal dari kata “tortus” berasal dari bahasa Latin yang artinya bengkok, dan “collum”  yang artinya leher.

    Kondisi ini dapat diketahui apabila leher bayi terlihat seperti berputar ke sudut yang aneh dan biasanya mulai terlihat saat bayi berusia 4-6 bulan. Kelainan  ini bisa terjadi di area otot leher, tulang belakang bagian atas, atau pada sistem saraf. 

    Mengutip dari John Hopkins Medicine, tortikolis banyak terjadi pada anak yang lahir lebih dulu dan banyak dialami bayi. Bisa karena bawaan lahir atau berkembang secara tiba-tiba. Kondisi ini juga dapat diturunkan dari orangtua ke anak karena kelainan genetik.

    Kondisi ini mungkin tidak disadari sejak awal oleh kebanyakan orangtua, namun ciri-cirinya mulai terlihat setelah beberapa minggu atau bulan bayi lahir, Ma.

  2. Penyebab Terjadinya Tortikolis

    Penyebab Terjadinya Tortikolis
    Ilustrasi bayi tengkurap (pexels.com/Migs Reyes)

    Terjadinya leher miring pada bayi bisa disebabkan oleh bawaan lahir, biasanya berpengaruh pada nutrisi selama kehamilan atau adanya kelainan pada genetik orangtua, Ma.

    Mengutip dari Cleveland Clinic, kondisi kesehatan ini dapat terjadi akibat pemendekan salah satu otot sternokleidomastoid (SCM) yang terdapat di dua otot besar leher. Otot ini yang menghubungkan bagian belakang tengkorak kepala dengan tulang dada dan tulang selangka.

    Para peneliti sepakat kondisi ini terjadi karena beberapa hal berikut:

    • Posisi bayi di dalam rahim sebelum lahir
    • Perkembangan abnormal pada SCM
    • Terdapat kumpulan darah di otot leher
    • Penebalan yang tidak lazim di jaringan otot bayi
    • Sindrom Klippel-Feil atau cacat lahir yang menyebabkan tulang belakang di leher menyatu secara tidak normal.

    Tidak hanya itu, pembengkakan di tenggorokan juga dapat memicu terjadinya tortikolis. Pembengkakan menyebabkan jaringan di area tulang belakang menjadi mengendur.

  3. Ciri-Ciri Bayi yang Mengalami Tortikolis

    Ciri-Ciri Bayi yang Mengalami Tortikolis
    Bayi tidur (Unsplash/Jonathan Borba)

    Bayi yang mengalami tortikolis atau leher miring dapat diketahui dengan cepat karena terhadap perbedaan pada postur tubuhnya. Gejala yang biasanya muncul adalah:

    • Kepala baayi miring sebelah
    • Gerakan terbatas pada kepala dan leher
    • Salah satu bahu bayi lebih tinggi
    • Otot leher terasa lebih sesak atau kaku
    • Otot leher bengkak
    • Terdapat benjolan kecil di salah satu bagian leher
    • Fitur wajah bayi menjadi asimetris (tidak rata).

    Kondisi ini bukan hanya membuat si Kecil tampak tidak simetris atau berbeda dari kebanyakan bayi, namun juga dapat memengaruhi kesehatannya.

    Tortikolis juga dapat memicu otot leher terasa sesak atau kaku, otot leher bengkak, sakit leher, hingga kepala bergetar. Jika kondisi tersebut mulai terlihat, sebaiknya segera periksakan kondisi si Kecil ke dokter agar dapat segera ditangani, Ma.

  4. Apakah Leher Bayi Miring Bisa Kembali Normal?

    Apakah Leher Bayi Miring Bisa Kembali Normal?
    Bayi tengkurap (Unsplash/Jinhui Chen)

    Tidak ada yang tidak mungkin, tortikolis atau leher miring pada bayi dapat ditangani agar kondisinya semakin membaik. Membiasakan latihan peregangan dan perubahan posisi pada bayi dapat mengatasi masalah tortikolis pada si Kecil.

    Mama dapat membaringkan si Kecil telentang dengan kepala yang menghadap sisi yang berlawanan saat tidur. Setelahnya, pindahkan mainan dan benda lainnya di sekitar bayi setelah bangun tidur agar si Kecil memutar leher mereka ke arah berlawanan.

    Mengutip dari Boston Children’s Hospital, kondisi ini juga dapat dipulihkan lewat terapi fisik seperti terapi Tubular Orthosis for Torticollis (TOT), perubahan posisi tidur, disesuaikan dengan perlahan, dan melalui latihan khusus.

    Cara sederhana ini dapat Mama lakukan sendiri di rumah, namun tidak ada salahnya untuk membawa si Kecil langsung ke rumah sakit. Saat mengetahui leher bayi miring, Mama dapat mendatangi fisiatris, ahli saraf pediatrik, dan ahli bedah ortopedi.

    Itu dia penjelasan mengenai apakah leher bayi miring bisa kembali normal. Selagi bayi Mama masih kecil, segera lakukan terapi rutin agar kondisi tulang lehernya kembali normal, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More