Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Normal Bayi Kaget Seperti Kejang? Ini Faktanya!
Pexels/Ayşegül Akdaş
  • Gerakan kaget pada bayi baru lahir dapat berupa refleks Moro, termasuk merentangkan lalu menarik kembali kedua tangan.

  • Kejang bayi tidak selalu terlihat sebagai tubuh kelojotan dan dapat muncul melalui apnea, gerakan mulut, kedipan berulang, atau perubahan kesadaran.

  • Gerakan mencurigakan yang disertai sulit bernapas, tubuh membiru, lemas, atau penurunan kesadaran memerlukan bantuan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gerakan kaget pada bayi dapat berupa refleks Moro, sedangkan kejang pada bayi dapat memiliki gejala yang tidak khas.
  • Who?
    Bayi baru lahir dan orangtua yang memperhatikan perubahan gerakan bayi.
  • Where?
    per saat ini masih belum diketahui
  • When?
    Refleks Moro umumnya menghilang pada usia sekitar 5-6 bulan.
  • Why?
    Refleks Moro dapat muncul saat bayi mendengar suara keras atau mendapat rangsangan yang membuatnya terkejut.
  • How?
    Refleks Moro membuat bayi merentangkan kedua tangan lalu menariknya kembali; gerakan kejang dapat berulang tanpa pemicu jelas dan disertai perubahan pernapasan atau kesadaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi bisa kaget lalu tangannya terbuka lebar karena refleks Moro. Ini bisa terjadi saat ada suara keras atau gerakan tiba-tiba. Tetapi bayi juga bisa kejang dengan tanda yang berbeda, seperti sulit bernapas atau matanya bergerak tidak biasa. Kalau ada tanda seperti itu, orangtua perlu mencari bantuan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengenali pola gerakan bayi dapat membantu orangtua membedakan refleks Moro yang muncul setelah rangsangan dengan gerakan yang perlu diperhatikan. Informasi tentang tanda seperti sulit bernapas, tubuh membiru, lemas, atau tidak mau menyusu juga memberi gambaran kondisi yang memerlukan bantuan medis serta pemeriksaan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat bayi tiba-tiba tersentak, merentangkan tangan, atau tubuhnya bergerak seperti kejang tentu bisa membuat orangtua khawatir. Namun, tidak semua gerakan mengejutkan pada bayi menandakan kejang.

Pada bayi baru lahir, beberapa gerakan tiba-tiba justru merupakan bagian dari refleks normal. Meski begitu, orangtua tetap perlu mengetahui perbedaannya karena kejang pada bayi terkadang memiliki gejala yang tidak khas.

Berikut Popmama.com rangkum informasi mengenai apakah normal bayi kaget seperti kejang.

1. Bayi kaget dan merentangkan tangan bisa merupakan refleks Moro

Pexels/Huynh Van

Bayi baru lahir memiliki sejumlah refleks bawaan, salah satunya refleks Moro atau refleks kejut. Megutip dari website Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), ketika bayi terkejut, ia dapat melakukan gerakan tiba-tiba berupa merentangkan kedua tangan, kemudian menariknya kembali.

Refleks tersebut bisa muncul ketika bayi mendengar suara keras atau mendapat rangsangan yang membuatnya terkejut. Kemenkes juga menjelaskan refleks Moro sebagai salah satu respons yang dapat terlihat ketika bayi mendengar suara keras.

Gerakannya memang sekilas dapat membuat orangtua mengira bayi sedang kejang. Padahal, refleks Moro merupakan salah satu refleks normal pada bayi dan berkaitan dengan perkembangan sistem sarafnya. Refleks Moro umumnya akan menghilang pada usia sekitar 5-6 bulan.

2. Kejang pada bayi tidak selalu berupa tubuh yang kelojotan

Pexels/Alexandra Victoria

Hal yang perlu diperhatikan adalah kejang pada bayi, khususnya bayi baru lahir, tidak selalu terlihat seperti kejang pada orang dewasa.

Panduan dari Kemenkes menyebutkan bahwa kejang pada bayi dapat memiliki bentuk yang tidak khas. Gejalanya antara lain dapat berupa berhenti bernapas sesaat atau apnea, gerakan mulut seperti mencucu, gerakan seperti mengayuh, hingga kedipan mata berulang.

Ada bedanya gerakan gemetar atau jitteriness dengan kejang. Gerakan jitteriness biasanya dipicu rangsangan dan dapat berkurang ketika anggota tubuh bayi ditahan atau ditekuk secara perlahan. Sebaliknya, kejang dapat disertai gerakan mata yang abnormal, gerakan menyentak serta perubahan fungsi tubuh lainnya.

Sementara itu, mengutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) turut menjelaskan bahwa bentuk kejang sangat beragam. Selain tubuh kaku atau bergerak menghentak, kejang juga dapat membuat seseorang tampak menatap kosong, berkedip dengan cepat, kehilangan kesadaran, atau melakukan gerakan yang tidak biasa.

Artinya, apabila gerakan bayi terlihat berulang tanpa pemicu yang jelas atau disertai perubahan kesadaran maupun pernapasan, kondisinya sebaiknya diperiksakan ke dokter.

3. Perhatikan pola gerakan untuk membedakan refleks kaget dan kejang

Pexels/Chris Mac

Salah satu petunjuk untuk membedakannya adalah memperhatikan apa yang terjadi sebelum dan selama gerakan tersebut. Refleks Moro umumnya muncul setelah adanya rangsangan, misalnya suara keras, gerakan tiba-tiba, atau perubahan posisi. Bayi biasanya merentangkan kedua tangan kemudian menariknya kembali.

Sementara itu, gerakan yang dicurigai sebagai kejang dapat terjadi tanpa rangsangan yang jelas dan memiliki pola berulang. Kemenkes menyebut bahwa pada kejang dapat ditemukan gerakan menyentak serta gerakan bola mata yang abnormal. Pada jitteriness, gerakan justru cenderung sensitif terhadap rangsangan dan dapat berkurang ketika anggota tubuh bayi difleksikan.

Meski demikian, orangtua sebaiknya tidak mencoba mendiagnosis sendiri hanya berdasarkan bentuk gerakannya. Kejang pada bayi dapat terlihat sangat samar dan pada beberapa kondisi diperlukan pemeriksaan dokter serta pemeriksaan seperti EEG untuk memastikan penyebabnya.

4. Segera cari pertolongan medis jika bayi mengalami tanda-tanda ini

Pexels

Gerakan seperti kaget memang dapat menjadi bagian dari refleks normal, tetapi ada beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian medis.

CDC menyarankan pertolongan darurat apabila kejang berlangsung lebih dari 5 menit, terjadi kejang lain segera setelah kejang pertama, atau terdapat kesulitan bernapas maupun kesulitan sadar setelah kejang. Pertolongan medis juga diperlukan apabila seseorang mengalami kejang untuk pertama kalinya.

Untuk bayi, Kementerian Kesehatan juga memasukkan kejang sebagai salah satu tanda bahaya yang perlu diperhatikan orangtua. Jika bayi mengalami kejang, orangtua tidak dianjurkan memasukkan benda apa pun ke dalam mulutnya.

Orangtua juga perlu segera mencari bantuan medis apabila gerakan mencurigakan disertai kondisi seperti bayi sulit bernapas, tampak sangat lemas, tidak mau menyusu, tubuh membiru, atau kesadarannya menurun.

Jika memungkinkan dan kondisi bayi tetap aman, merekam video ketika gerakan terjadi juga dapat membantu dokter melihat pola gerakan yang dialami bayi.

Itulah tadi informasi mengenai apakah normal bayi kaget seperti kejang dan faktanya. Meski dianggap normal, orangtua juga perlu melihat tanda lainnya, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article