Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Gejala Campak pada Anak yang Perlu Dipahami Orangtua
Commons.wikimedia.org/CDC
  • Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia pada 2026 dengan lebih dari 10 ribu kasus, disertai peningkatan KLB di berbagai provinsi.
  • Campak adalah penyakit menular akibat virus dengan gejala demam tinggi, batuk, pilek, ruam menyebar di tubuh, serta bercak khas Koplik di dalam pipi.
  • Tidak ada obat khusus untuk campak; pencegahan terbaik melalui vaksinasi dua dosis dan pemberian vitamin A guna mengurangi risiko komplikasi serius.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Terjadi peningkatan kasus serta Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak di berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia selama tahun 2025 dan awal tahun 2026.

Berdasarkan data WHO yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per Februari 2026, secara global, Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, di bawah Yaman dan di atas India.

Kemenkes melakukan dokumentasi, bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian.

Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian, serta terjadi 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Kondisi ini tentu membuat khawatir, Ma.Untuk melindungi si Kecil dan juga orang di sekitarnya, orangtua perlu mengetahui tentang campak, penyebab, gejala campak pada anak, serta pengobatannya.

Untuk membantu Mama, Popmama.com sudah merangkum informasinya pada ulasan berikut ini, ya.

Apa Itu Campak?

Unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases

Campak adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini mudah menyebar ketika orang yang terinfeksi bernapas, batuk, atau bersin. Campak dapat menyebabkan penyakit parah, komplikasi, dan bahkan kematian.

Campak dapat menyerang siapa saja, tetapi paling umum terjadi pada anak-anak.

Campak menginfeksi saluran pernapasan dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, dan ruam di seluruh tubuh.

Vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah tertular campak atau menyebarkannya kepada orang lain. Vaksin ini aman dan membantu tubuh seseorang melawan virus.

Gejala Campak pada Anak

Commons.wikimedia.org/CDC/Dr. Heinz F. Eichenwald

Dilansir dari unggahan dokter dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A (K) di laman Instagram pribadinya @metahanindita, gejala klinis campak terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium prodromal, eksantem, dan konvalesens.

Tahap prodromal memiliki gejala sebagai berikut:

  • Berlangsung 2 hingga 4 hari, ditandai demam tinggi. Selain demam, dapat timbul gejala seperti batuk, pilek, serta mata merah. Mata juga bisa terasa silau jika terkena cahaya.

  • Pada tahap ini, ada tanda yang sangat khas untuk campak. Tanda ini disebut koplik spots. Tanda ini berupa bercak merah terang di dalam pipi (dalam mulut, sekitar pipi) dengan noda keabuan.

Tahap eksantem memiliki gejala seperti timbulnya ruam, dimulai dari batas rambut di belakang telinga. Ruam kemudian menyebar ke wajah, leher, dada, tangan, bokong, dan akhirnya kaki.

Ruam pada tahap eksantem dapat timbul selama 6 hingga 7 hari. Demam umumnya memuncak (mencapai 40 derajat) pada hari ke 2 hingga 3 setelah munculnya ruam.

Tahap konvalesens merupakan masa penyembuhan. Setelah 3-4 hari umumnya ruam berangsur menghilang menjadi kecokelatan. Ruam kecokelatan akan menghilang dalam 7-10 hari, Ma.

Komplikasi Campak

Unsplash/Felipe Salgado

Sebagian besar kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit tersebut.

Komplikasi dapat meliputi:

  • kebutaan

  • ensefalitis (infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi kerusakan otak)

  • diare parah dan dehidrasi terkait

  • infeksi telinga

  • masalah pernapasan parah termasuk pneumonia.

Jika seorang perempuan tertular campak selama kehamilan, ini dapat berbahaya bagi ibu dan dapat mengakibatkan bayinya lahir prematur dengan berat badan rendah.

Komplikasi paling umum terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas usia 30 tahun. Komplikasi lebih mungkin terjadi pada anak-anak yang kekurangan gizi, terutama mereka yang kekurangan vitamin A atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV atau penyakit lainnya.

Campak itu sendiri juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan dapat membuat tubuh "lupa" cara melindungi diri dari infeksi, sehingga anak-anak menjadi sangat rentan.

Siapa yang Berisiko yang Mengalami Campak

Pexels/RENE Stock Project

Siapa pun yang tidak memiliki kekebalan (tidak divaksinasi atau divaksinasi tetapi tidak mengembangkan kekebalan) dapat terinfeksi. Anak-anak kecil yang tidak divaksinasi dan ibu hamil memiliki risiko tertinggi mengalami komplikasi campak yang parah.

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia, menyebar melalui kontak dengan cairan hidung atau tenggorokan yang terinfeksi (batuk atau bersin) atau menghirup udara yang dihirup oleh seseorang yang menderita campak.

Virus tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terinfeksi hingga dua jam. Karena alasan ini, penyakit ini sangat menular. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menyebabkan hingga 18 infeksi sekunder.

Penyakit ini dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi mulai empat hari sebelum munculnya ruam hingga empat hari setelah ruam muncul.

Wabah campak dapat mengakibatkan komplikasi serius dan kematian, terutama di kalangan anak-anak kecil yang kekurangan gizi.

Pengobatan dan Pencegahan Campak

Unsplash/Lucy Wolski

Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Perawatan harus berfokus pada meredakan gejala, membuat penderita merasa nyaman, dan mencegah komplikasi.

Minum cukup air dan pengobatan dehidrasi dapat mengganti cairan yang hilang akibat diare atau muntah. Mengonsumsi makanan sehat juga penting.

Dokter dapat menggunakan antibiotik untuk mengobati pneumonia dan infeksi telinga dan mata.

Semua anak atau orang dewasa yang menderita campak harus menerima dua dosis suplemen vitamin A, diberikan dengan jarak 24 jam. Ini mengembalikan kadar vitamin A yang rendah yang terjadi bahkan pada anak-anak yang bergizi baik. Ini dapat membantu mencegah kerusakan mata dan kebutaan. Suplemen vitamin A juga dapat mengurangi jumlah kematian akibat campak.

Vaksinasi di seluruh komunitas adalah cara paling efektif untuk mencegah campak. Semua anak harus divaksinasi terhadap campak. Vaksin ini aman, efektif, dan murah.

Anak-anak harus menerima dua dosis vaksin untuk memastikan mereka kebal. Dosis pertama biasanya diberikan pada usia 9 bulan di negara-negara di mana campak umum terjadi dan 12–15 bulan di negara lain. Dosis kedua sebaiknya diberikan kemudian di masa kanak-kanak, biasanya pada usia 15–18 bulan.

Vaksin campak diberikan sendiri atau sering dikombinasikan dengan vaksin gondongan, rubella, dan/atau cacar air.

Selain itu, jaga kebersihan dengan mencuci tangan, mengikuti etika batuk, menghindari kontak langsung dengan penderita. Penderita campak sebaiknya mengisolasi diri setidaknya 4 hari setelah ruam muncul.

Itu penjelasan tentang gejala campak pada anak. Kenali dan amati gejalanya sehingga Mama bisa melakukan tindakan yang tepat dan cepat jika bayi terkena campak.

Semoga informasi ini bisa menambah wawasan, Ma!

Editorial Team