Aksi Nekat Mama Labrak Geng SMAN 3 Tasikmalaya, Anak Jadi Korban Bully

Siswa kelas 10 SMAN 3 Tasikmalaya diduga mengalami intimidasi dan kekerasan senior setelah unggahan penggunaan pod di kelas diketahui siswa kelas 12.
Mama Meiza mendatangi warung tempat anaknya dipanggil senior, setelah menerima pesan ketakutan; ia melihat korban dan teman-temannya tertekan dengan wajah serta mata memerah.
Sekolah membenarkan penamparan oleh enam siswa kelas 12, menyiapkan skorsing dan pembinaan; keluarga korban melapor ke polisi, yang masih menyelidiki kasus ini.
Demi anak segalanya akan Mama lakukan. Mungkin ungkapan tersebut terdengar klise si zaman sekarang. Namun, tapi hal naluriah inilah yang menggerakkan Mama Meiza asal Tasikmalaya.
Ia nekat mendatangi langsung kerumunan siswa kelas 12 di luar area sekolah, di sebuah warung pada Kamis (24/9/2026) sore.
Aksi berani tersebut Mama Meiza lakukan setelah mengetahui anaknya, yang merupakan siswa kelas 10 SMAN 3 Tasikmalaya. Diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan oleh para seniornya.
Peristiwa yang berawal dari aksi kenakalan remaja penggunaan pod di kelas ini berujung pada dugaan tindak kekerasan.
Sebab membuat wajah korban memerah dan trauma ketakutan, sebelum akhirnya dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian. Lantas bagaimana informasi selengkapnya? Berikut sudah Popmama.com rangkum fakta aksi nekat Mama labrak geng SMAN 3 Tasikmalaya.
Table of Content
1. Berawal dari unggahan penggunaan Pod di TikTok

Popmama.com/Syiva Amalia/AI Peristiwa ini bermula dari aksi kenakalan remaja.
Ketika seorang siswa kelas 10 SMAN 3 Tasikmalaya bersama temannya membawa dan mencoba pod (rokok elektrik) di dalam kelas saat jam istirahat.
Momen tersebut direkam dan diunggah ke platform TikTok hingga diketahui oleh siswa kelas 12. Merasa sebagai senior yang memiliki tanggung jawab untuk menegur, siswa kelas 12 membawa masalah ini ke ruang Bimbingan dan Konseling (BK) pada Kamis (24/9/2026) pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
Pihak BK menyatakan masalah pod telah ditangani dan secara tegas melarang para senior mengambil tindakan sendiri di luar sekolah.
2. Aksi nekat Mama Meiza labrak geng senior

Instagram.com/kapoltv Meski sudah diperingatkan guru BK, para senior diduga tetap melancarkan intimidasi.
Usai dipulangkan lebih awal sekitar pukul 13.00 WIB untuk persiapan kegiatan kemah, korban dihubungi via pesan WhatsApp dan diminta menemui senior di Warung Babeh. Di mana lokasi ini adalah tempat nongkrong senior di luar area sekolah.
Sekitar pukul 14.00 WIB, sang anak sempat mengirim pesan singkat kepada ibunya, Mama Meiza, yang mengekspresikan rasa takut dan keinginan untuk pindah sekolah.
Berbekal informasi lokasi dari seorang alumni SMAN 3 Tasikmalaya sekitar pukul 16.30 WIB, Mama Meiza langsung bergerak cepat mendatangi kerumunan siswa kelas 12 di warung tersebut.
Sesampainya di lokasi, Mama Meiza mendapati anaknya dan teman-temannya dalam kondisi tertekan, ketakutan, serta memiliki wajah dan mata yang memerah akibat perlakuan fisik.
“Saya langsung ke sana. Begitu sampai, saya lihat anak saya dan teman-temannya ada di situ. Kondisinya sudah tertekan,” ujar Mama Meiza mengenang momen saat ia mendatangi lokasi kerumunan siswa, mengutip priangan.com.
“Anak saya mukanya merah, matanya juga merah. Saya lihat sendiri kondisinya seperti orang ketakutan,” tambahnya.
Mengutip penuturan sang anak, Mama Meiza pun menjelaskan apa yang terjadi pada korban. Ia bercerita bahwa sang anak dipukul dari belakang, ditendang, kemudian ditampar bergantian. Belum lagi korban dan temannya disuruh saling menampar.
3. Respon dan klarifikasi pihak sekolah

google.com/maps/Herdi S Menanggapi peristiwa tersebut, Humas SMAN 3 Tasikmalaya, Dadan Romansyah, memberikan klarifikasi resmi.
Melansir dari priangan.com, pihak sekolah membenarkan adanya aksi penamparan terhadap siswa kelas 10 yang dilakukan oleh enam siswa kelas 12 di luar lingkungan sekolah, namun membantah tuduhan penendangan.
Sekolah menegaskan bahwa penggunaan pod memang bentuk pelanggaran tata tertib. Tetapi hal itu sama sekali tidak membenarkan aksi kekerasan sesama siswa.
Sebagai langkah penegakan disiplin internal, manajemen SMAN 3 Tasikmalaya menyiapkan sanksi berupa skorsing maksimal satu minggu bagi enam siswa senior yang terlibat, serta memanggil orangtua para pelaku dalam proses pembinaan.
4. Proses hukum masih berlanjut

Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA Tak terima dengan tindakan kekerasan dan dampak psikologis yang membuat buah hatinya trauma, Mama Meiza menolak berdiam diri dan resmi membawa kasus ini ke jalur hukum. Laporan penganiayaan telah diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses secara legal.
Pihak manajemen SMAN 3 Tasikmalaya menyatakan menghormati keputusan keluarga korban dan siap kooperatif menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kekerasan tersebut kepada aparat penegak hukum.
Saat ini, kepolisian masih terus melakukan penyelidikan dan menindaklanjuti laporan guna menentukan proses hukum selanjutnya.
Itulah fakta aksi nekat Mama labrak geng SMAN 3 Tasikmalaya. Aksi nyata Mama Meiza menjadi bukti betapa besarnya naluri dan rasa cinta seorang ibu ketika anaknya berada dalam ancaman. Semoga penanganan hukum dan evaluasi dari pihak sekolah dapat memberikan keadilan yang seadil-adilnya bagi korban.






















