Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Mulai Sering Pakai AI? Ini 5 Hal yang Perlu Dilakukan Orangtua!

5 min read
Anak Mulai Sering Pakai AI? Ini 5 Hal yang Perlu Dilakukan Orangtua!
Pexels/Shantanu Kumar
  • AI semakin digunakan remaja untuk belajar dan produktivitas; pendampingan orangtua penting, sementara 44 persen orangtua dalam survei UNICRI 2025 merasa belum cukup memahami AI.

  • Orangtua dianjurkan membuka percakapan tentang penggunaan AI, mengajarkan verifikasi informasi dari sumber tepercaya, serta membiasakan anak menjadikan AI sebagai alat belajar, bukan satu-satunya jawaban.

  • Keluarga perlu menjaga privasi, menyepakati aturan penggunaan AI, dan belajar bersama melalui aktivitas sederhana agar anak memahami batasan, keamanan, kreativitas, serta kapan meminta bantuan orang dewasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perkembangan teknologi membuat artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi remaja. Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk belajar, mencari ide, berlatih bahasa, hingga membantu berbagai aktivitas sehari-hari.

Data global menunjukkan bahwa 9 dari 10 pengguna remaja memanfaatkan ChatGPT setiap minggu, baik untuk belajar maupun mendukung produktivitas. Namun, pendampingan orangtua tetap dibutuhkan agar remaja tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami batasan dan risikonya.

Hal ini menjadi perhatian karena survei global UNICRI tahun 2025 menemukan bahwa 44 persen orangtua merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing anak dalam menggunakan AI.

Lantas, apa saja hal yang perlu dilakukan orangtua saat anak mulai sering pakai AI? Berikut Popmama.com telah merangkum 5 hal yang perlu dilakukan orangtua. Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Ajak anak membicarakan penggunaan AI dalam keseharian

    Ajak anak untuk berbicara tentang penggunaan AI nya dalam sehari-hari
    Dok. OpenAI

    Orangtua tidak harus langsung memahami seluruh teknologi AI untuk mulai mendampingi anak. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membuka percakapan mengenai bagaimana remaja menggunakan AI dalam kesehariannya.

    Mama dan Papa bisa bertanya mengenai hal yang biasanya anak tanyakan kepada AI, misalnya untuk:

    • memahami materi pelajaran,
    • mencari ide tugas,
    • berlatih bahasa asing,
    • sekadar mengeksplorasi topik yang membuatnya penasaran.

    Percakapan seperti ini juga dapat menjadi kesempatan bagi orangtua untuk memahami pengalaman anak tanpa membuatnya merasa sedang diawasi secara berlebihan.

    “Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar bersama, mendengarkan bagaimana remaja menggunakan AI, dan membuka ruang bagi mereka untuk bercerita tentang pengalaman tersebut,” ujar Damar Wahyu Wijayanti, Parenting Educator dan Co-Founder Good Enough Parents.

    Menurutnya, pendampingan tidak selalu berarti orangtua harus memiliki semua jawaban. Keluarga justru dapat belajar bersama sambil menentukan kebiasaan penggunaan AI yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

  2. 2. Ajarkan anak untuk tetap berpikir kritis

    Bilang pada anak jangan bergantung pada AI
    Pexels/kaboompics

    AI memang dapat membantu anak memahami berbagai informasi dengan lebih mudah. Namun, bukan berarti semua jawaban yang diberikan bisa langsung dianggap benar.

    Remaja tetap perlu belajar memeriksa kembali informasi penting, terutama ketika berkaitan dengan kesehatan, keuangan, tugas sekolah, berita, atau keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka.

    Mama bisa mengajak anak membandingkan informasi dari AI dengan sumber lain yang terpercaya. Anak juga dapat dibiasakan untuk menjelaskan kembali informasi menggunakan kata-katanya sendiri agar proses belajar tidak hanya berhenti pada menerima jawaban.

    AI sebaiknya digunakan sebagai teman belajar dan alat untuk mengeksplorasi ide, bukan sebagai satu-satunya sumber jawaban. Ketika menemukan informasi yang membingungkan atau meragukan, anak juga perlu tahu kapan harus bertanya kepada orangtua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.

  3. 3. Biasakan anak berpikir sebelum membagikan informasi pribadi

    Jangan bagikan informasi pribadi pada AI
    Pexels/Julia M Cameron

    Kemampuan menggunakan AI juga perlu diiringi dengan pemahaman mengenai privasi. Remaja perlu mengetahui bahwa tidak semua informasi pribadi aman untuk dimasukkan ke dalam percakapan dengan AI.

    Beberapa informasi yang perlu dijaga antara lain:

    • kata sandi,
    • alamat rumah,
    • informasi sekolah,
    • data keuangan,
    • informasi pribadi milik orang lain.

    Kebiasaan ini juga berlaku ketika anak ingin mengunggah foto, dokumen, atau percakapan pribadi. Sebelum membagikannya, ajak anak bertanya kepada diri sendiri apakah informasi tersebut memang perlu diberikan dan apakah ada risiko jika informasi itu tersebar.

    Jika masih ragu, anak dapat membicarakannya terlebih dahulu dengan orangtua atau orang dewasa yang dipercaya. Dengan begitu, anak perlahan belajar bahwa menggunakan teknologi secara aman bukan hanya soal mengetahui fitur, tetapi juga memahami batasan dalam membagikan informasi.

  4. 4. Buat kesepakatan penggunaan AI bersama

    Batasi penggunaan AI dengan menggunakan AI bersama anak
    Dok. OpenAI

    Remaja dan orangtua bisa memiliki cara pandang yang berbeda terhadap AI. Anak mungkin melihatnya sebagai ruang untuk mencoba berbagai hal, sementara orangtua lebih banyak mempertimbangkan keamanan dan risikonya.

    Perbedaan tersebut tidak harus menjadi penghalang. Keduanya justru dapat dibicarakan untuk membuat kesepakatan yang jelas mengenai penggunaan AI di rumah.

    Misalnya, keluarga dapat menentukan kapan AI digunakan untuk membantu belajar, kapan perlu berhenti menggunakan perangkat, serta situasi apa saja yang membutuhkan pendampingan orang dewasa.

    Orangtua juga dapat mendampingi anak mengeksplorasi berbagai fitur AI, seperti percakapan, suara, gambar, hingga fitur yang membantu mengatur informasi dan proyek.

    “Remaja masih berada dalam proses belajar mengenali batasan dan mengambil keputusan secara mandiri. Kehadiran perlindungan yang disesuaikan bagi remaja menjadi langkah positif untuk melengkapi peran orangtua,” ujar Pritta Tyas Mangestuti, Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents.

  5. 5. Gunakan panduan keluarga untuk belajar AI bersama

    Gunakan panduan penggunaan AI bersama keluarga
    Dok. OpenAI

    Pendampingan penggunaan AI tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Orangtua dan remaja dapat memulainya melalui aktivitas sederhana, seperti mencoba membuat kuis bersama, mencari ide kegiatan keluarga, menyusun jadwal, berlatih bahasa asing, hingga memahami materi sekolah yang sulit.

    Keluarga juga bisa berdiskusi mengenai kapan AI membantu proses belajar dan kapan anak perlu mengandalkan pemikirannya sendiri. Dengan begitu, penggunaan AI tetap mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, sekaligus kemampuan berpikir kritis.

    Hal inilah yang menjadi fokus PandAI untuk Keluarga (Panduan Praktis AI untuk Keluarga).

    Panduan tersebut juga memperkenalkan berbagai cara keluarga mengeksplorasi AI bersama, termasuk untuk belajar, berkreativitas, menyelesaikan kebutuhan sehari-hari, hingga membantu mempertimbangkan pilihan sebelum mengambil keputusan.

    Pada akhirnya, penggunaan AI di keluarga bukan hanya tentang seberapa banyak fitur yang bisa digunakan. Yang tidak kalah penting adalah membangun kebiasaan untuk berdiskusi, memeriksa informasi, menjaga privasi, serta mengetahui kapan membutuhkan bantuan orang lain.

    Itulah 5 hal yang perlu dilakukan orangtua saat anak mulai sering pakai AI. Proses belajar dan mengeksplorasi AI bersama justru bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dan kepercayaan dengan anak.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More