Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Coral Reef Aorta Terdeteksi pada Anak 12 Tahun Usai Alami Hipertensi
Marta Branco
  • Anak perempuan Uyghur berusia 12 tahun di China mengalami sakit kepala berbulan-bulan dan hipertensi ekstrem hingga 225/158 mmHg, setelah awalnya didiagnosis poliarteritis nodosa.

  • Pemeriksaan CTA menemukan coral reef aorta berupa plak kalsifikasi keras pada aorta, disertai penyempitan arteri ginjal dan mesenterika, kerusakan ginjal serta limpa, dan TBC paru aktif.

  • Obat awal tidak mengendalikan tekanan darah, sehingga dokter melakukan angioplasti balon tanpa stent serta terapi kombinasi; selama 18 bulan, tekanan darah pasien stabil tanpa kekambuhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seorang anak perempuan 12 tahun dari China sakit kepala, pusing, lelah, dan muntah. Tekanan darahnya sangat tinggi. Dokter lalu menemukan bagian keras seperti karang di pembuluh darah besarnya. Ia juga punya TBC paru. Dokter memberi obat dan memakai balon kecil di pembuluh darah. Setelah 18 bulan, tekanan darahnya sudah stabil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kasus ini memperlihatkan nilai penting ketelitian diagnostik dan kegigihan tim medis dalam menghadapi kondisi yang sangat jarang pada anak. Setelah terapi awal belum mengendalikan tekanan darah, penanganan intervensi dan kombinasi obat disesuaikan dengan usia pasien, sementara pemantauan 18 bulan menunjukkan tekanan darahnya stabil tanpa kekambuhan hipertensi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebuah laporan kasus medis yang dipublikasikan di Journal of Medical Case Reports mengungkap temuan yang sangat langka di dunia kedokteran.

Coral reef aorta ditemukan pada anak 12 tahun usai alami hipertensi ekstrem dengan rekor tekanan darah melonjak hingga 225/158 mmHg.

Kondisi yang jarang ditemukan ini awalnya sempat salah dalam diagnosis sebagai poliarteritis nodosa.

Hal ini karena penyakit pembuluh darah biasanya menyerang orang dewasa. Kondisi inilah yang memicu oklusi arteri hingga infeksi TBC paru aktif.

Simak rangkuman temuan medis coral reef aorta pada anak remaja usai alami hipertensi di Popmama.com

1. Kronologi anak asal China mengidap coral reef aorta

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

​Temuan medis ini melibatkan seorang anak perempuan etnis Uyghur berusia 12 tahun.

Mulanya ia mendatangi rumah sakit lokal dengan keluhan sakit kepala yang hilang-timbul selama lebih dari 5 bulan. Mengutip dalam laporan jurnal, diketahui sakit kepala ini berlangsung 3–4 jam per episode, dan disertai pusing, kelelahan, serta muntah.

​Saat pertama kali si Anak diperiksa di rumah sakit rujukan awal, tekanan darah pasien tercatat sangat tinggi mencapai 205/140 mmHg.

Untuk itu, dokter mendiagnosis sang anak dengan penyakit peradangan yang mengacaukan arteri kecil dan sedang seperti poliarteritis nodosa.

​Namun, anehnya ketika pasien dipindahkan ke RS Xinjiang Medical University di Urumqi, kondisi tekanan darahnya bahkan melonjak semakin parah hingga mencapai rekor hipertensi ekstrem di angka 225/158 mmHg.

Hal ini tentunya jauh melampaui batas normal tekanan darah pada umumnya,yang sekitar 120/80 mmHg.

2. Diagnosis langka coral reef aorta pada anak perempuan 12 tahun

ScienceDirect.com

Berdasarkan pemeriksaan computed tomography (CTA) pada seluruh aorta anak perempuan.

Dokter menemukan adanya plak kalsifikasi keras menyerupai terumbu karang di arteri utama. Disekitar descending thoracic aorta hingga abdominal aorta. Yang di mana kondisi ini sangat sukar ditemui pada pasien anak-anak.

​Kondisi yang secara medis dikenal sebagai coral reef aorta (CRA) ini merupakan kelainan vaskular yang sangat jarang terjadi dalam praktik pediatrik atau pada anak-anak di seluruh dunia.

​Menurut keterangan medis dalam dokumen laporan kasus Journal of Medical Case Reports, Terjadi oklusi atau penyempitan pada arteri ginjal kiri, arteri mesenterika superior, dan penyempitan pada pangkal arteri ginjal kanan.

Tidak hanya itu, juga terjadi infark atau kerusakan jaringan akibat hilangnya suplai darah pada kedua ginjal dan limpa.

Uniknya kondisi yang menyertai pasien anak ini infeksi Tuberkulosis (TBC) paru aktif. Anak perempuan tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular umum seperti diabetes, trauma, mau pun gangguan metabolisme kalsium dan fosfor.

Temuan TBC pada pasie anak ini masih diteliti lebih lanjut, Ma. Terkait apakah ada hubungannya dengan coral reef aorta.

3. Penanganan medis ketika penemuan coral reef aorta pada anak

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Penemuan kasus langka Coral Reef Aorta pada anak perempuan ini membuat para dokter memutuskan untuk berikan terapi obat awal seperti infus nitroprusside dan obat hipertensi. Namun ternyata belum berhasil dalam mengendalikan tekanan darah pasien.

​Tim dokter tidak berputus asa, mereka melakukan prosedur intervensi. Di mana angioplasti balon arteri ginjal akan ditaruh dalam pembuluh darah.

Tetapi tanpa pemasangan stent karena usia pasien yang masih muda. Dengan mempertimbangkan supaya pembuluh darahnya dapat terus bertumbuh dan berkembang secara alami di masa depan.

Tidak hanya itu, pasien anak perempuan ini juga diberikan terapi kombinasi obat antihipertensi, antikoagulan, obat oral tripel anti-tuberkulosis seperti rifampicin, isoniazid, pyrazinamid. Tidak lupa methotrexate untuk menekan respon dari peradangan vaskular.

​Berdasarkan laporan pemantauan lanjutan selama 18 bulan pascatindakan. Tekanan darah pasien berhasil terkontrol dengan stabil tanpa adanya kekambuhan hipertensi.

Wah, para dokter tidak menyerah menyelamatkan sang anak ya!

Itulah temuan medis coral reef aorta pada anak remaja usai alami hipertensi. Semoga pasien berhasil sembuh lewat semangat dan dedikasi para dokter yang tidak pernah berputus-asa. Semoga bermanfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article