Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

10 Faktor Risiko Hipertensi yang Harus Diperhatikan, Apa Saja?

10 Faktor Risiko Hipertensi yang Harus Diperhatikan, Apa Saja?
Pexels/Marta Branco
Intinya Sih
Gini Kak
  • Hipertensi disebut silent killer karena sering tanpa gejala, dengan risiko meningkat seiring usia, jenis kelamin, dan faktor gaya hidup seperti pola makan serta aktivitas fisik.
  • Studi IFLS 5 menunjukkan laki-laki dan orang berusia di atas 40 tahun lebih rentan hipertensi, terutama bila kurang olahraga atau mengalami obesitas dan diabetes.
  • Kebiasaan seperti konsumsi garam berlebih, alkohol, merokok, serta stres dapat memperparah tekanan darah tinggi, sementara pengendalian pola hidup sehat jadi kunci pencegahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hipertensi sering disebut silent killer karena bisa mengintai tubuh tanpa gejala yang jelas, bahkan banyak orang baru sadar punya tekanan darah tinggi setelah kondisinya cukup parah. Padahal, kalau ditelusuri, ada sejumlah faktor yang bisa jadi pemicunya dan sebagian besar sebenarnya bisa dikendalikan.

Mulai dari jenis kelamin, usia, hingga kebiasaan sehari-hari seperti pola makan dan olahraga, semuanya berperan dalam menentukan risiko seseorang terkena hipertensi. 

Supaya kamu dapat mengetahui dan mencegah kemungkinan penyebabnya, berikut Popmama.com mengulas 10 faktor risiko hipertensi. Yuk, simak sampai habis!

1. Jenis kelamin

Jenis kelamin
Pexels/Tim Mossholder

Mulai dari faktor yang mungkin nggak semua orang sadari, yaitu jenis kelamin. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal JPH RECODE, Universitas Airlangga, berdasarkan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) 5, laki-laki memiliki risiko 2,284 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan perempuan.

Dikutip dari CDC, perempuan dan laki-laki disebut memiliki peluang yang hampir sama untuk mengalami hipertensi sepanjang hidupnya, meski waktu munculnya bisa berbeda, misalnya, risiko pada perempuan cenderung meningkat setelah memasuki masa menopause.

2. Usia

Usia
Pexels/Elizabeth Ferreira

Selain jenis kelamin, usia juga menjadi penentu penting. Studi IFLS 5 tadi menemukan bahwa responden berusia 40 tahun ke atas berisiko jauh lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih muda.

Melansir CDC, risiko hipertensi memang meningkat seiring bertambahnya usia. Bahkan, diperkirakan sekitar 9 dari 10 orang dewasa berpotensi mengalami hipertensi sepanjang hidupnya. Jadi, semakin bertambah usia, semakin penting juga untuk rutin memantau tekanan darah.

3. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik
Pexels/Aleksandar Andreev

Kabar baiknya, faktor selanjutnya ini sepenuhnya bisa dikontrol. Mengutip CDC, kurang gerak membuat jantung dan pembuluh darah menjadi kurang terlatih, sehingga tekanan darah lebih mudah naik.

Studi IFLS 5 pun mencatat hal serupa: kelompok yang jarang beraktivitas fisik punya risiko hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang rutin bergerak. Jadi, jalan kaki rutin atau olahraga ringan setiap hari ternyata bukan cuma soal bugar, tapi juga soal menjaga tekanan darah tetap stabil.

4. Obesitas

Obesitas
Pexels/Andres Ayrton

Aktivitas fisik yang kurang biasanya berkaitan erat dengan berat badan berlebih. Menurut UCSF Health, semakin berat tubuh seseorang, semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, sehingga tekanan di dalam pembuluh darah pun ikut meningkat.

Dikutip dari CDC, obesitas juga berkaitan dengan kadar kolesterol jahat yang lebih tinggi dan kolesterol baik yang lebih rendah. Studi IFLS 5 turut mengonfirmasi bahwa obesitas menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian hipertensi di Indonesia.

5. Diabetes

Diabetes
Pexels/Artem Podrez

Obesitas dan diabetes sering kali berjalan beriringan, begitu juga dengan hipertensi. Melansir CDC, sekitar 6 dari 10 orang dengan diabetes juga mengidap hipertensi. Ini karena diabetes membuat kadar gula menumpuk di dalam darah sekaligus meningkatkan risiko penyakit jantung.

DIlansir UCSF Health, diabetes masuk ke dalam daftar kondisi kronis yang berkaitan erat dengan naiknya tekanan darah, bersama dengan penyakit ginjal dan sleep apnea.

6. Kehamilan

Kehamilan
Pexels/Tima Miroshnichenko

Bukan cuma soal penyakit, kondisi fisiologis seperti kehamilan pun bisa memengaruhi tekanan darah. Mengutip CDC, sebagian ibu hamil dapat mengalami tekanan darah tinggi selama masa kehamilan, kondisi yang berisiko bagi ibu maupun janin, baik selama maupun setelah persalinan.

Karena itu, ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan disarankan untuk rutin memeriksakan tekanan darah dan berdiskusi dengan tenaga medis soal cara menjaga keamanan ibu dan bayi.

7. Stres

Stres
Pexels/AI25.Studio AI GENERATIVE

Di luar kondisi fisik, kondisi psikis juga ikut berperan. UCSF Health menjelaskan, stres berat bisa memicu lonjakan tekanan darah secara mendadak, meski sifatnya sementara. Masalahnya, banyak orang justru melampiaskan stres dengan makan berlebihan, merokok, atau minum alkohol, yang malah memperparah risiko hipertensi dalam jangka panjang.

Menariknya, studi IFLS 5 justru tidak menemukan hubungan yang signifikan antara stres dan kejadian hipertensi pada populasi yang diteliti. Artinya, faktor ini masih perlu dikaji lebih lanjut khusus untuk konteks masyarakat Indonesia.

8. Konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol
Pexels/Aleksandar Andreev

Kebiasaan minum alkohol juga masuk dalam radar penyebab hipertensi. Dikutip dari CDC, perempuan disarankan untuk tidak minum lebih dari satu gelas alkohol per hari, sementara laki-laki maksimal dua gelas.

UCSF Health menjelaskan bahwa konsumsi alkohol berlebihan dapat mengaktifkan sistem saraf adrenergik yang membuat pembuluh darah menyempit sekaligus mempercepat detak jantung, dua hal yang berujung pada naiknya tekanan darah.

9. Merokok

Merokok
Pexels/Nafsika G.

Sama seperti alkohol, kebiasaan merokok juga nggak bisa dianggap remeh. Melansir CDC, zat nikotin dalam rokok dapat langsung menaikkan tekanan darah, sementara karbon monoksida dari asap rokok mengurangi kadar oksigen yang dapat dibawa darah ke seluruh tubuh.

Kedua efek ini sama-sama merusak jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang, sehingga makin lama seseorang merokok, makin besar pula risiko hipertensinya.

10. Terlalu banyak mengonsumsi garam

Terlalu banyak mengonsumsi garam
Pexels/Marek Kupiec

Terakhir, kita kembali lagi ke meja makan. Menurut CDC, pola makan yang terlalu tinggi natrium tetapi rendah kalium menjadi salah satu penyebab utama hipertensi. Sebagian besar asupan natrium harian ternyata datang dari makanan olahan dan makanan restoran, bukan dari garam yang ditambahkan sendiri di rumah.

Dikutip dari UCSF Health, garam berlebih membuat tubuh menahan cairan sekaligus menyempitkan pembuluh darah, dua hal yang sama-sama mengerek tekanan darah naik. Makanya, mengurangi makanan olahan dan memperbanyak makanan segar bisa jadi langkah sederhana yang berdampak besar.

Nah, itulah pembahasan mengenai 10 faktor risiko hipertensi. Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More