Fenomena back to basics kini melanda dunia pendidikan Eropa. Sejumlah negara maju seperti Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark secara resmi membalikkan arah kebijakan digitalisasi sekolah. Negara-negara tersebut membatasi penggunaan tablet serta laptop demi mengurangi paparan screen time pada siswa.
Langkah paling drastis diambil oleh Pemerintah Swedia. Setelah sebelumnya membagikan laptop secara masif ke sekolah, Swedia kini mengalokasikan anggaran hingga Rp1 triliun khusus untuk menyediakan kembali buku teks cetak dan menggalakkan tradisi menulis tangan.
Mengapa negara-negara yang sempat menjadi pelopor ed-tech ini memilih kembali ke metode konvensional?
Berikut fakta dan alasan di balik keputusan beberapa negara Eropa untuk kembali ke metode belajar back to basics, seperti yang sudah sudah Popmama.com rangkum.
