Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Negara Eropa Ini Kembali Belajar Menggunakan Buku Cetak, Ini 4 Faktanya
Pexels/Max Fischer
  • Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark membatasi tablet serta laptop di sekolah, mengembalikan buku cetak dan latihan menulis tangan.
  • Perubahan kebijakan dipicu kekhawatiran penurunan literasi, pemahaman membaca, skor PISA, serta konsentrasi siswa akibat penggunaan layar berlebihan dan distraksi aplikasi.
  • Swedia menganggarkan hingga Rp1 triliun untuk buku cetak; Prancis dan Italia melarang gawai di sejumlah jenjang, sementara negara lain memperketat atau menarik perangkat digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark ingin anak belajar lagi pakai buku kertas dan pena. Mereka membatasi tablet dan laptop di sekolah. Swedia juga membeli banyak buku baru. Guru melihat anak lebih susah fokus saat terlalu lama melihat layar. Menulis tangan membantu anak ingat pelajaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fenomena back to basics kini melanda dunia pendidikan Eropa. Sejumlah negara maju seperti Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark secara resmi membalikkan arah kebijakan digitalisasi sekolah. Negara-negara tersebut membatasi penggunaan tablet serta laptop demi mengurangi paparan screen time pada siswa.

Langkah paling drastis diambil oleh Pemerintah Swedia. Setelah sebelumnya membagikan laptop secara masif ke sekolah, Swedia kini mengalokasikan anggaran hingga Rp1 triliun khusus untuk menyediakan kembali buku teks cetak dan menggalakkan tradisi menulis tangan.

Mengapa negara-negara yang sempat menjadi pelopor ed-tech ini memilih kembali ke metode konvensional?

Berikut fakta dan alasan di balik keputusan beberapa negara Eropa untuk kembali ke metode belajar back to basics, seperti yang sudah sudah Popmama.com rangkum.

Menurunnya Skor PISA dan Pemahaman Membaca Siswa

Pexels/RDNE Stock project

Keputusan untuk mengembalikan penggunaan buku cetak dipicu oleh kekhawatiran atas merosotnya performa akademis serta kemampuan literasi siswa.

Mengutip laporan publikasi Ethics and Public Policy Center (EPPC), penggunaan gawai yang berlebihan di dalam kelas terbukti berkorelasi negatif terhadap pemahaman membaca dan berdampak pada penurunan skor tes internasional seperti PISA.

Laporan tersebut juga menyoroti langkah Swedia yang sejak 2009 menjadi pelopor ed-tech, kini resmi membalikkan arah kebijakannya.

Hal ini karena evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis digital membuat rentang perhatian anak makin pendek dan tidak meningkatkan kualitas belajar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan penggunaan media cetak fisik yang terbukti membantu siswa memahami teks secara lebih mendalam.

Bahaya Screen Time dan Anjloknya Konsentrasi Anak

Pexels/Pixabay

Melansir dari berbagai sumber, para pendidik di Eropa melaporkan bahwa penggunaan gawai berlebihan membuat siswa rentan terdistraksi dan kehilangan rentang perhatian.

Kebiasaan berpindah antaraplikasi serta paparan gim digital saat belajar dinilai merusak fokus anak. Pasalnya, jeda waktu saat berpindah layar memutus alur konsentrasi siswa terhadap materi pelajaran.

Temuan ini sejalan dengan imbauan global UNESCO yang mendesak pembatasan teknologi di lingkungan sekolah. Langkah tersebut penting untuk menjaga kesehatan mental, interaksi sosial, serta konsentrasi belajar anak mama.

Keunggulan Menulis Tangan bagi Perkembangan Otak

Pexels/Katerina Holmes

Selain mengembalikan buku cetak, sekolah-sekolah di Eropa kembali menggalakkan tradisi menulis tangan menggunakan kertas dan pena. Mengutip penelitian neurosains dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU), aktivitas menulis tangan terbukti mengaktifkan area sensorik dan motorik otak yang jauh lebih luas dibanding mengetik di papan ketik (keyboard).

Gerakan saat anak mama memegang pena dan membentuk huruf menciptakan stimulus visual serta motorik yang mengunci memori otak. Alhasil, anak lebih mudah memahami sekaligus mengingat materi pelajaran dalam jangka panjang. Selain itu, kebiasaan menulis tangan merupakan kunci utama pembentukan kemampuan dasar literasi dan pengasah keterampilan motorik halus anak sejak dini.

Adanya Kebijakan Resmi dan Anggaran Fantastis Pemerintah

Pexels/Pixabay

Langkah balik arah ini bukan sekadar imbauan, melainkan sudah menjadi regulasi resmi di berbagai negara Eropa. Mengutip dari Kompas.com, Pemerintah Swedia mengalokasikan anggaran hingga Rp1 triliun khusus untuk membeli serta membagikan kembali buku-buku cetak ke sekolah.

Langkah tegas tersebut diimbangi oleh negara Eropa lainnya:

  • Prancis dan Italia: Mengesahkan larangan total penggunaan gawai di sekolah dasar hingga menengah pertama, termasuk saat jam istirahat.

  • Finlandia: Memperketat regulasi penggunaan gawai pribadi di kelas untuk mengembalikan fokus belajar siswa pada media cetak dan latihan tertulis.

  • Denmark: Menarik penggunaan tablet serta layar digital secara bertahap pada jenjang pendidikan dasar guna membatasi screen time harian anak.

Itulah alasan beberapa negara Eropa mulai kembali mengutamakan buku cetak. Fenomena back to basics ini menunjukkan bahwa teknologi di kelas, idealnya bersifat melengkapi, bukan menggantikan media dasar seperti buku cetak dan menulis tangan. Menjaga keseimbangan screen time juga menjadi kunci utama agar tumbuh kembang anak berjalan optimal.

Apakah Mama setuju jika metode belajar back to basics ini diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia?

Curated For You

Editorial Team

Related Article