Cara Nia Ramadhani Ajarkan Trik Jarimatika Perkalian 9 ke Mainaka

Nia Ramadhani mengajarkan Mainaka atau Naka, perkalian sembilan lewat trik jarimatika tutup jari dalam suasana belajar yang santai dan interaktif.
Tekniknya memakai sepuluh jari bernomor. Jari untuk dikali ditekuk, sementara jumlah jari di kiri dan kanan menunjukkan digit puluhan serta satuan hasil.
Pemisah digit otomatis ini khusus untuk perkalian 9 dari 9 x 1 hingga 9 x 10, sehingga membantu anak memahami pola angka dan menjawab mandiri.
Momen kebersamaan Nia Ramadhani dan putra keduanya, Mainaka Zanatti Bakrie alias Naka, kerap mencuri perhatian di media sosial. Salah satu video yang memperlihatkan Nia mengenang caranya dulu mengajarkan Naka perkalian sembilan, sebelum akhirnya kembali mempraktikkan trik tersebut secara langsung bersama sang anak di atas kasur.
Alih-alih memaksa anak menghafal perkalian secara kaku, Nia memilih menggunakan metode visual yang menyenangkan melalui trik jarimatika atau yang lebih dikenal sebagai perkalian tutup jari.
Bagi anak usia sekolah dasar, pelajaran berhitung sering kali menjadi hal yang membosankan jika hanya terpaku pada hafalan buku teks. Di usianya yang menginjak 10 tahun, Naka berada pada fase untuk menguasai operasi hitung dasar.
Trik cepat yang diajarkan sang mama terbukti efektif, terlihat dari kelancaran Naka menjawab soal secara mandiri sekaligus membuat suasana belajar di rumah menjadi lebih santai dan interaktif.
Berikut Popmama.com rangkum cara Nia Ramadhani ajarkan trik jarimatika perkalian 9 ke Mainaka.
Yuk, disimak!
Table of Content
1. Mengenal cara kerja trik perkalian tutup jari
Metode perkalian tutup jari merupakan teknik berhitung berbasis jarimatika sederhana yang memanfaatkan sepuluh jari tangan sebagai alat peraga. Cara memulainya sangat mudah, yakni rentangkan kedua telapak tangan menghadap ke arah wajah, lalu beri nomor urut pada masing-masing jari dari kiri ke kanan, mulai dari angka 1 (ibu jari kiri) hingga 10 (kelingking kanan).
Saat ingin menghitung, cukup tekuk atau lipat jari yang merepresentasikan angka kali. Jari yang ditekuk tersebut berfungsi sebagai pembatas alami antara nilai puluhan dan satuan. Jumlah jari yang berdiri di sisi kiri menunjukkan digit puluhan, sedangkan jari yang berdiri di sisi kanan menjadi digit satuan.
Sebagai contoh, untuk menghitung 9 x 4, Naka cukup menekuk jari ke-4 (jari manis kiri), sehingga tersisa 3 jari di kiri dan 6 jari di kanan yang langsung membentuk hasil 36.
2. Efektivitas metode khusus untuk perkalian sembilan

Instagram.com/ramadhaniabakrie Beberapa orang di kolom komentar pun bertanya apakah trik tutup satu jari ini bisa diterapkan untuk semua angka perkalian. Faktanya, formula sederhana di mana satu jari yang ditekuk langsung memisahkan nilai puluhan dan satuan secara otomatis hanya berlaku khusus untuk tabel perkalian sembilan, mulai dari 9 x 1 sampai 9 x 10.
Meski metode jarimatika secara umum juga bisa digunakan untuk perkalian angka lain seperti 6 hingga 10, aturan rumusnya jauh lebih kompleks karena melibatkan penjumlahan jari yang tertutup untuk angka puluhan dan perkalian sisa jari yang terbuka untuk angka satuan.
Oleh karena itu, teknik pemisah langsung milik angka sembilan ini menjadi trik termudah dan paling cepat dipahami anak tanpa perlu melakukan perhitungan bertingkat.
3. Mengubah paradigma belajar matematika jadi menyenangkan

Instagram.com/ramadhaniabakrie Pendekatan edukatif yang diperlihatkan Nia Ramadhani membuktikan bahwa keterlibatan orangtua dengan metode yang tepat sangat memengaruhi respons anak terhadap pelajaran. Matematika tidak lagi dianggap sebagai beban hafalan yang menakutkan, tetapi sebuah permainan logika jari yang seru untuk dipecahkan.
Metode visual dan kinestetik seperti ini sangat membantu anak-anak pada masa transisi sekolah dasar untuk memahami pola angka secara nyata. Rasa percaya diri anak akan meningkat saat berhasil menemukan jawaban secara mandiri lewat trik sederhana, sehingga memotivasi mereka untuk lebih menyukai pelajaran berhitung ke depannya.
Melalui trik perkalian tutup jari ini, Nia Ramadhani memberikan inspirasi bagi para orangtua bahwa mendampingi anak belajar tidak harus penuh tekanan, tetapi bisa disiasati dengan teknik kreatif yang mudah diterapkan.
Memanfaatkan anggota tubuh seperti jari tangan sebagai sarana edukasi bukan hanya mempermudah pemahaman logika anak, melainkan juga menciptakan momen kedekatan yang bermakna antara orangtua dan buah hati.




















