Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prilly Latuconsina Soroti Budaya Diam soal Kekerasan Seksual Anak
Popmama.com/Dhio Muhammad Al Dicky
  • Film Memburu Pemangsa memadukan horor, kriminal, dan aksi untuk mengangkat kekerasan terhadap anak, dengan Prilly Latuconsina sebagai Cia, jurnalis yang turut menyelidiki kasus.

  • Prilly menyoroti budaya diam dan anggapan tabu yang membuat kasus kekerasan anak hanya ramai sesaat, lalu terlupakan ketika pemberitaan mereda.

  • Lewat peran Cia, Prilly menekankan tanggung jawab jurnalis dalam mencari serta menyampaikan informasi. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Film Memburu Pemangsa mengangkat isu kekerasan terhadap anak melalui perpaduan genre horor, kriminal, dan aksi. Prilly Latuconsina menjadi salah satu pemeran utama dengan memerankan Cia, seorang jurnalis yang ikut menginvestigasi kasus tersebut.

Menurut Prilly, isu kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan yang perlu lebih banyak dibicarakan oleh masyarakat. Ia menyoroti budaya diam yang membuat sebagian orang memilih untuk menghindari pembahasan mengenai isu tersebut.

Lewat film ini, Prilly berharap penonton dapat lebih berani bersuara dan memberikan respons yang tepat. Berikut Popmama.com telah merangkum pandangan Prilly Latuconsina tentang budaya diam dan pentingnya peran jurnalis lewat film Memburu Pemangsa.

Yuk, simak selengkapnya!

1. Prilly Latuconsina punya cara sendiri soroti isu kekerasan terhadap anak

Dok. Sinemaku Pictures

Prilly Latuconsina menilai isu kekerasan terhadap anak sebenarnya bukan sesuatu yang baru karena pemberitaannya sudah cukup sering ditemukan. Namun, masih ada kecenderungan masyarakat untuk diam ketika berhadapan dengan persoalan tersebut.

Ia melihat sebuah kasus terkadang hanya ramai selama satu atau dua hari sebelum akhirnya kembali dilupakan. Menurutnya, dibutuhkan keberanian untuk tidak sekadar mengetahui sebuah kasus, tetapi juga memberikan respons yang tepat.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui Memburu Pemangsa.

“Isu ini bukan karena kurangnya berita, tapi juga ada budaya diam. Kadang kasusnya viral satu atau dua hari, setelah itu hilang begitu saja. Isu ini perlu bantuan kita semua untuk bersuara dan memberikan respons yang tepat,” ucap Prilly saat press conference film Memburu Pemangsa pada Senin (21/9/2026) di Jakarta.

2. Isu tabu bikin orang cenderung menghindar

Dok. Sinemaku Pictures

Menurut Prilly Latuconsina, pembahasan mengenai kekerasan terhadap anak juga berkaitan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat yang belum selalu nyaman membicarakan isu-isu tertentu.

Ketika sebuah persoalan dianggap tabu, orang terkadang memilih untuk menghindari pembicaraan daripada mencoba memahami atau mencari tahu lebih jauh.

Kondisi tersebut membuat isu kekerasan terhadap anak berisiko hanya menjadi pembahasan sesaat ketika kasusnya sedang ramai. Oleh karena itu, Prilly berharap masyarakat dapat mulai membangun ruang yang lebih terbuka untuk membicarakan persoalan tersebut. Dengan begitu, perhatian terhadap keselamatan anak tidak berhenti ketika pemberitaan mulai mereda.

"Mungkin karena isunya tabu, kita juga ada di budaya yang tidak terlalu nyaman membicarakan hal-hal seperti ini. Biasanya ngehindar," tegas Prilly.

3. Peran Prilly di film ini bisa merepresentasikan profesi jurnalis

Dok. Sinemaku Pictures

Dalam Memburu Pemangsa, Prilly Latuconsina berperan sebagai Cia, seorang jurnalis yang ikut menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak. Menurut Prilly, profesi jurnalis memiliki tanggung jawab besar dalam mencari dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Hal tersebut membuatnya merasa senang bisa merepresentasikan profesi jurnalis melalui film, terlebih ketika cerita yang dibawa berkaitan dengan isu penting. Baginya, sosok jurnalis di dalam film juga dapat menggambarkan bagaimana profesi tersebut hadir untuk mengangkat berbagai persoalan yang terjadi di kehidupan nyata.

“(Jurnalis) bukan profesi yang mudah, jadi kita seneng banget bisa merepresentasikan profesi itu.”

Itulah pandangan Prilly tentang budaya diam dan pentingnya peran jurnalis lewat film Memburu Pemangsa.

Melalui Memburu Pemangsa, Prilly Latuconsina berharap isu kekerasan terhadap anak dapat lebih berani dibicarakan tanpa budaya diam. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article