"Ternyata polusi ini tidak hanya didapat melalui hirupan. Tetapi juga bisa terakumulasi karena polutan ini kemudian akan juga mencemari air, mencemari tanah, lalu akhirnya bisa masuk dengan cara lain ke tubuh."
Waspada, Polusi Udara Bisa Menempel di Makanan Anak!

Polusi udara tidak hanya terhirup, tapi juga bisa menempel di air, tanah, dan bahan makanan yang dikonsumsi anak setiap hari.
Partikel polutan dapat mencemari rantai pangan sejak dari sumbernya, seperti lahan pertanian dan air ternak, kemudian masuk ke tubuh manusia melalui makanan.
Paparan polusi udara berdampak sistemik pada tubuh anak yang masih berkembang, meningkatkan risiko gangguan jantung, pembuluh darah, hingga penyakit kronis.
Mama mungkin sudah terbiasa menutup pintu dan jendela saat kualitas udara sedang buruk agar si Kecil tidak menghirup polusi. Namun ternyata, ancaman polusi udara tidak berhenti di sana. Zat berbahaya di udara juga bisa mengendap di air, tanah, hingga bahan makanan yang dikonsumsi anak setiap hari.
Selama ini, polusi udara lebih sering dikaitkan dengan gangguan saluran pernapasan. Padahal, paparan polutan juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui jalur lain yang sering luput disadari, yakni makanan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 7 Juli 2026 bertajuk Polusi Udara di Sekitar Lingkungan Rumah Kita: Bahaya Terselubung bagi Kesehatan Anak.
Dalam kesempatan tersebut, dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K) menjelaskan bahwa polutan tidak hanya masuk melalui udara yang dihirup, tetapi juga dapat ikut tertelan bersama makanan.
Padahal, makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian tentu diharapkan menjadi sumber nutrisi terbaik bagi anak. Karena itu, memahami bagaimana polusi udara dapat menyusup ke dalam rantai makanan menjadi langkah awal untuk membantu melindungi kesehatannya.
Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai polusi udara yang bisa menempel pada makanan anak.
1. Polusi udara bisa menyusup melalui makanan anak

Selama ini banyak orang mengira paparan polusi hanya terjadi ketika anak menghirup udara kotor saat berada di luar rumah.
Padahal, partikel polutan yang sangat kecil, bahkan tidak terlihat oleh mata, dapat masuk ke lingkungan rumah dan mengendap di berbagai permukaan.
Mengenai jalur penyusupan ini, dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K), menjelaskan,
Artinya, polutan yang beterbangan di udara tidak selalu berhenti di atmosfer. Lama-kelamaan, partikel tersebut akan turun dan menempel pada sumber air, tanah, permukaan tanaman, hingga bahan pangan lainnya.
Partikel-partikel tersebut berpotensi ikut tertelan bersama makanan yang dikonsumsi anak. Inilah mengapa paparan polusi udara tidak hanya berasal dari udara yang dihirup, tetapi juga melalui makanan sehari-hari.
2. Polutan dapat mencemari rantai pangan

Ancaman polusi udara sebenarnya dapat dimulai jauh sebelum bahan makanan sampai ke dapur rumah.
Ketika polutan mengendap di tanah dan sumber air, zat-zat tersebut berpotensi mencemari lingkungan tempat tanaman tumbuh maupun hewan ternak berkembang.
Terkait hal ini, dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K), mengingatkan bahwa polutan "bisa masuk melalui kontaminasi makanan dan lain sebagainya."
Artinya, sayuran yang tumbuh di lahan tercemar atau hewan yang mengonsumsi air yang terpapar polusi, berpotensi membawa zat berbahaya ke dalam rantai makanan. Pada akhirnya, manusia, termasuk anak-anak, dapat terpapar ketika mengonsumsi bahan pangan tersebut.
Meski tubuh memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari berbagai zat asing, paparan polutan yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
3. Dampak polusi udara bagi kesehatan tubuh anak

Anak merupakan kelompok yang rentan terpapar polusi udara karena organ-organ tubuhnya masih berkembang dan frekuensi napas mereka juga lebih cepat dibanding orang dewasa.
Menurut dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K), "Dampak polusi udara tidak terbatas dari saluran pernapasan tapi terjadi sistemik dari ujung kepala sampai ujung kaki, semua sistem tubuh bisa terganggu."
Beliau menjelaskan bahwa paparan polusi bahkan dapat memengaruhi kesehatan sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Selain meningkatkan risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah, polusi juga dapat memengaruhi kadar oksigen dalam darah, proses pembekuan darah, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Karena itu, menjaga kualitas udara di sekitar rumah saja belum tentu cukup. Mama juga perlu memerhatikan kebersihan bahan makanan, mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi, serta menyimpan makanan dengan baik untuk membantu mengurangi risiko paparan polutan pada anak.



















