“Paparan berulang asap beracun merusak tubuh dan masa depan anak,” tulis IDAI dalam materi edukasinya di Instagram @idai_ig.
IDAI Soroti Karhutla, Ini Rekomendasi Cara Melindungi Anak dari Asap

IDAI mengingatkan paparan asap berulang dapat berdampak pada kesehatan anak, sehingga perlindungan perlu dilakukan sebelum muncul keluhan.
Orangtua disarankan memantau AQI atau ISPU dan menjaga kualitas udara di dalam rumah melalui ruang bersih serta pembatasan sumber polusi.
Aktivitas luar ruang perlu disesuaikan dengan kualitas udara, termasuk penggunaan masker dan pencarian bantuan medis saat muncul gejala serius.
Kabut asap dan kualitas udara yang buruk dapat berdampak pada kesehatan anak, terutama bila paparan terjadi berulang. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan sejumlah rekomendasi yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu melindungi anak saat kondisi udara memburuk.
Dalam materi edukasinya, IDAI juga mengingatkan bahwa perlindungan anak perlu dilakukan sejak sebelum muncul keluhan. Pemantauan kualitas udara, menjaga udara di dalam rumah, hingga menyesuaikan aktivitas anak menjadi beberapa langkah yang disarankan.
Berikut Popmama.com rangkum rekomendasi IDAI untuk menjaga kesehatan anak saat terjadi kabut asap.
Table of Content
1. IDAI ingatkan dampak paparan asap berulang pada anak

Dok. ANTARA FOTO/Yudi Manar IDAI menyoroti bahwa anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus ketika terjadi kabut asap. Paparan yang terjadi berulang bukan hanya dapat menimbulkan keluhan sesaat, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang.
Karena itu, IDAI juga mendorong adanya perlindungan yang serius terhadap anak dari paparan asap beracun. Bagi orangtua, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memantau laporan kualitas udara lokal melalui Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebelum menentukan aktivitas anak di luar rumah.
2. Orangtua bisa menjaga kualitas udara di dalam rumah

IDN Times/Yuliani Saat kabut asap berlangsung, IDAI merekomendasikan agar anak sebisa mungkin berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih. Salah satu caranya adalah dengan menyiapkan clean room atau ruangan yang kualitas udaranya lebih terjaga.
IDAI memberikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua, yakni:
- Menyiapkan “ruang bersih” atau clean room dengan alat pembersih udara portabel yang bukan tipe ozone-generating.
- Menjaga pintu dan jendela tetap tertutup selama kabut asap berlangsung.
- Jika menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara dari luar, misalnya menggunakan mode closed vent atau air recirculation.
- Menghindari sumber polusi di dalam rumah seperti rokok, kompor gas atau kayu bakar, perapian, lilin, dan semprotan aerosol.
- Membatasi kegiatan yang menghasilkan asap atau partikel di dalam rumah.
IDAI menegaskan bahwa berbagai sumber tersebut dapat ikut memperburuk kondisi udara di dalam rumah.
“Semua ini dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan,” tulis IDAI.
3. Aktivitas anak di luar rumah perlu disesuaikan dengan kualitas udara

Popmama.com/Putri Syifa N/AI IDAI juga mengingatkan agar aktivitas fisik berat di luar ruangan dibatasi ketika udara terlihat atau tercium berasap maupun ketika laporan kualitas udara menunjukkan kondisi buruk.
Jika anak tetap harus keluar rumah, IDAI menyarankan beberapa langkah berikut:
- Anak berusia 2 tahun atau lebih menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.
- Anak dapat menggunakan kacamata untuk membantu mengurangi iritasi asap pada mata.
- Anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya perlu memastikan obat rutin tetap tersedia, termasuk rescue inhaler bila memang diresepkan dokter.
- Segera mencari pertolongan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum.
“Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum,” tulis IDAI.
Untuk kegiatan sekolah, IDAI juga memberikan panduan berdasarkan tingkat ISPU dan kelompok usia anak. Semakin buruk kualitas udara dan semakin rentan kelompok usia anak, rekomendasi perlindungannya menjadi lebih ketat, mulai dari mengurangi pajanan asap hingga evakuasi ke lokasi dengan udara yang lebih bersih bila diperlukan.























