Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Masa Transisi Anak Usia 6-10 Tahun yang Sering Terabaikan
Pexels/RDNE Stock Project
  • Usia 6–10 tahun adalah fase penting namun sering terabaikan, di mana anak mulai menghadapi perubahan emosional dan sosial yang membentuk rasa percaya diri serta identitas mereka.

  • Anak mulai memahami ekspektasi sosial, dinamika pertemanan yang kompleks, serta tekanan akademis di sekolah yang dapat memicu stres dan kelelahan mental setiap hari.

  • Rumah menjadi tempat aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi setelah seharian menahan diri, sehingga dukungan dan validasi dari orang tua sangat dibutuhkan pada masa transisi ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mama mengira bahwa fase paling menantang dalam membesarkan anak adalah saat mereka masih balita atau ketika sudah menginjak masa remaja nanti.

Padahal, rentang usia antara 6 hingga 10 tahun justru menjadi salah satu tahapan masa kanak-kanak yang paling sering terabaikan namun memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi masa depan mereka. 

Perubahan tersembunyi inilah yang sering kali memicu konflik batin di dalam diri anak jika tidak didampingi dengan kepekaan emosional yang baik dari lingkungan keluarga di rumah.

Berikut Popmama.com rangkum 7 fakta mendalam mengenai fase emosional anak usia 6-10 tahun yang wajib dipahami!

1. Anak menyadari adanya ekspektasi yang harus dipenuhi

Pexels/Andy Barbour

Pada rentang usia ini, anak-anak secara mengejutkan mulai suka membandingkan diri mereka sendiri dengan orang-orang di sekitarnya secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. 

Mereka mulai dihantui oleh pertanyaan besar di dalam benak mereka apakah diri mereka sudah cukup baik, cukup pintar, dan apakah orang-orang di sekitar benar-benar menyukai kehadiran mereka di sekolah. 

Mereka menjadi sangat cemas jika merasa nilai atau popularitas mereka berada di bawah anak-anak lain, sehingga Mama perlu hadir untuk meyakinkan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh persaingan sosial tersebut.

2. Hubungan pertemanan yang mulai terasa rumit

Pexels/Norma Mortenson

Dunia pertemanan anak usia sekolah tidak lagi sesederhana saat mereka masih berada di taman kanak-kanak dahulu yang hanya berfokus pada berbagi mainan bersama. 

Di usia ini, hubungan pertemanan berubah menjadi jauh lebih kompleks karena anak-anak mulai belajar mengenali dinamika kelompok yang penuh dengan persaingan emosional di dalam kelas. 

Mereka mulai menyadari siapa yang memegang kendali sebagai pemimpin kelompok, siapa yang menjadi pengikut, dan di posisi mana diri mereka sendiri berdiri di tengah lingkaran sosial tersebut. 

Proses adaptasi ini sering kali melibatkan perasaan tersisih, konflik kecil antarteman, dan usaha keras untuk bisa diterima, yang semuanya sangat menguras energi emosional anak sepanjang hari di sekolah.

3. Pengenalan pertama anak terhadap identitas sosial

Pexels/Norma Mortenson

Fase usia 6 hingga 10 tahun menjadi momen krusial karena di sinilah anak untuk pertama kalinya mulai mengenali konsep identitas sosial mereka secara nyata di dunia luar. 

Anak-anak tidak lagi hanya melihat diri mereka sebagai bagian dari anggota keluarga yang dilindungi di rumah, melainkan sebagai orang terpisah yang memiliki peran dan reputasi di masyarakat luar. 

Pengenalan identitas baru ini menuntut energi mental yang besar dari anak untuk bisa menyesuaikan diri dengan norma kelompok, aturan sekolah, dan harapan dari teman-teman sebayanya. 

Kegagalan dalam membangun identitas sosial yang positif di usia ini bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang minder dan selalu merasa terasing dari lingkungannya sendiri.

4. Dialog dalam diri anak mulai menajam dan membentuk keyakinan

Pexels/cottonbro studio

Cara anak berbicara dengan diri mereka sendiri atau yang sering disebut dengan istilah self-talk mengalami penajaman yang sangat signifikan pada rentang usia emas ini. 

Mereka mulai membentuk keyakinan dasar di dalam pikiran mereka mengenai arti sebuah usaha keras, tingkat kemampuan diri, serta nilai harga diri mereka sendiri yang akan dibawa hingga dewasa. 

Pembentukan keyakinan batin ini sering kali didasarkan pada bagaimana cara orang dewasa di sekitar mereka, terutama Mama, Papa, dan guru, memberikan respons serta penilaian terhadap tindakan mereka sehari-hari. 

Jika anak sering menerima kritik tajam di usia ini, dialog dalam diri mereka akan berubah menjadi suara yang penuh keraguan dan selalu menyalahkan diri sendiri saat menghadapi kegagalan.

5. Sekolah menjadi beban mental harian yang menguras energi

Pexels/Mikhaill Nilov

Lingkungan sekolah dasar menyajikan sebuah paket lengkap beban mental harian bagi anak dengan adanya berbagai tuntutan tugas baru yang cukup berat bagi usia mereka. 

Anak-anak diharuskan mematuhi aturan baru yang ketat, memenuhi ekspektasi akademis dari guru di kelas, dan menghadapi berbagai pemicu stres sosial dari interaksi antar-teman yang tidak selalu berjalan mulus. 

Semua tekanan berlapis ini menuntut konsentrasi penuh dan kontrol emosi yang kuat dari anak sepanjang hari sejak mereka melangkahkan kaki di pagi hari. 

Kelelahan mental yang menumpuk akibat rutinitas belajar ini sering kali membuat kapasitas emosi anak menjadi sangat tipis saat mereka pulang ke rumah.

6. Rumah menjadi tempat anak menjadi diri sendiri

Pexels/www.kaboompics.com

Setelah seharian penuh menahan diri, berpura-pura kuat, dan berusaha tampil sempurna di sekolah, rumah menjadi satu-satunya tempat aman di mana semua tekanan emosional anak akhirnya bisa runtuh seutuhnya. 

Kondisi inilah yang menjadi alasan utama mengapa Mama sering kali melihat anak tiba-tiba meledak marah, mengalami meltdown, atau menunjukkan kemunduran sikap seperti anak kecil lagi saat tiba di rumah. 

Di hadapan Mama, mereka merasa tidak perlu lagi menyembunyikan rasa lelah atau kecemasan mereka karena mereka tahu rumah adalah tempat di mana mereka akan selalu diterima apa adanya. 

Oleh karena itu, jangan langsung memarahi sikap rewel mereka sepulang sekolah karena itu adalah cara mereka melepaskan stres harian.

7. Fase yang penuh kontradiksi antara mandiri dan manja

Pexels/cottonbro studio

Dunia anak usia sekolah ini dipenuhi oleh kontradiksi sikap yang sangat membingungkan Mama di rumah jika tidak dipahami dengan ilmu pengasuhan yang tepat. 

Mereka bisa menghabiskan waktu seharian dengan bersikap sok dewasa dan seolah-olah Mama adalah sosok yang sangat mengganggu kebebasan mereka, bahkan menolak dibantu dengan alasan bisa melakukannya sendiri. 

Namun, begitu waktu tidur malam tiba dan suasana menjadi tenang, pertahanan ego mereka akan runtuh dan mereka tiba-tiba akan meringkuk di samping Mama untuk meminta pelukan hangat. 

Menghadapi anak yang berada di usia transisi ini memang membutuhkan kepekaan ekstra untuk membaca pesan yang tersirat di balik perubahan sikap mereka ya, Ma.

Dengan memberikan validasi tanpa penghakiman, kita membantu anak melewati masa-masa membingungkan ini dengan perasaan dicintai seutuhnya.

Sudahkah Mama memberikan pelukan hangat yang menenangkan untuk anak sebelum mereka tidur malam ini, Ma?

Editorial Team

Related Article