Murid SD Meninggal Setelah Diduga Dibully Kakak Kelas di Pemalang

MHAQ, murid kelas 2 SD berusia 7 tahun di Pemalang, diduga dipalak dan dipukuli tiga kakak kelas saat jam istirahat hingga mengalami lebam dan mimisan.
Korban baru menceritakan dugaan kekerasan setelah diperiksa dokter; kondisinya memburuk dengan sakit perut, muntah, BAB berdarah, dan sempat menjalani sembilan hari perawatan intensif.
MHAQ meninggal saat akan dibawa ke rumah sakit setelah kondisinya kembali memburuk; jenazah diautopsi dan keluarga meminta polisi mengusut kasus secara transparan.
Dunia pendidikan kembali berduka atas kasus perundungan yang melibatkan anak-anak di bawah umur.
Seorang murid kelas 2 SD berinisial MHAQ di Pemalang harus mengalami takdir tragis setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh kakak kelasnya.
Peristiwa memilukan ini mengundang perhatian serius dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya para orangtua.
Kasus ini bermula ketika korban yang masih berusia 7 tahun mengeluhkan sakit perut yang hebat usai pulang sekolah.
Mengingat usia korban yang masih sangat belia, tentu kenyataan pahit ini meninggalkan luka yang amat mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Berikut rangkuman di Popmama.com terkait fakta kronologi murid SD meninggal setelah diduga dibully kakak kelas di Pemalang.
1. Kronologi awal

Instagram.com/tegalhariini_ Peristiwa ini bermula ketika korban, MHAQ, sedang jajan pada jam istirahat bersama teman-temannya di sekolah.
Tiba-tiba, datanglah tiga orang kakak kelas yang terdiri dari dua siswa kelas 5 dan satu siswa kelas 6 menghampiri korban dan temannya.
Diketahui MHAQ langsung dipalak dan dipukuli oleh para pelaku hingga membuat temannya lari karena ketakutan.
Akibat aksi kekerasan tersebut, korban mengalami lebam biru hingga mimisan sebelum akhirnya pulang ke rumah dalam kondisi kesakitan.
2. Perjuangan korban melawan rasa sakit

Instagram.com/bndct.id Awalnya, MHAQ memilih untuk menyembunyikan kejadian ini dari orangtuanya.
Ibunda korban, Diah Indriyanti (36), mengungkapkan bahwa anaknya baru mau menceritakan kejadian yang sebenarnya setelah diperiksa oleh dokter.
Korban mengaku bahwa dirinya telah ditendang menggunakan sepatu serta dipukul di bagian perut oleh para kakak kelasnya.
Korban dikenal sebagai sosok pendiam sehingga tidak menceritakan hal ini bahkan setelah kejadian pertamanya.
Namun, setelah beberapa hari, kondisi kesehatan korban semakin memburuk.
Diketahui ia mengalami sakit perut, muntah-muntah, tidak nafsu makan, kesulitan buang air besar, hingga mengalami BAB berdarah.
MHAQ juga diketahui melalui 9 hari perawatan intensif di RSUD dr M Ashari, Kabupaten Pemalang.
Ia sempat diperbolehkan untuk pulang ke rumah, namun beberapa hari setelahnya, kondisi ia kembali memburuk dan meninggal dunia saat akan dibawa ke rumah sakit.
3. Harapan keluarga dan langkah hukum

Instagram.com/pemalang.update Jenazah MHAQ akhirnya dimakamkan pada Rabu sore, 30 September 2026, setelah berjuang melawan sakit akibat perundungan tersebut.
Saat ini, pihak keluarga sangat berharap agar pihak kepolisian dapat segera mengusut tuntas kasus kekerasan ini secara transparan.
Jenazah korban juga telah diautopsi di RSUD dr M Ashari Pemalang guna mengetahui penyebab pasti kematiannya secara medis.
Tragedi yang merenggut nyawa MHAQ ini menjadi pengingat keras bagi kita semua mengenai pentingnya mengawasi interaksi anak di lingkungan sekolah.
Perundungan dalam bentuk apa pun tidak boleh diberi ruang toleransi agar tidak ada lagi nyawa anak tak berdosa yang melayang sia-sia.
Itu dia fakta kronologi murid SD meninggal setelah diduga dibully kakak kelas di Pemalang.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keadilan bagi almarhum MHAQ dapat segera ditegakkan oleh pihak berwenang.
Mari kita jadikan kasus ini sebagai momentum untuk lebih peduli terhadap keselamatan anak-anak Mama dan Papa baik di rumah maupun di sekolah.





















