Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Dijauhi Teman? Waspadai Bullying Relasional pada Anak

Anak Dijauhi Teman? Waspadai Bullying Relasional pada Anak
Pexels/RDNE Stock project
  • Pengucilan sosial berulang di sekolah dapat menjadi bullying relasional, ditandai kesengajaan, pola berulang, dan ketimpangan kuasa untuk merusak hubungan anak dengan kelompoknya.
  • Tanda yang perlu diperhatikan meliputi isolasi, bisikan, rumor, tidak diajak grup atau bermain, serta keluhan pusing, mual, sakit perut, dan murung menjelang sekolah.
  • Orangtua disarankan bertanya spesifik, memvalidasi emosi anak, berkoordinasi dengan wali kelas, dan berkonsultasi kepada psikolog bila gejala berulang atau anak menarik diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendengar anak pulang sekolah dengan raut wajah murung sambil berbisik lirih "Aku nggak punya teman di sekolah," tentu membuat hati Mama terenyuh.

Mama, memasuki jenjang sekolah dasar anak memang berada di fase peralihan. Ia sudah mulai meninggalkan kepolosan masa TK dan belajar membaca dinamika sosial yang lebih kompleks, seperti membentuk kelompok main atau bahasa gaulnya circle-nya sendiri.

​Meski begitu, Mama tetap perlu tanggap bila situasi dijauhi teman ini terjadi secara berulang ya. Karena ada tembok tipis yang membatasi antara drama anak dan pengucilan sosial, Ma.

Pengucilan bukan sekadar "drama perselisihan anak-anak", melainkan bentuk bullying relasional.

Mama, bentuk bullying emosional ini seringkali luput dari pengawasan karena tak meninggalkan memar fisik pada tubuh anak. Namun, dampaknya sama seperti bullying fisik pada mental anak, Ma.

Sebab bila pengucilan ini dibiarkan, dapat mengganggu kesehatan mental hingga menurunkan fokus belajarnya. Supaya Mama dapat mengetahui lebih awal bentuk bullying relasional pada anak, berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya

  1. Drama Pertemanan Anak SD

    Drama perselisihan anak dan batas tipis dengan Bullying relasional pada anak
    Pexels/RDNE Stock project

    Saat anak mulai memasuki usia sekolah, lingkungan sosialnya mengalami pergeseran yang cukup besar, Ma.

    Anak tidak lagi sekadar bermain secara acak dengan siapa saja seperti saat di taman kanak-kanak, melainkan mulai belajar membangun kelompok teman sebaya (peer group).

    Pada fase transisi ini, kepolosan anak mulai berbenturan dengan dinamika sosial baru. Anak-anak mulai mengembangkan preferensi emosional, seperti memilih teman yang dinilai cocok, menyukai kawan yang sefrekuensi, hingga membentuk kelompok main (circle). Momen adaptasi inilah yang seringkali memicu "drama" perselisihan awal antar-anak di sekolah.

    Mama perlu memahami bahwa hadirnya letupan dinamika ini sebenarnya adalah bagian alami dari proses perkembangan sosial anak.

    Jadi sebenarnya wajar saja jika anak mulai mengembangkan preferensi emosional. Namun, jangan dibiarkan juga ya, Ma.

    Kepekaan Mama tetap dibutuhkan, lho. Apalagi untuk memperhatikan apakah interaksi tersebut masih sebatas penyesuaian diri atau sudah mengarah pada tindakan mengucilkan teman.

  2. Membedakan Pertengkaran Biasa dan Bullying Relasional

    Anak mengalami Bullying relasional dilakukan oleh circle di kelasnya
    Pexels/Mikhail Nilov

    Sebelum panik, Mama perlu jeli membedakan antara konflik antar-anak yang wajar dan bentuk perundungan.

    Mama, pertengkaran biasa umumnya terjadi secara spontan. Biasanya dipicu hal sepele seperti berebut mainan, beda pendapat saat bermain, yang akan mereda dan membaik dalam waktu singkat.

    ​Sebaliknya, pengucilan sosial memiliki pola yang sangat berbeda. Melansir dari buku Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice terbitan National Academies Sciences Engineering Medicine, bullying relasional (relational bullying) ditandai dengan adanya unsur kesengajaan yang berulang serta ketimpangan relasi kuasa untuk merusak hubungan sosial dan mengisolasi anak dari kelompoknya.

    ​Tindakan seperti mengajak teman lain untuk "jangan berteman dengannya" secara konsisten adalah sinyal kuat bahwa anak bukan lagi sekadar terlibat perselisihan biasa, melainkan sedang menjadi sasaran bullying emosional.

  3. Mengenali Tanda-Tanda Bullying Relasional

    Tanda-tanda anak mengalami Bullying relasional
    Pexels/Mikhail Nilov

    Bullying jenis ini sering kali lolos dari pantauan orangtua maupun guru karena tidak meninggalkan bekas fisik sama sekali.

    Berbeda dengan kekerasan fisik yang mudah dikenali dan terlihat jelas buktinya lewat luka atau memar.

    Bullying relasional pada anak bekerja secara terselubung melalui aksi mengisolasi, menjauhi, membisiki, hingga menyebarkan rumor negatif di lingkungan sekolah.

    Mengutip temuan ilmiah dalam buku Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice, anak-anak usia sekolah yang mengalami penolakan sosial atau perundungan emosional cenderung mengekspresikan tekanan emosionalnya melalui gejala psikosomatik.

    Karena anak usia 6-9 tahun ini belum mahir mengurai rasa tertekan secara verbal, stres tersebut sering beralih menjadi keluhan fisik mendadak. Keluhan seperti pusing, mual, atau sakit perut di pagi hari setiap kali hendak berangkat sekolah.

    Jika anak mendadak sering beralasan sakit di hari-hari tertentu atau pulang sekolah dengan wajah murung tanpa mau menceritakan jam istirahatnya, Mama perlu memperhatikannya lebih dalam ya!

  4. Pengaruh Digital yang Memperluas Pengucilan

    Bullying relasional di media digital
    Pexels/Ron Lach

    Mama, di era modern ini, aksi pengucilan tidak lagi berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi. Dengan semakin akrabnya anak usia ini terhadap gadget, bullying relasional dapat meluas dengan cepat ke ranah digital atau yang sering disebut dengan cyber-exclusion.

    ​Si Anak mungkin sengaja tidak dimasukkan ke dalam grup percakapan teman sekelas, dilewati dari rencana playdate yang dibahas di grup chat, atau bahkan sengaja dikeluarkan dari kelompok saat sedang bermain game online bersama.

    ​Bagi anak-anak yang masih belajar memahami penerimaan sosial, eksklusi digital ini terasa sama menyakitkannya dengan dijauhi secara langsung di lapangan sekolah, Ma.

    Alhasil akibat pengaruh digita tersebut membuat ruang aman anak di rumah ikut terganggu. Sehingga rasa terasing yang dialami anak menjadi semakin dalam dan berkepanjangan.

  5. Dampak Buruk Pengucilan jika Dibiarkan Tanpa Penanganan

    Dampak Bullying relasional pada anak
    Pexels/Mikhail Nilov

    Jangan menganggap sepele saat anak mulai sering mengeluh tidak punya teman di sekolah. Berdasarkan buku Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice, dampak kesehatan emosional akibat perundungan relasional sama seriusnya dengan dampak dari kekerasan fisik.

    ​Penolakan sosial secara terus-menerus dapat mengikis rasa percaya diri anak dan memicu rasa cemas yang tinggi saat berinteraksi.

    Dalam jangka panjang, anak yang merasa terasing di sekolah akan kehilangan motivasi belajar, yang berdampak langsung pada penurunan prestasi akademiknya.

    Jika situasi ini dibiarkan tanpa adanya intervensi dari orang tua dan pihak sekolah, anak berisiko mengalami kecemasan sosial kronis hingga gejala depresi sejak usia dini.

  6. Langkah Tepat Orangtua Mulai dari Rumah hingga Sekolah

    Slogan No Bullying in School
    Pexels/RDNE Stock project

    Menghadapi anak yang sedang mengalami pengucilan membutuhkan pendekatan yang tenang dan terstruktur, Ma. Menurut panduan intervensi dalam buku Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice, penanganan bullying yang efektif membutuhkan kolaborasi aktif antara lingkungan keluarga di rumah dan pihak sekolah.

    ​Mama bisa mengambil langkah penanganan bertahap berikut:

    • Ubah teknik bertanya di rumah. Pertanyaan spesifik memudahkan anak menceritakan dinamika sosialnya secara jujur. Misalnya "Tadi pas jam istirahat kamu makan dan main sama siapa?"
    • Validasi emosi anak. Dengarkan keluh kesahnya dengan penuh empati dan tawarkan pelukan hangat.
    • Koordinasi dengan wali kelas. Sejalan dengan rekomendasi penelitian NCBI, penanganan pengucilan memerlukan keterlibatan aktif dari guru. Jika situasi berlangsung lama, segera jadwalkan diskusi dengan wali kelas untuk membantu mengamati interaksi anak saat jam istirahat, penataan tempat duduk, serta pembentukan kelompok belajar di kelas.
    • Konsultasi dengan ahli. Apabila anak menunjukkan gejala psikosomatik yang berulang atau mendadak bungkam total dan menarik diri, jangan ragu membawa anak berkonsultasi dengan psikolog anak guna memulihkan kesehatan emosionalnya.

    Nah, bila Mama mengenali sinyal awal bullying relasional dan mengambil langkah penanganan yang tepat, bisa lebih cepat memulihkan rasa percaya diri serta kesehatan emosional anak ya. Apakah anak pernah menceritakan pengalamannya saat merasa dikucilkan di sekolah?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More