Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waspada! Ini 5 Permainan yang Tidak Aman untuk Anak SD
Pexels/Kampus Production
  • Orangtua perlu membekali anak SD dengan pemahaman batas tubuh dan ruang privat, termasuk menolak tidur-tiduran di tempat umum serta permainan dokter-dokteran yang melibatkan sentuhan tubuh.
  • Anak perlu dilatih menghadapi tekanan teman dan ajakan berbahaya, seperti challenge nekat atau prank yang berisiko melukai, mempermalukan, menakutkan, maupun membuat teman menangis.
  • Aturan tanpa rahasia perlu diterapkan agar anak berani menolak, menjauh, dan melapor kepada orang dewasa tepercaya bila ada ajakan atau ancaman yang membuatnya tidak nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki usia sekolah, anak-anak mulai menikmati kebebasan beraktivitas dan eksplorasi di luar rumah bersama teman-teman sebaya.

Di fase ini, dorongan untuk bersosialisasi dan mencoba hal baru sangatlah tinggi. Namun, di balik serunya dunia bermain anak, ada batasan yang wajib mereka pahami.

​Sering kali, bahaya tidak datang dari bentuk kejahatan secara eksplisit, melainkan berkedok aktivitas bermain yang terkesan sepele.

Oleh karenanya, membebaskan anak bermain di luar rumah harus diimbangi dengan pemahaman body safety serta batasan tubuh yang jelas. Berikut sudah Popmama.com rangkum 5 permainan yang tidak aman untuk anak.

1. Permainan tidur-tiduran di luar rumah

Pexels/olia danilevich

Mama bila anak bermain tidur-tiduran di tempat umum bersama temannya, sebaiknya hindari ya. Karena hal ini sudah termasuk ke dalam aktivitas yang wajib dilarang anak saat berada di luar rumah.

Mama mungkin bertanya-tanya mengapa sampai dilarang. Jadi gini, Ma tempat umum atau area bermain luar rumah adalah ruang publik.

Bermain tidur-tiduran di tempat terbuka tidak hanya kurang higienis, tetapi juga mengikis pemahaman anak mengenai batasan ruang privat dan area umum.

Tidur adalah aktivitas privat yang hanya dilakukan di dalam rumah. Anak harus diajarkan untuk membedakan mana perilaku yang pantas dilakukan di ruang publik dan mana yang berada di ruang privat.

Menurut Christine Snyder, pakar pendidikan anak,pemahaman tentang otonomi tubuh harus ditanamkan sejak dini. Anak perlu paham bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri dan mereka berhak menetapkan batasan.

Untuk itu, Mama bisa tanamkan ketegasan pada anak untuk menolak ajakan bermain tiduran di tempat umum.

Jika ada orang lain yang mengajak, anak mama harus berani berkata "Tidak mau!", segera pergi menjauh, dan melapor kepada orangtua.

2. Main dokter-dokteran yang menyentuh tubuh

Pexels/Polesie Toys

Permainan pura-pura seperti "main dokter-dokteran" memang terkesan lumrah dimainkan oleh anak usia sekolah, ya. Namun, jika permainan ini sudah mulai melibatkan sentuhan fisik pada tubuh, orangtua wajib memberikan perhatian ekstra.

Tanpa pengawasan orang dewasa, permainan semacam ini rentan melanggar batasan tubuh dan berisiko mengarah pada tindakan perundungan hingga kekerasan seksual.

Belum lagi di usia sekolah (6-9 tahun) anak-anak mulai memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang tubuh mereka. Dalam panduan edukasi Body Safety, Mama disarankan untuk:

  • Ajarkan anak membedakan sentuhan. Hindari sebutan "sentuhan baik/buruk", tapi gunakan istilah sentuhan aman dan sentuhan tidak aman.

  • ​Menyebutkan organ intim dengan nama yang benar, tanpa nama samaran atau julukan. Ini penting supaya anak bisa melapor jika menerima sentuhan yang tidak aman.

  • ​Tegaskan bahwa tidak ada orang lain yang boleh menyentuh organ privat anak. Berikan penjelasan juga bahwa anak pun tidak boleh menyentuh organ privat orang lain.

  • Tanamkan pada anak bahwa mereka berhak berkata TIDAK terhadap segala bentuk sentuhan yang membuat ia tidak nyaman.

3. Challenge adu berani

Pexels/Ranit Das

Apa saat ini anak mama lebih mempercayai temannya dibandingkan Mama? Hal itu wajar, lho, Ma.

Anak usia sekolah mulai menaruh perhatian besar pada lingkungan pertemanannya. Di fase ini, dorongan untuk diterima dalam kelompok sangatlah kuat.

Sayangnya, ada beberapa anak yang kerap memanfaatkan itu untuk melakukan tantangan berbahaya, seperti menantang melompat dari ketinggian atau melakukan tindakan nekat lainnya.

Anak-anak seringkali menyerah pada tekanan teman ini karena takut diejek "penakut" atau disingkirkan dari pergaulan. Menghadapi hal ini, orangtua perlu membantu anak memahami bahwa berani tidak sama dengan nekat.

Justru saat menolak tantangan yang membahayakan fisik merupakan bentuk keberanian dan ketegasan yang sesungguhnya. Mama juga bisa melatih anak cara berkata TIDAK secara tegas dan percaya diri.

Ajarkan ia untuk segera mengambil tindakan perlindungan diri seperti menolak ajakan berbahaya, lari menjauh dari lokasi, dan langsung melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.

Setelah itu, dorong anak untuk mencari teman bermain yang memiliki nilai keselamatan yang sama. Supaya kehidupan sosialisasinya lebih positif.

4. Permainan rahasia-rahasiaan

Pexels/Ron Lach

Bila anak bermain rahasia-rahasiaan, dengan orang lain di luar rumah yang disertai kalimat "Jangan bilang Papa dan Mama ya". Harus diwaspadai ya!

Hal ini merupakan salah satu sinyal bahaya paling krusial yang wajib diwaspadai.

Kalimat berkedok rahasia ini sering kali dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk memanipulasi hingga mengintimidasi anak, lho. Tentunya dilakukan agar anak merasa cemas dan tidak berani melapor.

Untuk membentengi anak mama, rasanya perlu menerapkan aturan "No Secrets Rule" secara konsisten, nih. Berikut aturannya:

  • Tanamkan pemahaman pada anak bahwa tidak boleh ada rahasia apa pun dalam keluarga.

  • Ajarkan anak untuk tidak memercayai ancaman siapa pun.

  • Tekankan pada anak bahwa ia tidak akan pernah dimarahi saat memberitahukan rahasia yang membuat anak merasa tidak nyaman.

Mama sebaiknya ​aturan tanpa rahasia ini juga diajarkan kepada kerabat dekat atau keluarga besar. Selain itu, tentukan 5 orang dewasa tepercaya yang siap mendengarkan, melindungi, dan mendukung anak kapan saja tanpa penghakiman.

5. Candaan berlebihan (prank)

Pexels/Kampus Production

​Di tengah maraknya tren di media sosial, permainan berbentuk prank sering ditiru oleh anak-anak usia sekolah.

Bentuknya pun sangat bervariasi, mulai dari tindakan fisik yang berisiko cedera seperti menarik kursi saat teman hendak duduk hingga mengerjai sampai teman menangis atau kebingungan.

Melansir dari berbagai sumber, ​secara perkembangan kognitif, anak usia 6–9 tahun sebenarnya belum memiliki pemikiran kritis yang matang untuk memahami batasan bahaya di balik sebuah candaan.

Menurut para pakar psikologi dan keselamatan anak, aksi prank yang menyakiti fisik atau mempermalukan orang lain dapat merusak kepercayaan antar sesama teman, serta tergolong sebagai tindakan perundungan (bullying).

Para ahli menegaskan bahwa sebuah permainan atau candaan baru bisa dikatakan sehat jika mendatangkan kegembiraan, Ma. Bukan dengan mengorbankan rasa aman, harga diri, atau keselamatan orang lain.

​Mama dapat tanamkan rasa empati pada si Anak dengan mengajarkan batasan jelas, seperti,

"Jika suatu permainan membuat orang lain sakit, takut, atau menangis, itu bukan lagi candaan, melainkan bahaya."

Ajak ia untuk berani menolak jika diajak melakukan prank fisik kepada teman. Mintalah anak untuk melapor kepada guru atau orangtua jika melihat ada teman yang menjadi korban candaan yang berlebihan.

Mengajarkan anak mengenai permainan yang tidak aman di luar rumah bukan berarti membatasi ruang geraknya, Ma. Justru, membekali anak dengan pemahaman body safety adalah benteng terbaik agar ia tetap aman, percaya diri, dan terlindungi di mana pun berada. Semoga artikel ini bermanfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article